Sabtu, 24 Juli 2021

Gadis Itu, Ibu dari Ayahnya

almadinainstitute.org

PADA masa awal kenabian, setelah turun perintah untuk menyampaikan dakwah secara terbuka, Nabi Muhammad naik ke bukit Shafa dan  menyeru, “Wahai sekalian manusia, aku adalah utusan Allah, Tuhan semesta alam.” Orang-orang pun segera memandang ke arahnya. Nabi mengulang kalimat tersebut sampai tiga kali.

Setelah itu Nabi pergi ke bukit Marwah, lalu menyeru hal yang sama dengan suara keras. Seorang tokoh Quraisy, Abu Jahal, dengan sorot mata tidak senang memperhatikan apa yang dilakukan Nabi. Lalu dia mengambil batu dan melemparkannya tepat mengenai kepala Nabi, hingga kedua mata beliau terluka.

Perbuatan Abu Jahal diikuti yang lainnya. Mereka ramai-ramai melempari Rasulullah dan menghinanya. Nabi pun lari ke gunung dan bersembunyi. Insinden itu memunculkan kabar lain. “Wahai Ali, Muhammad terbunuh,” ujar seseorang kepada Ali bin Abi Thalib, keponakan Nabi.  Ali bergegas mengabari Khadijah dan menceritakan kabar tersebut.

Mereka berangkat ke gunung yang diduga menjadi tempat persembunyian Nabi, dan berulang kali memanggil namanya. Akhirnya Khadijah menemukan suaminya dengan darah yang mengalir dari wajahnya. Ketiganya kemudian menuruni bukit, pulang ke rumah untuk mengobati luka-luka yang diderita Nabi.

Namun saat Khadijah tengah membersihkan wajah Nabi, mengobati lukanya, sejumlah orang terus melempari  rumahnya dengan batu. Pelemparan itu baru berhenti setelah perempuann tersebut berteriak menghardik mereka. Penganiayaan terhadap Nabi bukan sekali dua kali terjadi. Khadijah menjadi saksi dan selalu setia mendampingi.

Peran Fatimah

Beberapa tahun kemudian setelah Khadijah wafat, perannya digantikan seorang gadis kecil bernama Fatimah Azzahra, anak bungsu Nabi. Dua saudara lelakinya meninggal dunia ketika masih kanak-kanak. Tiga saudara perempuannya sudah menikah dan mengikuti suami mereka. Fatimah kecil menjadi saksi beratnya perjuangan sang ayah dalam menyerbarkan Islam.

Suatu ketika ayahnya berdiri di tengah kerumunan orang. Berbicara dengan lembut, menyampaikan kabar kebenaran. Namun yang diterima Nabi adalah olok-olok dan tindakan kasar. Pada kali yang lain, ketika Nabi memasuki Masjidil Haram, sekelompok orang memaki dan memukulinya. Gadis kecil itulah yang mengobati luka-luka di tubuh ayahnya.

Pada waktu yang lain, ketika Nabi sedang bersujud di masjid, musuh-musuhnya datang dan melemparinya dengan isi perut kambing. Fatimah berlari mendekati ayahnya. Dia memunguti isi perut hewan itu dan membuangnya. Tangan-tangan kecilnya yang lembut, penuh kasih membersihkan kepala dan wajah sang ayah.

Perhatian Fatimah kepada ayahnya memang unik, bagaikan perhatian seorang ibu kepada anaknya. Dialah yang menyediakan keperluan Nabi ketika harus menjalankan tugas dakwahnya. Dia pula yang menghibur Nabi saat pulang ke rumah dalam kondisi lelah. Karena itulah , Fatimah mendapat julukan Ummu Abiha, Ibu dari Ayahnya. (Enton Supriyatna Sind)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: