Minggu, 7 Maret 2021

Endang Karmas, Perobek Bendera Belanda

Endang Karmas. Foto: Dokumentasi keluarga.

SEBUAH keributan terjadi di Gedung DENIS (kini Bank BJBN Jln. Braga Kota Bandung). Insiden yang diperkirakan berlangsung bulam September-Oktober 1945 itu, dipicu tindakan sejumlah orang Belanda yang mengibarkan bendera merah putih biru di puncak gedung tersebut. Perbuatan itu memancing reaksi dari masyarakat yang sedang berada dalam euforia kemerdekaan. Mereka berteriak-teriak penuh kemarahan.

Kemudian, sekumpulan pemuda pejuang merangsek masuk ke Gedung DENIS. Perkelahian tidak dapat dihindarkan antara para pejuang dengan tentara Belanda dan tentara Jepang. Orang-orang Jepang berada di tempat tersebut karena diminta pihak Belanda. Hubungan kedua penjajah tersebut saling memanfaatkan.

Di tengah keributan itulah, seorang remaja bernama Endang Karmas datang dan menerobos kerumunan. Dia berinisiatif naik ke menara DENIS dengan tujuan menurunkan merah putih biru dan diganti dengan merah putih saja. Endang naik terus sampai ke atap gedung. Ternyata di sana sudah ada orang lain juga, mereka menunjuk-nunjuk ke arah tiang bendera di atas menara.

Endang dengan cepat memanjat menara. Di sisi lain sudah ada Mulyono yang juga sedang menuju tiang bendera. Di puncak menara kedua anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR) berdiam sejenak. Tidak ada lagi jalan naik. Hanya ada kabel besi yang harus ditarik agar bendera bisa diraih. Berulang kali dicoba, namun gagal.

Ketika sedang berusaha meraih bendera, terdengar suara-suara tembakan dan desingan peluru. Ternyata tentara Belanda memuntahkan amunisi senapannya dari arah Hotel Homann ke menara. Mereka panik dan hanya bisa merunduk. Pada sebuah kesempatan, Endang Karmas berhasil meraih ujung bendera dan meminta Mulyono memeganginya.

Dengan bayonet, Endang mencabik-cabik bagian biru bendera itu. Sedapat mungkin merobeknya. Ternyata sulit dan tidak semua kain warna birunya benar-benar habis. Masih tersisa sedikit. Namun demikian, mereka berhasil menjadikannya bendera merah putih, yang dengan gagahnya berkibar di atas menara Gedung DENIS.

Sebuah lukisan

Keberhasilan keduanya melakukan tindakan heroik itu, disambut teriakan “merdeka” berulang-ulang dari warga yang berada di sekitar gedung. Rasa ngeri karena terancam peluru tajam dari arah Hotel Homann sirna seketika, saat teriakan khas itu bergema. Orang-orang Belanda dan Jepang tampak dongkol karenanya. Mereka tidak berani bertindak lebih jauh.

Dalam buku Saya Pilih Mengungsi karya Ratnayu Sitaresmi dkk, termuat pengakuan Endang Karmas pada tahun 1997 seputar insiden perobekan bendera Belanda itu. Endang Karmas sendiri mencatat kejadian tersebut dalam buku Sekilas Sejarah Peristiwa Perjuangan Bandung Lautan Api, yang disusun bersama sejumlah rekan seperjuangannya.

Piagam penghargaan untuk Endang Karmas. Dokumen keluarga.

Pada buku Sejarah Perjoangan Batalyon I Resimen VIII Div III Siliwangi, terdapat sebuah lukisan yang menggambarkan insiden perobekan bendera Belanda di Gedung DENIS. Tampak tiga pejuang merobek-robek dan menginjak-injak bendera merah putih biru di halaman gedung, dua pejuang berdiri di puncak menara tempat merah putih berkibar dan dua lagi berdiri di kedua sisi menara. Tidak jelas, siapa yang membuat lukisan tersebut.

Keterangan gambarnya menyebutkan, peristiwa Gedung DENIS diselingi pertempuran sengit. Pada September 1945, para pemuda bekas Peta (Pembela Tanah Air) dan Heiho merobek-robek bendera Belanda di atas tiang Gedung DENIS lalu diganti dengan bendera merah putih. Sementara lima pemuda yang melakukan tindakan itu adalah Endang Karmas yang memanjat ke atas; Djuwah yang mengawal; Mulyono yang mengawal; Husein Wangsaatmadja; dan Rahayu.

Setelah Yamato

Tindakan dua remaja tersebut mengibarkan bendera merah putih, mengingatkan kembali pada peristiwa serupa yang terjadi di Hotel Yamato, Surabaya. Seperti diketahui insiden di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit Surabaya) adalah peristiwa perobekan bendera Belanda (merah-putih-biru) menjadi bendera merah putih pada tanggal 18 September 1945. Peristiwa itu didahului oleh gagalnya perundingan antara Sudirman (Residen Surabaya) dan Mr. W.V.Ch Ploegman untuk menurunkan bendera Belanda.

Para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Merobek bagian birunya, dan mengerek merah putih ke puncak tiang kembali.

Sejumlah sumber tertulis memang menyajikan keterangan tentang peristiwa pengibaran bendera di menara DENIS secara berbeda-beda. Baik pelaku maupun waktu kejadiannya. Jika informasi-informasi yang sampai kepada kita itu benar adanya, maka tidaklah menjadikannya saling bertolak belakang. Justru saling melengkapi satu sama lain dan menggambarkan dinamika yang terjadi di masa itu. Untuk mengibarkan bendera kebangsaan Indonesia saja, harus melalui perjuangan yang tidak mudah.

Dari sejumlah peristiwa tersebut, satu hal yang menarik adalah betapa Gedung DENIS menjadi salah satu lokasi favorit bagi berbagai pihak yang berlawanan, untuk menunjukkan harga diri mereka. Pihak Jepang, Belanda, dan Indonesia sama-sama ingin menguasai gedung tersebut dalam konteks untuk membela kehormatan masing-masing. Kibaran bendera di menara yang menjulang menjadi simbol kemenangan.

Boleh jadi kebanyakan masyarakat -khususnya di Bandung- tidak mengetahui peristiwa heroik ini. Sebab tidak tercatat dalam buku sejarah, tidak dikabarkan di sekolah-sekolah. Namun, pahlawan tetaplah pahlawan. Selamat memperingati Hari Pahlawan 10 November.  (Sup/disarikan dari buku Merah Putih di Gedung DENIS)***

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: