Minggu, 25 Juli 2021

Misteri Mohamad Ramdan, Gugur atau….?

Tugu Mohamad Toha di Deyeuhkolot Kabupaten Bandung.

ANDA tahu Jalan Mohamad Ramdan di Kota Bandung? Itu jalan yang cukup terkenal. Di ujung selatannya ditandai dengan patung ikan, dan bersambung ke Jln. BKR yang memanjang dari barat ke timur. Mohamad Ramdan adalah rekan Mohamad Toha, yang berjuang di front Bandung Selatan pada masa revolusi setelah kemerdekaan.

Menurut kisah yang selama ini beredar, Ramdan gugur sebelum Toha berhasil meledakkan gudang mesiu Belanda di Dayeuhkolot Kabupaten Bandung pada 11 Juli 1946. Tapi ada versi lain yang menyebutkan Ramdan tidak gugur dan masih hidup hingga 1955.

Karim DP, wartawan perang masa itu, menulis,  pada10 Juli 1946 sekitar pukul 21.45 malam, tiga barisan perjuangan rakyat bersenjata mendapat perintah dari pimpinan Majelis Pusat Perjuangan Priangan (MP3) untuk menyerang pertahanan Belanda di Dayeuhkolot.

Ketiga kelompok yang ditugaskan itu adalah Barisan Banteng RI, yang terdiri dari   Toha, Djodjon, Suntama, Udju, dan Mu’in. Kemudian  Barisan Pangeran Papak beranggotakan  Achmad Memed dan Wahri. Sedangkan Hizbullah terdiri dari Ramdan, Watra, dan Idas.

Regu yang dipimpin Toha bergerak pada pukul 22.30 untuk menyeberangi Citarum, dengan sasaran pertama gedung listrik di Dayeuhkolot. Namun setelah menyeberangi Citarum, sebuah ranjau darat terinjak dan meledak disusul tembakan dari pasukan Belanda. Ramdan gugur seketika terkena tembakan, Sementara Toha terkena bagian pahanya.

Kemudian Toha memerintahkan kepada seluruh anggota pasukannya supaya mundur dan kembali ke selatan Citarum sambil membawa mayat Ramdan. Dia bertekad menyelesaikan misinya sendirian untuk menghancurkan gudang mesiu.

Pada tanggal 11 Juli 1946 sekira jam 12.30 tengah hari,  meledaklah gudang mesiu Belanda itu. Suara dentuman menggeleter di angkasa yang disertai dengan kepulan asap tebal kehitaman.

Tidak gugur

Akan tetapi sejarawan Unpad, Prof, Dr. Nina Herlina punya versi lain tentang Ramdan. Untuk mengusulkannya menjadi pahlawan ke pusat juga mengalami kesulitan. Karena tidak ada keluarga atau kerabatnya yang bisa dihubungi untuk memperjelas sosoknya.

Selain itu, ada keterangan lain yang menyebutkan, sebenarnya Ramdan tidak gugur dalam ledakan ranjau itu. Dia bersama rekannya yang lain mundur lagi dan setelah itu tidak diketahui keberadannya.

Ketika sedang mencari tahu tentang Ramdan itulah, Nina bertemu dengan Kyai Hasbullah di rumahnya di kawasan Dago pada 2007. Habusllah adalah tetangga Ramdan ketika mereka tinggal di Banjaran, Kab. Bandung, pada masa lalu. Dengan demikian dia tahu betul ihwal pria tersebut.

Dia menuturkan, setelah peristiwa peledakan gudang mesiu itu memang ada kabar Ramdan gugur. Namun yang mengagetkan, pada tahun 1955 atau sembilan tahun setelah kejadian itu, Ramdan muncul dan bertemu dengan Hasbullah di Banjaran.

“Saya melihat dengan mata kepala sendiri, itu Ramdan. Tak mungkin saya salah. Saya tahu persis, karena memang tetangga saya. Tapi setelah itu tidak ada kabar lagi,” ujar Hasbullah seperti ditirukan Nina, saat berbicara dalam seminar tentang Mohamad Toha dan Mohamad Ramdan yang digelar Majalah Mangle, beberapa waktu lalu di Bandung. Wallahu ‘alam. (Enton Supriyatna Sind)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: