Jumat, 22 Oktober 2021

Dewi Sartika: Mulanya Dianggap Pembawa Sial (1)

Raden Dewi Sartika

NAMA Dewi Sartika dikenal luas sebagai salah seorang pejuang di bidang pendidikan, terutama untuk kaum pe­rempuan. Namun, tidak banyak yang tahu, menak Sunda yang lahir di Cicalengka tanggal 4 Desember 1884 itu meninggalkan jejak tertulis berupa sebuah buku. Buku yang naskah aslinya disimpan di Belanda itu beredar di kalangan yang sangat terbatas. Untuk memperingati kelahirannya, apakabar.news mengupas kandungan buku tersebut dalam tiga tulisan.

-Redaksi

BUKU dalam format digital itu tampak lusuh. Pada sampulnya tertulis ”Boekoe Kaoetamaan Istri Karangan Dewi Sartika Goeroe sakola istri di Bandoeng (Loeang piwoeroek djeung pangadjaran)”. Buku itu terdiri atas 28 halaman yang dibagi ke dalam lima bab. Meskipun setiap bab tidak memiliki judul tersendiri, benang merah tema pemikiran penulisnya terbaca cukup jelas.

Tampilannya berbeda dengan buku yang berisi korespondensi Raden Ajeng Kartini (21 April 1879-17 September 1904) dengan sejumlah orang Eropa. Dokumen milik tokoh emansipasi wanita berdarah biru asal Jepara, Jawa Tengah itu pertama dibukukan pada 1911 dengan judul Door Duisternis tot Licht.  Pada tahun 1922, buku tersebut diterbitkan oleh Balai Pustaka dan diberi judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Jika buku Kartini berisikan curahan hati, buku Dewi Sartika berisi pandangan tentang dunia pendidikan kaum perempuan yang didasari oleh pengalamannya selama tujuh tahun mengajar. ”Dina taun ieu nu ngarang geus jejeg tujuh taun lilana jadi guru ’sakola istri’ di Bandung,” ujarnya seperti tertulis di halaman 10. (Perubahan penulisan ejaan oleh penulis).

Pikiran-pikirannya itu ditulis pada Januari 1911 dan diterbitkan pada 1912 oleh penerbit AC Nix & Co Bandung. Jika sampai tahun 1911 sudah meng­ajar selama tujuh tahun, berarti Dewi Sartika memulai aktivitas mengajar di lembaga tersebut pada tahun 1904. Pada masa itu, mungkin Kartini sudah meninggal dunia atau mendekati akhir hayatnya. Secara lengkap, pada sampulnya tertulis ”Boekoe Kaoetamaan Istri Karangan Dewi Sartika Goeroe sakola istri di Bandoeng (Loeang piwoeroek djeung pangadjaran)”.

Dewi Sartika mempersembahkan buku tersebut untuk bahan bacaan anak-anak sekolah dan para orangtua mereka. Dia berbicara to the point pada persoalan yang ingin disampaikannya. Tutur bahasanya sederhana dan lugas. Dewi tahu betul bahasa Sunda yang harus digunakannya. Meskipun demikian, tampak sekali sikapnya dalam menjaga perasaan kaum menak agar tidak tersinggung.

Sesuai dengan judul bukunya, keutamaan wanita menjadi tema besar pemikiran Dewi Sartika. Menurut dia, keutamaan wanita bertumpu pada sejauh mana dia mengetahui apa yang menjadi kebutuhannya dan tahu apa yang menjadi kewajibannya.

Jumlah wanita dengan kategori demikian, kala itu masih sa­ngat langka di Tatar Sunda. ”Di mana-mana ogè geus aya, ngan lamun dibandingkeun jeung rèana cacah jiwa di Pasundan, anu kasebut utama tèh ngan saeutik kènèh pisan” (halaman 3).

Pada masa itu, pendidikan hanya milik kalangan menak. Orang-orang biasa, apalagi kaum perempuan, menjadi warga kelas dua. Dewi punya keinginan kuat agar semua orang punya kesempatan yang sama di bidang pendidikan.

Meskipun dia sadar, harapannya itu berbenturan dengan posisi sosial kalangan menak yang merasa khawatir tersaingi. Tembok penghalang itulah yang ingin didobraknya. Hal itu menunjukkan besarnya perhatian Dewi terhadap kalangan bawah.

Orang-orang kecil, kata Dewi, buta terhadap segala aturan. Kalaupun tahu, hanya dikira-kira karena mendengar selintas. Apalagi, orang-orang pelosok yang jarang sekali bergaul dengan orang kota, sangat tertinggal pengetahuannya. Tidak ada pihak yang mendidik mereka secara sungguh-sungguh. Karena tidak bisa baca tulis, mereka tidak mengetahui apa yang terjadi di luar dunianya.

Sakola Istri

Untuk mengubah kondisi tersebut, Dewi mengajak kalangan menak untuk memulainya dari lingkungan sendiri dengan mendidik para abdi (pekerja/pembantu). Dia berharap, kaum menak perempuan kompak untuk memajukan mereka.  Jika dilakukan secara serius, lambat laun para abdi akan maju pengetahuannya, keahliannya, kemauannya, juga lebih baik perilakunya. Ujung-ujungnya, kondisi itu akan menguntungkan para menak juga.

Untuk keperluan tersebut, dibutuhkan sebuah wadah yang disebut sekolah. Sementara, gurunya haruslah orang yang penuh kasih sayang, sa­tunya kata dan perbuatan, serta berakhlak baik supaya menjadi teladan bagi murid. Tapi, jika kaum menak perempuan tidak ada yang mau jadi guru, Dewi menyarankan setidaknya mereka jadi pelindung bagi kegiatan tersebut.

Dalam berbagai tulisan tentang Dewi Sartika selama ini, dikatakan bahwa tokoh ini pada tahun 1904 mendirikan sekolah untuk perempuan yang bernama ”Sakola Istri”. Namun, Dewi punya penjelasan sendiri mengenai hal itu dan tidak pernah menyatakan bahwa dirinyalah pendiri sekolah tersebut. Dia mengaku hanya sebagai guru yang sebelumnya diajak terlibat oleh seorang Belanda yang menjadi pimpinan sekolah itu.

Ari asalna pisan ngiring kana kersana Kanjeng Tuan Inspèktur sakola, C den Ha­mer, anu ayeuna geus pangsiun mulih ka nagara Walanda. Anjeuna nu mimiti ngadegkeun sakola baris barudak awèwè bangsa pribumi, nyaèta di Bandung. Sareng mupakatna Kanjeng Bupati Bandung Radèn Adipati Aria Martanagara” (halaman 10).

Sekolah tersebut dibuka pada tanggal 6 Januari 1904 dengan jumlah murid 60 orang dan 3 guru. Sementara, tempatnya di Paseban Kulon, di depan kompleks kabupaten. Pada tahun 1911, sekolah itu sudah punya tempat sendiri dengan murid berjumlah 210 orang dan 5 guru.

Dewi mengaku sangat senang ketika C den Hamer menawarinya jadi guru sekolah. Ada beberapa hal yang membuatnya begitu sukacita. Sejak lama, Dewi senang meng­ajari anak-anak berbagai keterampilan. Sementara, anak-anak juga semakin teguh hati untuk belajar karena kegiatan itu diperkuat oleh perintah penguasa.

Menjadi guru, kata Dewi, meskipun perempuan, bukanlah pekerjaan yang hina dan tidak melanggar aturan ­agama.  Soalnya, kondisi yang diharapkan, perempuan Sunda bisa maju seperti halnya orang Eropa supaya tidak dihina bangsa lain.

Di mata para pujangga, guru ditempatkan pada derajat pa­ling terhormat. Seorang guru juga kaya pengetahuan dan tiap hari terus bertambah. ­Ilmu pengetahuan akan menjadi obor yang mene­rangi kegelapan.

Meskipun demikian, menjalani profesi guru tidaklah mudah. Dalam waktu tiga sampai empat tahun, tidak henti-hentinya Dewi menjadi bahan perbincangan banyak orang dan membuat telinga panas. Antara lain dianggap pembawa sial bagi orangtua dan keluarga.

Mani asa rawing ceuli ku nu moyok, basana rupa-rupa: ngapeskeun kolot, kawas teu dibèrè teu diurus, teu pan­tes bangsa urang mah awèwè jadi guru sakola, euweuh ti ba­heulana, aya ogè guru ngaji” (halaman 12). (Enton Supriyatna Sind)***

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: