Sabtu, 15 Mei 2021

Perjuangan Pencak Silat Menuju Olimpiade

kemenpora.go.id

PENCAK silat merupakan merupakan gabungan dari kata pencak (penari) dan silat (gerak). Diartikan sebagai gerakan yang menjunjung tinggi keindahan berdasarkan pada nilai-nilai budaya luhur. Di era kini pencak silat diakui sebagai salah satu olahraga bela diri asli dari Indonesia.

Tapi melihat dari arti sebenarnya, yang dilansir dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), lebih kepada seni bela diri tradisional. Budaya ini diperkirakan menyebar di Kepulauan Nusantara pada abad ke-7 Masehi. Budaya ini juga diakui sebagai bagian dari suku Melayu, penduduk yang menempati daerah pesisir Sumater dan Semanjung Melayu.

Pengakuan pencak silat sebagai olahraga sendiri sudah sejak tahun 1550. Mengandalkan serangan dengan menggunakan teknik kekuatan dan kelincahan serta kecerdasan pikiran. Biasanya para prajurit atau pendekar-pendekar yang menguasai bela diri ini di masa kerajaan/penjajahan. Perkembangan bela diri ini lebih terorganisir sejak bersatunya berbagai aliran di Indonesia, dan membentuk Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSSI) di Surakarta pada 1948.

Gabriel Facal, antropolog sosial dari Centre de Recherches sur l’Asie du Sud-Est (CASE), Paris, dalam bukunya Keyakinan dan Kekuatan Seni Bela Diri Silat Banten menyebutkan, dari banyak aliran seni bela diri pencak silat yang ada Indonesia, dua aliran yakni Minangkabau (Sumatera Barat) dan Cimande (Jawa Barat) yang mendominasi.

Aliran di Minangkabau dikenal dengan nama Silek Minangkabau, artinya gerakan seni pertempuran yang dipergunakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh, sehingga gerakan-gerakan diupayakan sesedikit mungkin, cepat, tepat, dengan maksud melumpuhkan lawan. Bela diri ini diwariskan secara turun menurun kepada orang Minang. Lalu dari Jawa Barat, lebih dikenal dengan silat Cimande. Perpaduan gerakan bela diri yang meniru dua hewan, harimau dan monyet.

Standarisari pencak silat sebagai olahraga mulai dilakukan pada 1950. Program pertama adalah pencak silat dipertandingkan di Pekan Olah raga Nasional (PON). Sempat menghiasi PON sebagai cabang eksibisi, pencak silat mulai resmi dipertandingkan pada PON ke-8 1973 dengan diikuti 15 daerah. Eksistensi pencak silat di multievent level nasional ini pun berjalan hingga saat ini.

Kejuaran internasional pertama digelar pada 1982 di Jakarta. Ketika itu animo peserta belum begitu banyak, hanya 7 negara saja. Setelah beberapa kali kejuaraan internasional di gelar, IPSI pun menginisiasi untuk menjadikan pencak silat sebagai salah satu cabor SEA Games pada 1987 di Jakarta. Masuknya pencak silat dalam multievent pun mengangkat pamor olahraga ini.

Bukan lagi hanya berkutat di empat negara pencak silat saja, tapi mulai menjalar ke negara Asia Tenggara lainnya bersaing dengan olahraga tradisional ASEAN lainnya seperti vovinam (Vietnam) dan muay thai (Thailand).

Setelah 31 tahun, cabor ini pun kembali naik level. Pada Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang, pencak silat kali pertama diperlombakan di level Asia. Ada 16 negara yang ikut serta. Dari jumlah tersebut 9 negara sukses membawa pulang medali. Indonesia pun menjadi juara umum dengan menyikat 14 medali emas dari 16 medali emas yang diperebutkan. Dua emas lainnya direbut oleh Vietnam.

Mimpi olimpiade

Sebetulnya, setelah sukses menembuskan cabang pencak silat di Asian Games, dua tahun sebelum penyelenggaran, Presiden RI Joko Widodo langsung berkeinginan menjadikan Olimpiade sebagai target berikutnya. Awalnya, dia meminta agar di Olimpiade Tokyo pencak silat sudah bisa masuk sebagai eksibisi.

Sayangnya, keinginan itu belum bisa tercapai di Olimpiade Tokyo karena masih terkendala regulasi dari pihak penyelenggara. Sesuai persyaratan yang ditentukan, untuk bisa dipertandingkan di Olimpiade, cabang olahraga minimal harus memiliki 70-75 federasi negara anggota. Padahal untuk bisa menembus Olimpiade, persyaratannya minimal pada olimpiade sebelumnya sudah masuk pada cabor eksibisi.

Untuk bisa memenuhi persyaratan ini diakui Ketua Harian PB IPSI, Edhy Prabowo memang cukup berat. Berbagai upaya untuk bisa menaikan level olahraga ini pun sudah dilakukan sejak Tahun 90-an lewat berbagai gerakan, namun masih terkendala.

Keinginan Olimpiade ini muncul setelah bisa dipertandingkan di Asian Games 2018 lalu. Tapi sebenarnya program-program “pencak silat menuju dunia” yang ada sejak tahun 90-an, merupakan bagian dari cita-cita tersebut. “Beberapa langkah sudah kami lakukan, salah satunya menguatkan terlebih dahulu jumlah negaranya. Kini sudah ada sekitrar 71  federasi negara,” tuturnya.

Setelah gagal masuk di Olimpiade Tokyo, cabang pencak silat ditargetkan masuk menjadi cabor eksibisi di Olimpiade Paris 2024 mendatang. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali meminta IPSI untuk fokus memperjuangkan hal tersebut dan aktif bekerja sama untuk mengkampanyekan pencak silat agar bisa masuk ke Olimpiade Paris.  Apalagi Indonesia akan maju bidding menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. Jangan sampai hanya jadi tuan rumah, tapi pemerintah berkehendak juga harus berprestasi.

Sebelum Pandemi covid-19 ini, IPSI sedang memulai program sosialisasi ke seluruh dunia, guna meningkatkan kualitas di berbagai federasi negara. IPSI siap untuk memberikan fasilitas kepada negara mana saja yang mau belajar pencak silat. Diberikan akomodasi, fasilitas sendiri, dan gratis. Persyaratannya, federasi negara harus mengizinkan pihaknya menempa para atlet dari masing-masing negara minimal selama 1 tahun untuk menjadi atlet pencak silat. Komunikasi pun terus dijalin dengan federasi negara lainnya.

Program sosialisasi

Dukungan yang saat ini dibutuhkan pihaknya, kata Edhy adalah bagaimana mengkampanyekan dan melobi lebih banyak negara agar bisa memberikan suara untuk pencak silat. Karena, menurutnya, yang paham akan olimpiade adalah para Olimpian.

“Kami perlu jaringan ini. Saat ini yang sedang kami dekati. Meski secara prinsip kami tetap optimis bisa terus berjalan. Kualitas pelatih pun sedang kita tingkatkan, dan kami sedang mendata base pelatih-platih yang siap untuk dikirim ke luar negeri. Kalau ini bisa dijalankan, yakin target 2024 tidak hanya sekedar mimpi,” tegasnya.

Tahun lalu, Kemenpora sudah melakukan program sosialisasi. Salah satunya adalah menggelar workshop di Eropa. Sambutannya cukup memuaskan, tapi dinilai belum cukup. Untuk memastikan sosialisasi ini berlanjut, Zainudin mengaku pihak sudah berkomunikasi dengan Kementerian Luar Negeri. Tapi baru sebatas komunikasi belum ada rencana lanjutan.

Kerja sama dengan IPSI pun sedang dibangun lagi. Setelah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri, Menpora akan berkomunikasi lebih intens dengan Ketua Umum IPSI, untuk bicarakan bagaimana kampanye yang efektif dan dalam waktu yang singkat supaya pencak silat cabor bisa masuk dieksibisi dulu di Paris nanti. Rencananya akan dibuat video tutorial untuk panduan gerakan pencak silat yang akan disebarkan ke seluruh dunia. (Tamara)***

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: