Rabu, 1 Desember 2021

Curug yang Indah, Ojek yang Ekstrim

Curug Malela di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kec. Rongga, Kab. Bandung Barat. Foto: ESS

Lebih dari sepuluh tahun lalu, kami pernah mengujungi Curug Malela yang terletak di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kab. Bandung Barat ini. Kondisi dulu dengan sekarang sudah jauh berubah. Terutama pada kemudahan akses jalan menuju lokasi dan fasilitas di curug yang sering disebuat sebagai Niagara mini itu.

Dulu, tempat wisata ini sepi pengunjung dan tidak tertata sebagai mana mestinya. Pelancong mulai banyak berdatangan seiring mewabahnya medsos. Banyak postingan mengulas curug di Sunga Cidadap ini. Terlebih setelah Pemprov Jabar menyuntikkan dana Rp 2,5 miliar dan menatanya pada 2019. Jumlah wisatawan melonjak,   berkisar antara 4.000-5.000 orang per bulan. Meski kemudian sempat tergangggu dengan wabah corona.

Jarak tempuh pusat Kota Bandung sekitar 70 kilometer, dengan waktu tempuh 3 jam naik sepeda motor berkecepatan sedang. Tiket masuk ke lokasi wisata ini Rp 5.000 per orang, ditambah Rp 2.500 untuk sepeda motor dan 3.500 untuk mobil. Pengunjung bisa membawa kendaraannya lebih dekat ke Curug Malela.

Pada Sabtu (13/3/2021) lalu, cukup banyak kendaraan roda empat dan roda dua di area parkir yang juga diramaikan warung-warung tersebut. Begitu turun dari kendaraan, wisatawan bisa memilih untuk jalan kaki  atau naik ojek menuju curug. Disarankan, lebih baik pulangnya saja naik ojek mah.

Jalan yang menurun sepanjang 1 km ke arah curug itu tidak seluruhnya beranak tangga permanen. Banyak yang  berupa tanah. Jadi, sebaiknya pakai sepatu kets agar nyaman. Puluhan warung berjejer di kiri kanan sepanjang lereng perbukitan itu. Ada 8 buah shelter berukuran 4 x 4 meter disediakan setiap 50 meter. Sambil beristirahat, tampak curug di kejauhan dengan gemuruh suaranya.

Sensasi curug

Di lokasi utama, wisatawan  dimanjakan dengan fasilitas yang bisa melihat keindahan air terjun dari dekat. Sebuah plasa berbentuk lingkaran bepagar putih dengan diameter 15 meter, menyambut para wisatawan. Tepat di tengahnya berdiri huruf-huruf besar bertuliskan “Curug Malela”.

Inilah area pandang ideal untuk untuk menikmati lima kucuran air di tebing batu hitam dengan ketinggian sekitar 80 meter dan lebarkira-kira 100 meter itu. Curug ini persis seperti sebuah bendungan yang membentang selebar sungai. Air yang jatuh tampak begitu dahsyat sekaligus juga menawan.

Dari plasa, ada pedestrian sepanjang 120 meter ke anjungan selfi yang posisinya lebih dekat lagi ke curug. Sensasi air terjun akan semakin terasa di anjungan ini. Selain itu ada pula jembatan yang menghubungkan plasa dan area tengah sungai. Pengunjung bisa bersantai dan berfoto  di bebatuan.

Pengunjung bisa berendam di tempat yang tidak terlalu dalam. Bagi mereka yang gemar berenang, bisa menikmati air terjun lebih dekat lagi hingga ke dindingnya. Tapi jangan menyeberang ke tepi hutan, banyak monyet liar ekor panjang (Macaca pasciscularis) bergelantungan di pepohonan.

Sebenarnya di kawasan itu ada enam curug lagi selain Malela, antara lain Curug Katumbiri, Curug Ngebul dan Curug Guha. Lokasi yang masih bisa dijangkau dengan jalan kaki adalah Curug Guha yang hanya berjarak sekitar 500 meter di selatan Malela. Tidak terlalu besar, tapi tetap layak dinikmati.

 

Pulangnya “offroad”

Sayangnya, fasilitas untuk kebersihan belum memadai. Tidak terlihat tempat sampah di sepanjang jalur jalan yang dilalui pengunjung. Demikian pula di sejumlah warung. Masih ada pemilik warung yang membuang sampah langsung ke tepi sungai. Selain itu, toilet umum di lokasi curug juga kurang mendukung. Keadaannya kotor dan kran-kran airnya tidak berfungsi.

Setelah cukup puas menikmati sajian alam Curug Malela, pulang kembali ke tempat parkir kendaraan adalah tantangan tersendiri. Harus menapaki jalan menanjak. Terus terang bagi saya mah cukup “menyiksa”. Maka kami memilih naik ojek dari pos Komunitas Ojek Curug Malela dengan ongkos Rp 30.000 per motor.

Jangan bayangkan seperti naik ojek pada umumnya. Jalur yang ditempuh cukup ekstrim, menyusuri jalur setapak yang berliku, sempit dan berlumpur. Maka, motor bebek pun meraung-raung menyisir perbukitan dan tepi jurang. Sungguh, adrenalin terpacu dengan aksi “offroad” ini. Pengojeknya sudah piawai, meski beberapa kali motor terhenti dan hampir terjatuh.

“Kalem Pak, jangan khawatir. Jalannya memang begini. Pegangan saja. Insya Allah selamat sampai tujun,” ujar Marwan (45) menghibur sambil tancap gas di sebuah tanjakan terjal. Para pengojek memang sudah mempersiapkan motornya sedemikian rupa. Termasuk memasang rantai motor bekas di ban belakang agar tidak selip.

Ketika kami meninggalkan Rongga menuju Bandung, tetap harus menghadapi hambatan klise, berupa kemacetan. Setidaknya di tiga titik, yaitu Pasar Rancapanggung Gununghalu, Pasar Cihampelas dan Pasar  Cililin. Jalan yang sempit dan rusak, serta parkir kendaraan sembarangan,  menjadi penyebabnya. Situasi ini tidak berubah, setidaknya sejak sepuluh tahun lalu.  (Enton Supriyatna Sind).***

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: