Sabtu, 23 Oktober 2021

Sekolah Perjuangan Kertasari, Pendidikan di Tengah Revolusi

PENDUDUK terpaksa mengungsi dalam peristiwa Bandung Lautan Api 24 Maret 1946. Foto: Istimewa/Ipphos.

DALAM peristiwa Bandung Lautan Api tanggal 24 Maret 1946, pemerintahan, pasukan bersenjata dan penduduk harus meninggalkan Kota Bandung. Hal itu berkaitan dengan ultimatum pihak Sekutu yang memerintahkan pengosongan kota hingga jarak 11 kilometer.

Salah satu lokasi pengungsian adalah kawasan Ciparay di Kabupaten Bandung. Sedangkan di luar Bandung, pengungsi tersebar antara lain di Garut, Tasikmalaya dan Ciamis. Banyak pengungsi yang terlunta-lunta dan hidup di pinggir jalan seperti gelandangan.

Kegiatan belajar juga harus terhenti. Para pelajar juga berduyun-duyun menuju daerah yang masih dikuasai Republik Indonesia. Sebagian di antara mereka ada yang bergabung lagi dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI), kelaskaran dan badan-badan perjuangan.

Keberlanjutan proses pendidikan untuk pengungsi dan pejuang, mendapatkan angin segar ketika seorang tokoh Ciparay bernama R. Amongpraja atas usaha dan biaya sendiri membuka sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah tinggi (SMT).

Kedua sekolah itu termasuk jenis pendidikan umum dalam sistem persekolahan yang berlaku pada 1945 hingga 1950. Kegiatan belajar mengajar berlangsung di bekas pabrik teh, gedung administrator, dan perumahan milik perusahaan perkebunan Inggris di Kertasari. Sekarang termasuk wilayah Tarumaja, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Lokasinya, sekitar 40 kilometer di selatan Ciparay.

Menurut mantan Bupati Bandung Lily Sumantri dalam “Catatan Peristiwa Perjuangan Menuju Indonesia Merdeka”, pihak yang menyediakan makanan untuk para guru dan murid-murid dipimpin langsung Ny. Suryati Amongpraja. Sedangkan berasnya diambil dari sawahnya sendiri.

Kedermawanan Amongpraja juga mendapat apresiasi dari Mashudi, yang saat itu menjadi tokoh perjuangan dan kemudian menjadi Gubernur Jabar pada tahun 1960-1970. Keluarga Amongpraja adalah keluarga besar yang berpengaruh di Ciparay dan Majalaya. Dia telah menunjukkan keteladanan luar biasa. Tanpa meminta imbalan, menyediakan makanan baik untuk pengungsi maupun pasukan.

Senapan dan buku

Para siswa sekolah perjuangan di Kertasari kebanyakan memang berasal dari para pelajar yang menjadi anggota berbagai satuan perjuangan. Selain tetap menjadi bagian dari pasukannya, juga tercatat sebagai pelajar. Di asrama sekolah tersebut terdapat berbagai jenis senjata seperti pistol, senapan mesin, dan granat.

“Dalam keadaan tenang, tidak ada pertempuran, mereka masuk sekolah dan belajar. Akan tetapi bila keadaan memaksa karena datangnya serangan musuh atau perintah bergerak, maka buku dikesampingkan. Mereka segera menyambar senjata dan maju ke medan pertempuran,” tulis Lily Sumantri.

Letkol (Purn) Tatang Endan, yang pada 1946 masih usia SMA, adalah salah seorang yang punya pengalaman di sekolah Kertasari.  Dia bersama 9 orang lainnya terpisah dari induk pasukan dan belum bergabung dengan TRI. Saat berada di Ciparay, Tatang bertemu dengan Mashudi yang memberi saran agar melanjutkan di sekolah dulu yang ada di perkebunan teh Kertasari.

Mashudi menyanggupi untuk menanggung biaya semua keperluan sekolah, asal mereka mau belajar sungguh-sungguh. Secara panjang lebar, kata Tatang, Mashudi memberi penjelasan pentingnya belajar sebab di masa depan sangat dibutuhkan orang-orang berilmu tinggi untuk mengelola negara.

Di sekolah tersebut terdapat asrama putra, asrama putri, tempat tinggal para guru, ruang belajar dan kantor sekolah. Sebelum belajar, siswa dipersilakan untuk sarapan pagi dengan biji jagung rebus dalam mangkok. Di atasnya sudah ditaburi gula merah dan serutan kelapa.

Suasana alamnya indah tapi dinginnya luar biasa. “Saat kemarau, suhu waktu malam bisa sampai 5 derajat Celcius. Terkadang turun embun es yang sering disebut ‘ibun bajra’ yang bisa merusak tanaman,” ujar Tatang dalam buku “Bandung Lautan Api” yang ditulisnya dalam bahasa Sunda. Perkebunan itu memang berada di ketinggian 1.644 meter di atas permukaan laut.

Namun sayang sekali, sekolah perjuangan di Kertasari itu tidak bisa bertahan lama. Pihak Belanda yang merangsek terus ke arah Bandung selatan dan  menduduki Dayeuhkolot, membuat Ciparay terancam. Karena itu untuk menghindari kemungkinan buruk, maka sekolah itu dibubarkan beberapa waktu setelah ujian akhir SMP tahun 1946.

Para siwa pun kembali menggabungkan diri ke dalam kesatuan semula. Sebagian pindah ke Tasikmalaya yang sepenuhnya dikusai republik. Banyak di antara mereka yang kemudian melanjutkan lagi studinya teng tertunda. (Enton Supriyatna Sind)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: