Sabtu, 15 Mei 2021

Pembubaran FPI, Kembalikan Posisi Islam Ramah

Laskar Front Pembela Islam (FPI). Foto: Hops.id

JAKARTA – Langkah yang diambil pemerintah dengan membubarkan organisasi Front Pembela Islam (FPI), semata-mata untuk mengembalikan posisi Islam yang moderat, Islam yang toleran, dan Islam yang ramah. Karena itu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mendukung pembubaran organisasi bentukan  Habib Rizieq Shihab tersebut.

“PKB mendukung langkah pemerintah. Tetapi juga mengingatkan agar para dai dan juga pendukung FPI tetap bekerja menjalankan amar maruf dan nahi munkar. Hanya saja strategi dan caranya saja yang perlu diubah,” kata Wakil Sekretaris Dewan Syuro DPP PKB Maman Imanulhaq kepada wartawan, Rabu (30/12/2020).

Pengasuh Ponpes Al Mizan Jatiwangi  itu berkomentar sehubungan dengan tindakan pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Mahfud MD, yang membubarkan dan melarang seluruh aktivitas FPI.

“Cara melakukan amar maruf adalah dengan cara yang baik. Sementara dalam menegakkan nahi munkar pun harus dilakukan dengan cara yang konstruktif, tidak kriminal, tidak anarkis, tidak juga melanggar hukum,” kata pria yang akrab disapa Kang Maman ini.

Menurutnya, Islam adalah agama yang mengedepankan dialog, Islam adalah agama yang menginginkan terciptanya harmoni.

Belajar agama

Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKB ini pun mengungkapkan bahwa PKB terbuka untuk para mantan FPI. Dewan Syuro PKB bahkan bersedia memfasilitasi para eks FPI untuk sama-sama belajar bagaimana merusmuskan kembali dakwah yang betul-betul menggugah.

“Dakwah yang mengajak bukan mengejek, dakwah yang merangkul bukan memukul, dakwah yang memberikan argumentasi tentang kebenaran, kebaikan dan keindahan Islam,” tuturnya.

“Ini bisa menjadi momentum umat Islam untuk kembali menguatkan komitmen keislamannya, Islam yang menjadi energi untuk perdamaian dan juga perubahan. Sekaligus juga meneguhkan kembali komitmen kebangsaan. Nilai kebangsaan hubul waton minal iman, mencintai tanah air adalah komitmen dari keimanan,” kata Kang Maman menambahkan.

Kang Maman juga menyoroti nasib para santri di Markaz Syariah Megamendung Bogor milik Habib Rizieq Shihab. Dia mengingatkan dan meminta pemerintah untuk memperhatikan juga nasib para santrinya. Jangan sampai, karena konflik lahan masa depan anak-anak muda yang mencari ilmu itu terabaikan.

“Pemerintah memiliki tanggung jawab dan kesempatan untuk memberikan wawasan keislaman yang kuat soal akidah, syariah dan juga nilai-nilai kebangsaan. Jangan sampai para santri menjadi korban dalam konflik ini,” katanya. (Firman)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: