Jumat, 26 Februari 2021

Siapa Mau Sumbang Polybag dan Benih Tanaman?

Seorang ibu rumahtangga warga Mekarmanik dan sayuran tani pekarangannya. Foto: ESS

BANDUNG.- Banyak cara untuk membantu masyarakat yang tidak beruntung secara ekonomi. Misalnya mendapingi mereka untuk berdaya, dengan memanfaatkan lingkungannya melalui kegiatan tani pekarangan. Setiap rumah cukup disumbang polybag dan benih tanaman sayuran, maka sebagian kebutuhan sehari-hari mereka teratasi.

“Kita sudah menghitungnya, rata-rata modal usaha setiap keluarga cukup Rp 300 ribu. Kita tidak memberinya dalam bentuk uang, tapi berupa polybag dan benih beragam tanaman sayuran. Produktif setiap hari, berkelanjutan. Nah siapa yang tertarik berderma, silakan menyumbang mereka,” kata Basuki Suhardiman, pendamping ekonomi tani Yayasan Odesa Indonesia, Sabtu (12/12/2020).

Sejak beberapa bukan lalu, Basuki telah mempraktikan langsung cara tersebut kepada warga sejumlah kampung di Desa Mekarmanik dan Desa Cikadut Kecamatan Cimenyan Kab. Bandung. Banyal warga tertarik, terutama kaum ibu rumahtangga. Mereka memanfaatkan halaman rumahnya atau lahan di pinggir jalan kampung.

Dari sekian cara mengatasi kemiskinan, katanya, konsep tani pekarangan adalah salah satu solusi terbaik. Banyak keluarga pra-sejahtera (sangat miskin) maupun sejahtera I (miskin), yang masih memiliki pekarangan. “Dua modal dasarnya, kemampuan budidaya dan lahan pekarang walaupun hanya sepetak. Cara itu menjawab persoalan hidup warga,” tutur Basuki.

Hemat belanja

Berdasarkan kalkulasi, kegiatan tani pekarangan bisa menghemat belanja sayuran atau kebutuhan dapur lainnya rata-rata senilai Rp 300 ribu. Dengan demikian, uang untuk kebutuhan lainnya aman untuk digunakan.  Jika panennya surplus, karena mampu menanam lebih 800 polybag dengan sistem gilir, mereka bisa menjual hasilnya. Artinya selain menghemat biaya juga memberikan pendapatan ekonomi.

Menurut Basuki, tani pekarangan juga memberi dampak perbaikan kehidupan warga karena terbukti lingkungan menjadi bersih karena terawat. Selain itu pekarangan lebih bersih karena ayam disimpan di kandang. Wakty kerja mereka yang kosong selama dua jam sehari bisa menjadi kekuatan produktif.

“Warga menjadi lebih disiplin karena kegiatan tani pekarangan mensyaratkan kerja secara intensif. Juga sumber gizi bisa lebih bagus karena yang dikonsumsi sayuran segar dan organik.Yayasan Odesa Indonesia, menggerakkan tani pekarangan sebagai strategi penting Indonesia, agar keluar dari ketidakmampuan mengatasi masalah warga lapisan bawah,” ujarnya. (Sup)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: