Minggu, 25 Juli 2021

“Wangsit Siliwangi” dalam Dunia Gelap Abah Adim

Adim Sujana dan kecapinya. Foto: ESS

Kiwari geus gumelar

Putra Pajajaran anyar

Wawangina sumebar

Sajagad raya kawentar

Ampuh simpuh tur sabar

Kasatriaan wiwitan

Nyukcruk galur cacandran

Siliwangi keur pananggeuhan

…………………..

BAIT-BAIT lagu Sunda “Wangsit Siliwangi” itu dilantukan Adim Sujana (91), ditingkahi kelincahan jemarinya memetik dawai kecapi. Usianya yang sudah uzur dan kebanyakan giginya sudah tanggal, membuat Adim kesulitan menyelesaikan lagu itu dengan baik. Meski begitu, cengkok tembang Sundanya tetap terjaga.

“Rada eungap ayeuna mah nembang teh,” kata Adim saat ditemui di rumahnya, Kampung Arcamanik Desa Mekarmanik Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung, Kamis (10/12/2020). Dia memperbaiki posisi duduk bersilanya di atas bantal. Sambil menghela napas panjang, dia bersandar pada dinding kamar. Alat musik tradisional Sunda itu masih di pangkuannya.

Bukan hanya lagu “Wangsit Siliwangi” yang gemar dinyanyikan Abah Adim –demikian sapaan akrabnya. Dia juga menguasai banyak lagu Sunda lainnya. Tapi khusus “Wangsit Siliwangi” memiliki energi tersendiri baginya, memberi semangat hidup dan penghormatan pada leluhur orang Sunda.

Kemampuan bermain kecapi, diperolehnya sejak dia masih berada di kampung kelahirannya, Bantarujeg di Kabupaten Majalengka. Setelah merantau ke Cimenyan, menjadi petani penggarap dan beranak pinak, Abah Adim tidak meninggalkan kecapinya. Bahkan setelah matanya tidak bisa lagi melihat seperti sekarang ini.

“Saya mengalami kebutaan total sejak tiga tahun lalu,” ungkapnya. Bertahun-tahun dia menderita katarak. Kemampuan indra penglihatannya terus menurun dan akhirnya tidak berfungsi. Dunia menjadi gulita. Namun dia masih bisa mengenali orang-orang di lingkungannya lewat suara. Daya ingatnya masih bagus. Kecapi menjadi teman untuk menghiburnya.

“Sebenarnya ingin berobat, tapi tidak ada biaya. Untuk keperluan sehari-hari saja sulit,” ujar Ai Siti Julaeha (37), anak bungsunya. Abah Adim dan istrinya, Ma Acah (75), memang tidak memiliki fasilitas untuk kesehatan mereka seperti BPJS Kesehatan atau Kartu Indonesia Sehat. Tidak pernah sampai informasi kepada mereka tentang operasi katarak gratis dan sebagainya.

Pagar betis

Sebelum kebutaan dialaminya, Abah Adim biasa bertani seperti selama ini dijalaninya. Sekian lama dia mendiami rumah di atas lahan milik orang lain, yang sekaligus digarapnya untuk pertanian. Keluarga itu kemudian pindah ke tempat yang sekarang, karena lahan yang selama ini didiami Abah Adim akan digunakan pemiliknya.

Rumahnya sekarang berukuran sekitar 5×6 meter, rumah panggung yang berdiri di atas lahan 5 tumbak (70 meter persegi). Beratap sebagian genting dan asbes, dengan dinding bilik (anyaman bambu) dan lembaran tripleks. Sebagian plafon rumah juga ditambal tripleks, karena beberapa waktu jebol lantaran lapuk. Air hujan sering menerobos ke dalam rumah tersebut.

Di rumah yang pengap itulah Abah Adim dan Ma Acah hidup. Seorang lelaki buta dan perempuan yang berjalannya sudah membungkuk. Pasangan ini memiliki 12 orang anak, namun hanya 6 orang yang saat ini masih ada. Keenamnya sudah berkeluarga, dan hanya rumah Ai Siti Julaeha yang berdekatan dengan rumah Abah Adim.

“Jumlah cucu Abah ada 15 orang, buyutnya ada 5 orang,” ujar Ai. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Bah Adim dan Ma Acah mendapat kiriman seadanya dari anak-anaknya atau dari orang lain. Sebenarnya anak-anak mereka ingin memperbaiki rumah itu namun kondisi ekonomi tidak memungkinkan.

Bah Adim termasuk cukup beruntung karena air berlimpah sampai ke rumahnya dari sumbernya di kaki gunung. Air itu diambil dengan menggunakan 180 lente (720 meter) pipa ¾ inci. “Kita membelinya secara bertahap, dicicil. Setelah cukup, baru dipasang. Jadi, di jamban kami selalu tersedia air,” tutur Ai.

Hanya saja, seperti kebanyakan rumah di kampung tersebut, kotoran dari jamban rumah Bah Adim dibuang ke kali di belakang rumahnya. Karena itu jika kemarau datang, sungai kecil itu menimbulkan bau yang tidak enak. “Kalau di buang ke kali kan  praktis,” kata Bah Adim.

Lalu Bah Adim memetik kembali kecapinya, kali ini yang dinyanyikannya adalah “Kembang Tanjung Panineungan”. Lirik ciptaan Wahyu Wibisana ini, lagunya dibuat Mang Koko. Berkisah tentang seorang ayah yang gugur dalam operasi “Pagar Betis” untuk menumpas kelompok DI/TII. “Abah juga ikut dalam operasi itu di Gunung Burangrang dan Gunung Batara Guru,” ujarnya mengenang.

Anaking jimat awaking

Basa ema mulung tanjung reujeung hidep

Bet henteu sangka aya nu datang

Ti gunung rek ngabejakeun

bapa hidep nu opat poe teu mulang

ngepung gunung Pager Bitis

Cenah tiwas peuting tadi

……..

(Enton Supriyatna Sind)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: