Rabu, 1 Desember 2021

Syekh Yusuf Makassar, dari Tasik Selatan Dibuang ke Afrika Selatan

Makam Syekh Yusuf di Gowa, Sulawesi Selatan. Foto: ESS

SEPASANG pengantin itu turun dari kendaraan pengantarnya, lalu berjalan melewati selasar dan masuk ke ruang utama pemakaman. Di sebuah pusara, mereka menyiramkan air bunga yang dibawanya. Kemudian bersimpuh dan memanjatkan doa dengan khusyuk. Setelah sekitar 10 menit berada di tempat tersebut, keduanya kembali menaiki kendaraan.

“Di sini memang ada tradisi, pengantin yang selesai ijab kabul menyempatkan berziarah ke makam Syekh Yusuf Makassar. Sebagian warga masih memegang tradisi itu, sebagai sebuah penghormatan kepada ulama besar ini,” ujar Abdurahman (50), peziarah di kompleks makam yang terletak di Lakiung, Kecamatan Somba Opu, Kab. Gowa, Sulawesi Selatan itu, beberapa waktu lalu.

Salah satu bentuk penghormatan lainnya ditunjukkan para pendukungnya ketika itu, dengan memberinya gelar “Tuanta Salamaka ri Gowa (“Tuan Guru Penyelamat Kita dari Gowa”). Tapi Syekh Yusuf bukan hanya milik orang Sulsel. Lihat saja nama yang dilekatkan orang kepadanya: Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani.

Tajul Khalwati artinya mahkota dari Tarekat Khalwatiyah  (tarekat yang dikembangkannya), Makassar tempat kelahirannya dan Banten adalah arena perjuangannya. Dia lahir di Gowa 3 Juli tahun 1037 H / 1627 M. Banyak belajar ilmu agama Islam dari  berbagai guru, baik yang ada di Nusantara maupun Timur Tengah.

Selain dikenal sebagai penganut dan penyebar aliran Tarekat Khalwatiyah, dia juga saudara seperguruan dengan Syekh Abdul Rauf Singkel (Aceh) dalam Tarekat Syatariyah. Catatan-catatan menyebutkan, Yusuf kembali ke Indonesia dari Mekah pada 1075 H/1664 M atau juga 1083 H/1672 M.

Kemudian Yusuf masuk ke dalam lingkungan Kesultanan Banten. Karena dedalaman ilmunya, dia menjadi orang penting di kesultanan tersebut, tangan kanan Sultan Ageng Tirtayasa (1053-1096 H/1651-1683 M). Bersama mertuanya itu, Syekh Yusuf bahu membahu melakukan perlawanan terhadap penjajah.

Berada di Karangnunggal

Kesultanan Banten makin terdesak. Hingga akhirnya pasukan Syekh Yusuf tercecer dan harus melakukan perang gerilya, lalu mundur ke daerah Priangan Timur. Termasuk ke daerah Tasikmalaya bagian selatan. Setelah sebelumnya menyusuri Sungai Ciseel dan Sungai Citanduy, lalu berputar lewat Parigi (Pangandaran).

Rute perjalanan perang gerilya Syekh Yusuf di Priangan Timur dirinci Abu Hamid dalam buku yang berasal dan disertasi doktornya “Syekh Yusuf, Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang” (1994). Menurut Abu Hamid, Syekh Yusuf berlindung di sebuah tempat bernama Karang atau Aji Karang. Terletak di sebelah timur Cimandala dan Cigugur, sekitar Parigi.

Apa yang disebutkan Abu Hamid sebagai Karang, menunjuk pada Karangnunggal di Kabupaten Tasikmalaya. Tempat di mana kompleks Pamijahan dan Gua Safarwadi berada. Di situlah untuk beberapa saat Syekh Yusuf berlindung sambil menyusun keküatan kembali. Tempat tersebut merupakan pusat penyebaran agama Islam di Tasikmalaya selatan ketika itu.

Keterangan senada juga dikemukakan Azyumardi Azra (1994). Dalam peperangan melawan Belanda, Syekh Yusuf Makassar mundur ke Desa Karang, dan menjalin hubungan dengan seseorang yang oleh sumber-sumber Belanda disebut “Hadjee Karang’. Karang adalah tempat tinggal Syekh Abdul Muhyi, murid Al-Sinkili dan dialah Si “Hadjee Karang” itu. Al Sinkili tiada kain Syekh Abdul Rauf Singkel.

Abdul Muhyi memanfaatkan kesempatan bertemu dengan Yusuf Makassar untuk belajar dengannya, menanyakan penafsiran atas ayat-ayat tertentu dari Al-Qur’an yang berkenaan dengan doktrin-doktrin mistis. Abdul Muhyi, kata Azra lagi, juga meminta Yusuf Makassar memberikan padanya silsilah tarekat-tarekat yang diterimanya di Haramain.

Pertemuan dua wali

Dalam kondisi darurat dan dikejar-kejar Belanda, ada hikmah besar bagi keduanya. Tentu itu bukan pertemuan sembarangan, melainkan pertemuan dua waliyullah.  Perbincangan ulama ini terekam dalam koleksi karya-karya Yusuf Makassar di Perpustakaan Nasional Jakarta, antara lain pada Naskah Arab No. 101,64.

Dalam salah satu naskah yang ditulisnya di kemudian hari, yang berjudul “Syuruti al-’Arifi al-Muhaqqiq”, ulama yang produktif menulis itu menyebutkan “Untuk sahabatku di Kampung Rantaubetaa, lalu Kampung Baeubul di Negeri Mandala, sahabatku yang bernama Abdul Jalil penduduk asli kampung tersebut dan sahabatku Haji Abdul Muhyi yang tinggal di Kampung Karang”.

Terbayang betapa hangatnya pertemuan antara kedua tokoh besar Tarekat Syatariyah ini. Sebab, seperti dikatakan beberapa peneliti, Syekh Yusuf sezaman dalam berguru kepada Ibrahim al-Qur’ani dengan Abdur Rauf Singkel (guru Abdul Muhyi) dalam hal tarekat Syatariyah di Timur Tengah. Meskipun Syekh Yusuf sudah mengembangkan tarekat sendiri.

Dengan tipu muslihat, Belanda menangkap dan membawa Syekh Yusuf keluar dari Pamijahan. Pada September 1684 dia dibawa ke Sri Lanka. Sembilan tahun kemudian dibuang ke Afrika Selatan. Di dua negara itu, Syekh Yusuf tetap aktif menyebarkan agama Islam  dan memiliki ratusan murid.

Syekh Yusuf wafat di Cape Town, Afrika Selatan pada 23 Mei 1699 dalam usia 73 tahun dan dimakamkan di sana. Namun ada pendapat yang mengatakan, jasadnya dipindahkan ke Gowa atas permintaan penguasa setempat ketika itu, sehingga kini ada pusaranya di Lakiung. Wallahu ‘alam. Tapi yang jelas, Pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya pada November 1995.  (Enton Supriyatna Sind)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: