Selasa, 2 Maret 2021

Dua Jamban Umum di Hari Toilet Sedunia

 

Jamban umum di Pondok Buahbatu Desa Mekarmanik Cimenyan Kab. Bandung. Foto: dok. apakabar,news

PERINGATAN Hari Toilet Sedunia pada 19 November kali ini, terasa istimewa bagi aktivis “kampung” seperti Nina Danny Natawidjaja dan Harti Saeni Alwarokil Jannah. Apa pasal? Melalui gerakan Indonesia Empathize (Inem) mereka berhasil mewujudkan pembangunan dua jamban umum di  Kampung Pondok Buahbatu, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.

Dua sarana MCK komunal tersebut merupakan hasil penggalangan dana dari para dermawan berbagai kota.  “Alhamdulillah, dengan kerja sama banyak pihak dan kepedulian para dermawan, kita bisa menghadirkan dua jamban umum ini. Tentu manfaatnya besar bagi upaya perbaikan sanitasi dan agar hidup warga lebih sehat,” ujar Nina, Pembina Inem. Gerakan ini merupakan sayap organisasi perempuan Yayasan Odesa Indonesia.

Pada peresmian jamban umum itu, Selasa (17/11/2020), para relawan membagikan pula beras serta ratusan gunting kuku, sabun, sikat gigi dan pasta gigi.   Ini adalah jamban ke 27 dan 28 yang dibangun Odesa untuk warga Cimenyan. “Kita berharap pembangunan jamban umum ini terus berlanjut hingga tak ada lagi warga Cimenyan yang buang air besar sembarangan,” kata Ketua Odesa Indonesia, Faiz Manshur.

Dua jamban umum yang berada di RT 2 dan RT 4  tersebut, masing-masing terdiri dari dua pintu. Bermanfaat setidaknya untuk 10 rumahtangga atau sekitar 30 jiwa. Selama ini warga setempat melakukan “hajat”nya dengan fasilitas darurat, tidak memenuhi sayarat kesehatan. Padahal sanitasi yang buruk sangat berdampak pada kualitas sumber daya manusianya.

Menjelaskan tentang kesehatan kepada warga.

Problem BABS

Pembangan jamban umum merupakan salah satu upaya untuk mengatasi persoalan sanitasi, yang hingga saat ini masih menjadi persoalan besar di tengah masyarakat Indonesia. Terutama pada problem  buang air besar sembarangan (BABS). Hingga saat ini di Indonesia terdapat lebih dari 32 juta jiwa yang sering BABS.

“Indonesia masih punya problem besar. Dan masalah ini harus  dijawab dengan aksi nyata di setiap lingkungan. Kebetulan di kawasan Bandung Raya masih punya masalah dalam hal BABS. Tentu membutuhkan  aksi-aksi konkret. Terutama pada keluarga prasejahtera, sanitasi menjadi problem hidup yang memprihatinkan,” kata Nina usai  melakukan penyuluhan kebersihan.

Menurut Nina, di Kota Bandung ada lebih dari 700 ribu jiwa yang masih melakukamn BABS. Kemudian di Kota Cimahi memiliki terdapat sekitar 127 ribu jiwa masih BABS. Sedangkan Kabupaten Bandung terdapat 600 ribu jiwa lebih yang masih BABS.  Banyak berita tentang BABS di Kawasan Bandung Raya dan Jawa Barat tapi seringkali tidak ditindaklanjuti secara serius.

Odesa sendiri, menurut Faiz, punya rencana untuk membangun 70 jamban umum di kawasan Cimenyan. Angka itu diperolehnya setelah melakukan pendataan secara detail dari kampung ke kampung. “Tapi itu jumlah minimal ya. Kebutuhan rilnya boleh jadi lebih dari angka tersebut. Semoga kita bisa mewujudkannya,” kata Faiz Manshur. (Enton Supriyatna Sind)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: