Sabtu, 23 Oktober 2021

Sanitasi Buruk di Kawasan Bandung Utara

 

Sarana MCK alakadarnya di Kawasan Bandung Utara. Foro: apakabar.news

“INI tak bisa dibiarkan. Terlalu lama dengan keadaan seperti ini menjadi kebiasaan buruk. Orang tak sadar kalau buang hajat sembarangan seperti ini bisa mengancam kesehatan jiwa manusia,” kata Budhiana Kartawijaya, Ketua Pembina Yayasan Odesa Indonesia, kepada apakabar.news di Kampung Pondok Buahbatu, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Senin (26/10/2020).

Siang itu, bersama relawan Odesa Indonesia, Ujang Rusmana dan Yayan Hadian, Budhiana sedang meninjau pembangunan pembangunan toilet umum (satrana mandi cuci kakus -MCK) yang dilakukan Odesa Indonesia di  di pinggir hutan pinus Arcamanik tersebutr. Yayasan Odesa Indonesia membangun toilet umum hasil penggalangan dana dari  Himpunan Alumni Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1986.

Seusai meninjau kegiatan pembangunan, Budhiana melihat keadaan blok timur dari Kampung Pondok Buahbatu. Tujuannya memastikan apakah di bagian itu keadaan sanitasinya sudah layak atau belum. Apa hasilnya?

“Kampung ini terasa asri karena pepohonan tumbuh subur. Tetapi nahas, kehidupan warga masih terbelakang dalam urusan sanitasi. Kalau 7 rumah tangga dalam satu blok area ini tidak ada sanitasi yang layak, itu berarti lebih dari 20 orang kesehatannya terancam setiap hari,” katanya.

Di lokasi yang didatanginya, terdapat tujuh rumah panggung yang WC-nya terbuat dari bekas spanduk iklan, dan sebagian lagi bekas spanduk calon legislatif. Tiangnya terbuat dari kayu dan bambu yang sudah lapuk.  “Ini tidak lebih baik dari blok selatan,” ujar Budhiana.

Tidak permanen

Blok selatan -yang menjadi lokasi pembangunan toilet umum- terdapat sarana toilet komunal, tetapi sangat buruk keadaannya. Saluran pembuangan air tinjanya dibuang ke kolam. Sedangkan di blok timur, terdapat satu toilet kumuh yang menurut pemilik rumahnya sering dipakai beberapa keluarga. Namun saluran pembuangan akhir tinja-nya dialirkan ke selokan.

Seorang warga, Enung (45) mengatakan, keluarga dan tetangganya sudah terbiasa buang hajat tanpa toilet permanen dan pembuangannya ke selokan. “Iya, di sini,” kata Enung menunjuk empat golondongan kayu sebagai tempat “nangkring” saat orang buang air besar.

Keadaan sanitasi buruk ini, menurut Budhiana, bukan hanya satu atau dua lokasi. Sejak tahun 2016, Yayasan Odesa Indonesia telah mengumpulkan data lapangan. Relawan mahasiswa menemukan setidaknya 70 lokasi dengan keadaan sanitasi buruk dan membahayakan kesehatan karena aliran air dan tempat pembuangan air tinjanya berupa cumplung, cubluk, selokan tanah, bahkan sebagian dibuang ke kebun.

Tak hanya di Cimenyan, di Kecamatan Cilengkrang dan Kecamatan Cileunyi pun persoalan sanitasi buruk masih menjadi bagian hidup warga. Di tiga kecamatan tersebut, secara acak relawan Odesa menemukan adanya 130 lokasi yang rumah tangganya kumuh. “Ini pertanda ada ketidakadilan. Kita usahakan terus membantu mereka,” kata Budhiana. (Abdul Hamid)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: