Sabtu, 23 Oktober 2021

Kertajati, Bandara Internasional yang Sepi dan Gelap

BIJB Kertajati Majalengka. Foto Antara

MEMASUKI bangunan yang menjulang dan lapang itu, tidak terasa kemegahannya. Malahan seperti memasuki sebuah gua besar.  Nyaris serba gelap gulita. Tidak ada  penerangan yang memadai. Hanya lampu petunjuk toilet yang masih menyala. Itupun bagian dalamnya tetap gelap. Cahaya hanya datang dari sinar matahari yang menembus atap bangunan dan dinding kaca.

“Saya tidak berani masuk ke kamar mandi itu. Kalau kebelet ingin pipis, saya memilih mencari tempat lain saja, ke luar dulu dari area dalam gedung ini. Saya benar-benar takut masuk ke kamar mandi itu,” ujar seorang pekerja pria yang sedang mengepel lantai yang luas itu, Kamis (29/10/2020).

Gedung apa gerangan itu? Itulah gedung Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati yang terletak di Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jabar. Jangan pernah bayangkan bisa melihat keindahan interior gedung terminal utama penumpang yang berluas  96.000 meter persegi itu. Bangunan tiga lantai setinggi 28 meter tersebut cuma menyisakan anggun dari kejauhan.

Berdasarkan catatan, BIJB Kertajati dibangun dengan dana sebesar Rp 2,6 triliun. Bandara memiliki area lahan seluas 1.800 hektare yang terdiri dari 2 runways, area terminal penumpang seluas 121.000 meter persegi dan untuk area terminal kargo seluas 90.000 meter petrsegi.  Kapasitas bandara cukup untuk 22 pesawat.  Sedangkan bangunan didesain dengan  menggunakan elemen-elemen estetis yang mengadopsi kearifan budaya lokal Jabar  yaitu Tari Merak

Untuk efisiensi

“Kami melakukan efisiensi. Selama pandemic Covid-19 ini listrik dimatikan.  Maka otomatis penerangan tidak ada, AC mati, begitu juga dengan lift dan escalator. Ini adalah langkah penghematan anggaran. Apalagi penerbangan komersial sudah tidak ada dari dan ke Bandara Kertajati. Jika listrik hidup, biaya operasional sangat tinggi,” ujar Humas PT BIJB, Mohamad Aliv, di area BIJB.

Sejumlah karyawan bekerja dengan sistem work from home (WFH). Namun aviation security (avsec) atau petugas keamanan bandara tetap bekerja dan memandu tamu yang datang. Tenan yang biasanya berderet di dalam dan luar gedung, kini tersisa dua beroperasi yaitu yang menyediakan minuman dan toko swalayan.  Melayani pengunjung yang datang Sabtu dan Minggu.

Tidak ada kesibukan berarti di bandara kedua terbesar di Indonesia setelah Bandara Soekarno-Hatta tersebut. Tidak ada hilir mudik calon penumpang atau suara gemuruh pesawat. Hanya sejumlah orang saja yang tampak. Mereka adalah avsek, petugas kebersihan,  petugas jaga dari TNI AU dan AD, dan kepolisan.

Ada dua pesawat Lion Air terparkir di area bandara, yang menurut keterangan  sudah cukup lama berada di tempat itu. Sedangkan landasan pacu tidak pernah dipergunakan pesawat sejak Covid-19 merebak.  “Ya, pesawat-pesawat itu masih terparkir dan belum beroperasi kembali,” kata Mohamad Aliv.

Terus menurun

Bandara Kertajati saat ini dioperasikan PT Angkasa Pura II Persero setelah sebelumnya dikelola oleh pemerintah daerah bersama Kementerian Perhubungan.  Bandara ini diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2018 lalu. Namun sejak dioperasikan, BIJB Kertajati terus mengalami kelesuan jumlah penumpang.

Sejumlah maskapai yang pada awalnya siap membuka rute penerbangan, satu persatu menghentikan aktivitasnya. Jumlah penumpang terus mengalami penurunan. Sebagai gambaran, pada Juli 2019  total penumpang sebanyak 104.934 orang atau rata-rata 3.385 orang per hari.

Pada Agustus, jumlah penumpang anjlok menjadi 86.824 orang atau rata-rata 2.801 penumpang per hari. Sementara itu, hingga 16 September 2019, total penumpang di Bandara Kertajati hanya 233.180 orang. Bulan-bulan berikutnya angka penumpang terus melorot.

Tol Cisumdawu

Seperti diakui Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi beberapa waktu lalu, masalah utama pengoperasian BIJB Kertajat adalah belum siapnya akses langsung yang menghubungkan Kota Bandung dan Kertajati.  Jalan Tol Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan) hingga kini belum selesai.

Padahal dengan adanya Tol Cisumdawu sepanjang 61 kilometer, perjalanan Bandung-Kertajati yang semula bisa memakan waktu hingga 3 jam, bisa ditempih persingkat hanya sekitar 45 menit. Masyarakat pengguna pesawat tentu akan enggan terbang dari Kertajati jika untuk mencapainya harus memakan waktu lama.

Kondisi tersebut  kemudian diperburuk dengan merebaknya wabah corona pada awal tahun 2020. Pandemi Covid-19 berdampak dahsyat terhadap berbagai sendi kehidupan, termasuk dunia penerbangan. Maka semakin sepilah bandara internasioal yang berada di sebelah timur ibukota Jawa Barat itu.

Menurut data, dalam kondisi seperti ini Kertajati justru ramai melayani jasa parkir pesawat. Terdapat peningkatan sebesar 30% jika dibandingkan dengan periode sebelum adanya wabah.  Dari kapasitas parkir yang dimiliki Kertajati, utilitasnya mencapai 60% terpakai. (Ira Iskata)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: