Sabtu, 15 Mei 2021

Sulit Pekerjaan, Tani Pekarangan Diminati

Seorang warga Cikored sedang merawat tanaman di pekarang rumahnya. (Foto: Abdul Hamid)

BANDUNG, (AKN).- Menghadapi situasi ekonomi yang memburuk selama pandemi Covid-19 mendorong Yayasan Odesa Indonesia di Bandung semakin aktif menggerakkan tani pekarangan. Toha Odik (40) yang mendampingi para petani mengatakan saat ini para petani tertarik dengan program tersebut karena banyak waktu luang.

“Selama ini para petani mencari uang bekerja sambilan berjualan atau menggarap lahan milik orang lain. Sejak Maret pekerjaan semakin sulit sehingga petani mau menggarap pekarangannya,” kata Toha di tengah kegiatan penyuluhan di Kampung Cikored, Desa Mekarmanik Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung kepada apakabarnews.com, Ahad (4/10/2020).

Toha menceritakan program tani pekarangan saat ini lebih mudah diterima. Hal ini berbeda dengan tahun sebelumnya saat Odesa Indonesia mendorong kegiatan tani pekarangan, namun hanya sedikit yang menerima program itu.

“Dulu saya kesulitan melaksanakan program yayasan. Sampai-sampai saya malu sama pengurus karena dari target 50 petani hanya mendapatkan 2 orang yang bersedia, itu juga dari keluarga dekat saya. Tapi sekarang  setiap ketemu orang saya diminta bantuan program,” kata Toha.

Menurut Toha, para petani di Mekarmanik sudah jauh dari urusan tani pekarangan. Padahal dua puluh tahun silam, praktik tani pekarangan menjadi salah satu kekuatan ekonomi. “Sekarang para petani hanya menanam di ladang. Mereka menolak bertani di pekarangan, karena memilih kerja serabutan saat tidak bekerja di ladang,” jelasnya.

Dengan sulitnya ekonomi tersebut Toha mencoba membantu para petani dengan tiga langkah konkret. Pertama, memberikan bantuan polybag sebagai penampung tanah. Kedua, membantu sebagian benih sayuran yang tidak dimiliki petani. Ketiga, membantu dengan penyuluhan langsung karena para petani membutuhkan panduan tata-cara tanam.

Konsumi kelor

Program pertanian Yayasan Odesa Indonesia yang digerakkan oleh Toha ini mulai banyak membawa keuntungan di kalangan petani. Salahsatu petani yang merasakan manfaatnya adalah Dadang (59), warga Cikored Desa Mekarmanik.

“Saya mendapatkan modal polybag, benih dan paranet dari Yayasan Odesa Indonesia seminggu sebelum Iduladha. Dan sekarang sudah ada hasilnya. Sayuran segar bisa dimasak. Kelebihannya dibeli oleh tetangga,” kata Dadang.

Selain manfaat itu, Dadang dan keluarganya juga merasakan kesehatannya membaik karena seringnya mengonsumsi kelor hasil panen dari sekitar rumahnya. Dulu keadaan fisiknya sering mudah sakit, tapi semenjak sering makan sayur kelor ia merasakan badannya lebih bugar.

“Sayuran kelor itu menguntungkan karena menyehatkan. Jadi, saya senang dengan cara tani yang baru seperti ini. Saya akan memperbanyak lagi tanaman di musim hujan bulan depan.”  (Abdul Hamid)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: