Sabtu, 15 Mei 2021

Pekerja Temukan Rahang Paus Purba di Ciguha Sukabumi

Tim dari Museum Geologi Bandung mengamati fosil tulang rahang paus purba. Foto: Istimewa

PADA hari Kamis (4/2/2021)  siang itu, Uten (44) seperti biasa mengemudikan backhoe, mengeruk  tanah untuk pembangunan tempat wisata air water boom di Kampung Ciguha Desa  Ciracap Kecamatan Ciracap Kabupaten Sukabumi. Tiba-tiba bucket (pengeruk) alat berat itu menyentuh benda besar dan keras. Ternyata tulang belulang berwarna putih kusam.

Uten memberitahukan temuan tersebut kepada pemilik lahan. Kegiatan di lokasi itu kemudian dihentikan, untuk menghindari kerusakan pada material temuan. Tulang belulang tersebut dikuburkan kembali di tempat semula. Laporan singkat pun dilayangkan kepada pihak Museum Geologi Bandung. Empat hari kemudian sebuah tim dari museum itu sudah berada di Ciguha.

“Menurut perkiraan sementara, tulang belulang itu merupakan fosil bagian rahang dari paus balin purba. Kemungkinan kita akan melakukan ekskavasi di lokasi tersebut, untuk mengangkat fosil lain yang mungkin saja lebih besar lagi ukurannya,” kata  Oman Abdurahman, penyelidik bumi madya Museum Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM, kepada apakabar.news, Jumat (12/2/2021).

Fosil bagian rahang paus itu ada yang panjangnya sekitar 1,5 meter. Ada pula yang terpotong-potong akibat benturan bucket, yang jika disusun kembali panjangnya bisa mencapai 2 meter. Ekskavasi perlu dilakukan untuk menemukan fosil lainnya, dan diharapkan diketahui bentuk tulang rahang yang utuh.

Usia fosil

Dijelaskan Oman, paus merupakan hewan  terbesar yang hidup di bumi saat ini. Hewan ini masuk dalam kategori mamalia air bersama lumba-lumba dan pesut.  Tiga kelompok hewan yang berbeda dikenal sebagai ordo cetacea. Karena semua cetacea adalah mamalia laut, mereka berdarah panas, menghirup udara, menghasilkan susu dan mengandung keturunan.

Paus memiliki tulang belakang dan bagian rahang yang keras, sehingga berpotensi menjadi fosil. Berbeda dengan ikan hiu yang tidak memiliki bagian tubuh yang berpotensi jadi fosil, kecuali giginya. “Ini temuan besar bagi Indonesia. Sekaligus membantah anggapan bahwa di wilayah kita tidak pernah hidup paus purba termasuk jenis balin,” tambah Oman.

Dia belum bisa memastikan usia fosil tersebut. Hanya saja, pada akhir tahun lalu Thailand ditemukan juga fosil paus purba jenis bryde. Fosil paus yang terjaga dalam kondisi hampir sempurna itu diperkirakan berumur 3.000 hingga 5.000 tahun. Rangka paus sepanjang 12 meter tersebut ditemukan sejauh 12 kilometer lepas pantai sebelah barat ibu kota Thailand, Bangkok.

Keyakinan Oman juga diperkuat hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan pihak Museum Geologi pada tahun 2017. Lokasi temuan yang masih berada di Kecamatan Ciracap itu menyimpulkan, fosil yang ditemukan merupakan tulang paus purba. Jenis fosilnya hampir sama. Hanya saja hasil penelitian tersebut belum dipublikasikan.

Dengan penemuan fosil seperti ini, setidaknya bisa juga membantu riset mengenai tinggi air laut pada masa lalu dan keanekaragaman hayatinya. Mungkin pada masa lalu, hewan-hewan laut purba itu leluasa hilir mudik di perairan Sukabumi. Penelitian lanjutan diharapkan dapat mengungkap kekayaan alam Indonesia masa lalu.

Museum paus

Dalam perencanaan proyek wisata air itu, di lokasi penemuan fosil akan  dibangun ruang tunggu untuk para pengunjung. Setelah ditemukannya benda-benda tersebut, Ade Supriatna, pemilik lahan, mempersilakan tim Museum Geologi untuk melakukan langkah lebih lanjut. Oman sangat menghargai kepedulian masyarakat terhadap temuan seperti itu.

“Kami berharap ada keputusan segera dari pihak Museum Geologi, apakah akan diekskavasi atau tidak. Karena ini menyangkut kegiatan pembangunan tempat wisata yang sedang berlangsung. Supaya kami segera menentukan langkah. Kami ikut saja apa yang menjadi keputusan,” ujar Henda Pribadi yang diberi kuasa pengelolaan oleh pemilik lahan.

Henda berharap pemerintah membangun museum yang menampilkan ihwal  paus purba di lokasi itu. Kehadirannya akan menjadi bahan edukasi kepada masyarakat luas tentang jejak masa lalu daerah tersebut. “Dengan demikian akan tumbuh rasa bangga dan cinta terhadap tanah airnya,” kata pria yang akrab disapa Pahe itu. (Enton Supriyatna Sind)***

 

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: