Rabu, 3 Maret 2021

Bisnis Bibit Jadi Lokomotif Usaha Petani Muda

Aktivitas para petani mudah di Keboenkoe, Temanggung. Foto: Istimewa.

TEMANGGUNG.- Bisnis bibit pertanian bisa menjadi lokomotif kebangkitan usaha kaum muda. Usaha tersebut akan menciptakan produksi ekonomi sekaligus matarantai pasar finansial. Hal itu bisa dilihat dari kegiatan kelompok pertanian Keboenkoe yang berada di Dusun Kauman Desa Kaloran Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.

Menurut Ketua Yayasan Odesa Indonesia Cabang Temanggung, Andy Yoes Nugroho, peluang usaha di bidang pertanian butuh keberanian menguji coba dengan praktik. Ketika tim Kebunkoe dijalankan selama beberapa bulan, roda bisnis pun berjalan bagus bahkan melampaui target.

“Dulu di Kecamatan Kaloran tidak terbayang bisnis bibit bisa masif. Sebab kecamatan ini diasumsikan ekonomi petaninya lemah dan para pemudanya jarang yang peduli usaha tani. Setelah kami mendorong pimpinan pesantren agar santri mengambil peran dalam gerakan pembibitan, nyatanya cepat sekali perkembangannya,” kata Andy Yoes di Temanggung, Jumat (1/1/ 2021).

Andy menambahkan peran pemimpin kultural seperti kiai sangat strategis, karena gagasan mereka didengar pengikutnya. Tingkat loyalitas yang tinggi memudahkan mesin kerja kolektif dan efektif. Karena Odesa Indonesia memiliki gagasan peningkatan ekonomi, maka gerakan pertanian dimulai dari mindset bisnis.

Tapi tidak semata urusan bisnis, semangat kerja Odesa Indonesia adalah memajukan masyarakat dalam usaha perbaikan gizi dan juga penyelamatan lahan kritis dari bencana erosi. “Karena kita punya gagasan besar untuk perbaikan kehidupan, wirausaha yang dijalankan juga harus menyertakan target gizi dengan tanaman buah-buahan, termasuk juga tanaman herbal,” tuturnya.

Dengan demikian, tambahnya, manfaat besar dari gerakan ini meluas ke urusan bisnis yang berkelanjutan dan berkontribusi memperbaiki lingkungan. Bahkan Andy dan kawan-kawan juga menyertakan gerakan literasi botani agar petani muda lebih cerdas.

Potensi Kelor

Sementara itu Manajer Keboenkoe, Miftahul Huda, menjelaskan, usaha bisnis bibit ini terbilang cepat bahkan melampaui target. Suplay bibit yang diproduksi sendiri cepat habis, sehingga kemudian muncul model bisnis kerjasama dengan daerah lain, terutama dari Purworejo untuk memasok bibit.

“Bibit-bibit tanaman laris semua. Alpukat, durian, jahe merah, sirsak, manggis, kelengkeng hingga kelornya pun cepat habis. Dalam satu bulan rata-rata penjualan mencapai Rp 20.000.000. Dengan keuntungan rata-rata 20 persen, lumayan buat operasional. Artinya kita punya peluang sepanjang musim hujan senilai Rp 120.000.000 dari hasil penjualan di tahun pertama,” kata Huda.

Ditemui di Lokasi Pembibitan Dusun Dakaran Desa Kaloran, Huda mengatakan, saat ini dia dan belasan  petani muda alumni Pesantren Ridho Allah Kaloran sedang fokus pada usaha perluasan pembibitan, terutama tanaman herbal kelor (moringa oleifera). Sebab menurutnya, kelor memiliki manfaat bagus buat gizi dan bisnis sekaligus. Bulan Januari 2021 ini ia akan membibitkan 5.000 pohon. Setengahnya ia akan tanam sendiri dan dijadikan penghasil daun kering, setengahnya akan dijual ke masyarakat.

“Saya optimis dengan kelor, karena sudah lebih dua tahun mengelola bisnis kelor di Bandung. Jadi tidak ada keraguan dalam bisnis daun kelor. Target pengembangan kelor adalah memberi manfaat pada gizi, kesehatan dan juga membuka lapangan ekonomi baru,” katanya. (Sup)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: