Sabtu, 24 Juli 2021

Sang Gubernur Datang dengan Menunggang Keledai

ilustrasi

SALMAN Al Farisi adalah salah seorang sahabat besar Rasulullah SAW. Dia punya kedudukan tersendiri di samping Nabi. “Seandainya ilmu itu berada (jauh) di bintang Tsurayya, niscaya orang-orang dari mereka ini akan mampu meraihnya,” kata Nabi sambil menunjuk Salman, yang berasal dari Persia (Iran).

Pada era Khalifah Umar bin Khattab, sosok sederhana itu ditugaskan sebagai Gubernu Madain di Kufah (sekarang wilayah Irak). Maka berangkatlah Salman ke Kufah untuk memulai tugasnya.

Mendengar gubernur baru akan datang, warga Kufah memadati jalan raya ingin menyambut pemimpin mereka. Warga menyangka Sang Gubernur akan diiringi  rombongan besar  dengan segala keramaian.

Cukup lama warga menunggu kadatangan Salman. Tapi hingga lelah rakyat menunggu, rombongan itu tidak datang juga.  Malah kemudian tampak mendekat seorang lelaki menunggang seekor keledai yang  berjalan berjalan pelan.

“Apakah, kamu melihat rombongan Gubernur Salman menuju ke sini?” tanya sejumlah penduduk. “Akulah Salman Al-Farisi,” jawab lelaki itu. Penduduk Kufah tidak percaya begitu saja, bahkan dikiranya si penunggang keledai sedang mencemooh mereka.

Setelah dijelaskan sedemikian rupa, barulah mereka yakin orang itu adalah gubernur yang ditunggu-tunggu. Warga tidak menyangka sama sekali, orang bersahaja di depan mereka adalah pimpinan tertinggi di wilayah tersebut.

Kuli panggul

Suatu hari,  Salman berjalan menyusuri pasar untuk melihat langsung kehidupan rakyatnya.  Tiba-tiba seorang terkemuka di kota itu memanggilnya, agar mengangkut barang belanjaannya. Dia sangka Salman adalah kuli panggul.

Tanpa banyak bicara, Salman pun memanggul barang tersebut dan berjalan mengikuti orang kaya itu dari belakang. Salman melakukannya dengan sungguh-sungguh.

Namun di tengah perjalanan ada orang yang mengenalinya sebagai gubernur.  “Semoga Allah selalu menolong gubernur dan menambah kebaikannya,” katanya penuh hormat.

Betapa kaget dan malunya orang kaya itu. Dia berkali-kali mohon maaf atas kelancangannya. Namun Salman tidak menganggap hal itu sebagai kesalahan. Malah dia menyelesaikan tugasnya mengantar barang itu sampai tujuan. (Enton Supriyatna Sind)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: