Selasa, 21 September 2021

Oto Iskandar di Nata Setelah 75 Tahun

Oto Iskandar di Nata

“Bagaimana cara pemindahan kekuasaan dapat dilakukan?”

tanya Oto Iskandar di Nata kepada Soekarno.

“Ini bukan bukan pemindahan,” jawab Soekarno. “Tindakan itu akan bersifat ‘penyerahan’.”

Oto tetap menginginkan kata “pemindahan”, karena tidak mengandung paksaan.

Akhirnya, kata “pemindahan” disepakati bersama.  Sebelumnya kata tersebut

diubah Soekarno  dengan kata “penyerahan”.

Kutipan dialog di atas menunjukkan adanya fakta kehadiran Oto Iskandar di Nata dalam rapat perumusan naskah proklamasi, Jumat, 17 Agustus 1945. BM Diah sebagai pelaku sejarah, merekam peristiwa penting itu dalam bukunya, “Angakatan Baru ‘45” (1983, h. 243-44).

Selain Oto, tokoh asal Sunda lainnya yang memberi masukan adalah Iwa Kusumasumantri. Menyusul disepakatinya kata “pemindahan”, maka Iwa menyarankan kata “diselenggarakan” untuk menggantikan kata “diusahakan”. Coretan-coretan dalam naskah asli tulisan tangan Soekarno yang berhasil diselamatkan Diah, mengabadikan dinamika rapat pada dinihari itu.

Selain mengungkap kehadiran Oto pada peristiwa itu, Diah juga mengkonfirmasi keberadaan Oto dalam foto Kabinet RI yang pertama. Penjelasan Diah menjawab keraguan yang selama ini menggantung, apakah sebagai menteri negara, Oto ikut diabadikan dalam foto yang legendaris itu? Menurut Diah, posisi Oto dalam foto itu ada di baris kedua, yaitu di antara Soekarno (baris pertama) dan Ali Sastroamidjodjo (baris ketiga).

Dengan kesaksian BM Diah ini, kita diingatkan bahwa Oto terlibat dalam hampir semua peristiwa paling menentukan menjelang kemerdekaan RI. Selain ikut merumuskan naskah proklamasi, sebagaimana sudah popular, Oto ikut “menentukan” presiden dan wakil presiden RI yang pertama melalui sidang PPKI.

Dengan keterlibatan yang sangat mendalam itu, menjadi aneh ketika di kemudian hari ada sejumlah pihak yang meyakini bahwa Oto berkhianat pada Repubik Indonesia. Ada yang menyebutnya sebagai mata-mata sekutu/NICA, ada juga  yang menuduhnya menjual kota Bandung.

Tuduhan berkhianat

Priyatna Abdurrasyid, seorang pelaku sejarah dalam peristiwa Bandung Lautan Api, dalam memoar yang dituturkannya kepada Ramadhan KH (2001)  mengutarakan, “Mundurnya pasukan dari Bandung yang dikosongkan ternyata kemudian dikambinghitamkan kepada Oto Iskandar di Nata yang pada saat itu diculik oleh pasukan tak dikenal dan dibunuh di Mauk, Tangerang” (h.70).

Menurut Priyatna, selain informasi yang simpang siur tentang ditangkapnya Oto, kabar itu disertai pula tuduhan bahwa Oto telah menjual Bandung kepada Sekutu. Sebagai prajurit muda, Priyatna tak bisa mengerti adanya fitnah itu. Ia hanya bisa merasakan bahwa tuduhan itu sebagai bagian dari permainan politik tingkat tinggi.

Sampai hari ini masih ada yang meyakini bahwa Oto benar-benar berkhianat. Hal ini menunjukkan fitnah terhadap Oto itu terkesan “dipelihara”. Tuduhan itu, sekalipun tidak terbuka dan tertulis, seolah-olah kebenaran sejarah yang terus diwariskan dan tidak pernah ada klarifikasi dari pihak-pihak yang melakukannya.

Padahal tuduhan itu tidak pernah bisa dibuktikan. Sementara Oto sebagai tertuduh, telah mengalami nasib yang menggenaskan dan keluarganya dalam waktu yang cukup lama harus menjalani hidup yang “sengsara”. Nonoman Sunda pun menjadi berjarak dengan tokoh yang seharusnya menjadi kebanggaan mereka itu.

Bagaimana sebenarnya duduk perkara yang membuat Oto difitnah sebagai mata-mata Sekutu/NICA dan menjual kota Bandung satu miliun? Awalnya adalah pertemuan Oto dengan Kusna Poeradiredja di Jakarta, di rumah Ijos Wiriaatmadja.

Kusna pada waktu itu meyakini bahwa NICA akan menang perang sehingga ia memilih berada di pihak NICA. Karena Kusna mantan tokoh JOP (organ pemuda dalam paguyuban Pasundan),  Oto meminta Ukar Bratakusumah, kawan seangkatannya, agar menemui Kusna untuk dapat dibujuk memihak republik. Akan tetapi kedua pemuda itu tidak berhasil menemukan titik temu, Kusna tetap di pihak NICA.

Sementara soal uang satu miliun, itu adalah pemberian seorang perwira Jepang bernama Ichiki Tatsuo. Biografi Mr. Soedjono yang disunting Soebagijo IN (1983) menjelaskan soal ini.  Oto dan Ichiki akrab melalui dunia jurnalistik. Keduanya sama-sama menerbitkan majalah dwimingguan Peradjoerit, media untuk tentara PETA dan Heiho.

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, di antara para perwira Jepang yang memiliki akses pada uang rampasan, ada yang memilih untuk memberikannya kepada tokoh-tokoh Indonesia yang mereka percayai, untuk digunakan sebagai bekal perjuangan. Uang itu berasal dari rampasan perang ketika Jepang mengalahkan Belanda pada 1942, maka uangnya berupa gulden Belanda.

Sejumlah pertanyaan

Dari “pengakuan” Ichiki ini jelaslah asal-usul Oto memiliki jutaan uang Belanda itu. Yang perlu dicatat, informasi Oto menerima uang dari Ichiki pastilah sangat terbatas pada kalangan elit nasional saja. Tidak mungkin sekelompok orang dari pinggiran Tangerang mengetahui informasi seperti ini, apalagi berkaitan dengan jumlahnya.

Jadi, mengapa Laskar Hitam tahu? Siapa yang membagi informasi kepada mereka di tengah kecamuk revolusi saat itu? Dan yang luput dipertanyakan selama ini, setelah Oto diculik, siapa yang mengambil uang itu?

Atau pertanyaan lugasnya, siapa yang kemudian jadi kaya setelah Oto dibunuh? Sebab jelas Oto belum sempat mempergunakan uang itu dan keluarganya pun tidak tahu menahu dengan informasi tersebut. Kalau mau sedikit teliti, mengurai soal ini juga tidaklah terlalu sulit.

Dengan demikian, tuduhan bahwa Oto menjadi mata-mata NICA dan menjual Bandung adalah tuduhan yang gegabah dan semena-mena. Dua fitnah yang jelas merugikan nama baik Oto dan keluarganya. Kalau sebuah hadits Nabi menyatakan “fitnah lebih kejam dari pembunuhan”, maka Oto mengalami kedua-duanya, pencemaran nama baik & pembunuhan yang sadis.

Oto lahir 31 Maret 1887 wafat 20 Desember 1945. Apa pun, pada 20 Desember 2020 ini, tepat pada hari wafat “Si Jalak Harupat”, pernyataan para pemuda Sunda yang berkongres pada 1956, masih relevan untuk kita ikuti, “Dewi Sartika jeung Oto Iskandar di Nata kudu dipieling unggal taun salaku Ibu jeung Bapa Sunda.” (Iip D. Yahya, penganggit buku Oto Iskandar di Nata the Untold Stories)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: