Minggu, 25 Juli 2021

Program Petani Milenial, Jangan Malah Timbulkan Masalah

Petani dan lahan pertanian di Kawasan Bandung Utara. Foto: ESS

BANDUNG.- Gagasan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, menjalankan program 1.000 petani milenial untuk menumbuhkan minat bertani di kalangan anak muda, harus dirancang secara matang dan bukan hanya sebatas pelaksanaan program. Kegiatan tersebut harus menjadi solusi dan bukan menjadi masalah di kemudian hari.

“Secara program bagus. Artinya ada upaya untuk memberdayakan kaum muda di bidang pertanian. Juga agar mereka berperan serta dalam pertumbuhan agraria di Jawa Barat. Tapi semuanya harus dimatangkan dulu, supaya tidak jadi masala nantinya,” ujar Ketua Yayasan Odesa Indoesia, Faiz Manshur, Jumat (11/12/2020).

Menurut Faiz, yang selama ini bergiat dalam pendampingan petani, program itu akan menyangkut persoalan tanah, sumber daya manusia, peralatan pertanian, dan juga kelengkapan lain yang mendukung. Semuanya harus dirumuskan supaya kegiatan berjakan baik dan hasilnya baik.

“Berapa luas tanah yang siap dipinjamkan untuk setiap petani, di mana lokasinya dan siapa saja kaum milenial yang akan dilibatkan, adalah sebagian dari pertanyaan yang harus dicarikan jawabannya dengan tapat,” kata Faiz Manshur.

Selain itu, persoalan yang seringkali muncul di tengah masyarakat petani, juga harus menjadi bahan pemikiran. Karena kegiatan bertani bukan hanya mengolah lahan, menanam dan memanennya, akan tetapi lebih dari itu. Para petani muda yang akan direkrut harus dibekali pengetahuan tentang itu.

Jika memang akan melibatkan anak-anak muda yang menguasai teknologi atau pengetahuan pertanian yang mumpuni, kata Faiz, maka jangan kepalang  jadikan itu sebagai sebuah projek percontohan. Karena mayoritas aktivitas bertani saat ini tidak sesuai dengan kaidah seharusnya di zaman sekarang.

“Misalnya, kegiatan pertanian berlangsung di lahan resapan air atau yang bukan peruntukannya, sehingga berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Celakanya, justru pemerintah memberi dukungan dengan menjadikan kawasan tersebut sebagai sentra tanaman tertentu. Nah, yang seperti ini harus diluruskan,” tuturnya.

Kurang diminati

Seperti diketahui, Gubernur Ridwan Kamil menungkapkan hasil survei pertanian antar-sensus  2018 yang dilakukan Badan Pusat Statistik. Disebutkan, jumlah petani di Jabar mencapai 3.250.825 orang. Dari jumlah tersebut, petani yang berusia 25-44 tahun hanya 945.574 orang atau 29 persen.

Angka itu menggambarkan kegiatan pertanian belum menarik perhatian kaum muda. Karena itu Pemprov Jabar berencana membuat program 1.000 petani milenial, untuk menumbuhkan minat bertani di kalangan anak muda.

Pemprov akan meminjamkan lahan-lahan menganggur di seluruh Jabar, untuk dikelola kaum milenial yang sudah diseleksi. Mereka harus menguasai teknologi dan ilmu pertaniannya. Dengan cara itu, mereka yang lulus dari universitas tidak usah berpikir untuk berangkat Bandung atau Jakarta, sebab di desa bisa hidup sejahtera. Saat ada ratusan hektar lahan di Jabar telah disiapkan untuk petani millenial. (Sup)***

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: