Sabtu, 23 Oktober 2021

Pejuang Bandung Kesal Disebut “Peuyeum Bol”

Puing-puing gedung yang dibakar di Bandung masa revolusi 1945. Foto: Istimewa

PEUYEUM bol adalah adalah sejenis kue, makanan khas Bandung yang terbuat dari tape singkong. Bentuknya bulat seperti bola tenis dengan diameter 5 cm. Agar bisa dimakan, peuyeum ini digoreng hingga kuning kecokelatan, lalu ditaburi  gula halus. Rasanya manis, berbeda dengan peuyeum (tape) biasa.

Namun dalam sejarah perjuangan rakyat Bandung  mempertahankan kemerdekaan, “peuyeum bol” juga memiliki konotasi lain yang tidak mengenakkan. Pada suatu masa, para pejuang di Bandung merasa sangat tersinggung, dengan ejekan “peuyeum bol” yang ditujukan kepada mereka. Peuyeum dimaknai sebagai lembek, tidak bersemangat, tidak ada ada daya juang atau gampang kalah.

Munculnya ejekan “peuyeum bol” bagi para pejuang di Bandung, bisa ditelusuri hingga ke peristiwa penyerangan markas Kenpetai Jepang di Heetjans Weg (sekarang Jln. Sultan Agung) pada tanggal 10 Oktober 1945 yang dipimpin Komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Suhari. Kenpetai adalah polisi rahasia sekaligus intelijen tentara Jepang yang terkenal kejam. Bentrokan senjata tidak bisa dielakkan lagi.

Insiden bermula dari rencana  perundingan agar Jepang bersedia menyerahkan senjata kepada pihak BKR secara baik-baik. Tetapi karena sikap Jepang yang arogan dan tidak mudah diajak dialog, terjadilah kesalahpahaman. Tanpa ada perintah, seorang pejuang yang kesal menghadapi situasi seperti itu, tiba-tiba meletuskan senjata api hingga seorang tentara Jepang menjadi korban.

Pihak Jepang marah dan mengusir pasukan BKR dari gedung mereka dengan kekerasan. Karena persenjataan tidak memadai, pasukan BKR pun mundur. Pihak Jepang yang mengerahkan panser, memerintahkan Suhari naik kendaraan tersebut.

Suhari ditodong dan diminta agar anak buahnya menyerah. Tidak hanya itu, tentara Jepang juga melakukan razia ke rumah-rumah penduduk dan merampas segala senjata milik warga. Tidak ada pilihan lain bagi para pejuang selain menghindari terjadinya bentrokan lebih lanjut.Kejadian itulah yang kemudian melahirkan ejekan “pemuda peuyeum bol”. Ejekan itu antara lain datang dari Surabaya.

Wali Kota Bandung saat itu, R.A. Atmadinata berang dan menyatakan tekadnya untuk melakukan serangan pembalasan guna memperoleh kembali senjata. Ada tiga sasaran penyerangan yang dilakukan pada 11 Oktober 1945, yaitu Gedung Jaarbeurs (sekarang Kologdam Siliwangi), Lapangan Andir dan Tegallega. Sasaran pertama dan kedua gagal. Namun markas Jepang di Tegallega berhasil dikuasai.

Klarifikasi Bung Tomo

Menurut R. Jus Rusady Wirahaditenaya, yang malang melintang dalam perjuangan di Bandung Timur,  ejekan itu  rupanya memicu semangat para pemuda di Bandung untuk berjuang lebih keras.Maka pada bulan November 1945, Didi Kartasasmita dan sejumlah mantan KNIL (tentara di bawah Kerajaan Belanda) membentuk Komandemen I Jawa Barat sebagai bagian dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Dengan senjata hasil rampasan dari tentara Jepang dan Gurkha (Inggris), para pejuang Bandung terlibat dalam sejumlah pertempuran melawan pasukan Inggris/Gurkha dan kaki tangan NICA seperti di Stasiun KA/Viduct, Cicadas, Jalan Lengkong dan sebagainya. Sementara itu istri Arudji Kartawinata (Komandan Divisi III) membentuk satuan perempuan pejuang  yang dinamakan Laswi atau Lasjkar Wanita.

Ejekan “pemuda peuyeum” itu salah satunya dilontarkan melalui corong Radio Pemberontak Surabaya. Radio tersebut sangat identik dengan keberadaan tokoh Bung Tomo. Dengan demikian para  pejuang Bandung menduga ejekan itu datang dari Bung Tomo.

Namun, setelah masa perjuangan memperebutkan kemerdekaan usai, Amir Machmud yang merupakan pejuang dari Bandung dan kemudian menjadi Menteri Dalam Negeri RI, pernah menanyakan langsung hal itu kepada Bung Tomo. Ternyata pahlawan  yang terkenal dalam peristiwa 10 November 1945 itu  membantah tegas.

Menurut Bung Tomo, saat itu ada seorang pemuda asal Bandung yang kesal mendengar para pemuda Bandung belum juga  menyerbu pihak Sekutu. Lambatnya gerakan pemuda Bandung menyerbu tentara Inggris dibandingkan dengan pemuda Surabaya, membuat kesal pejuang Bandung yang tinggal di Surabaya tersebut.

Dia lantas meminta izin kepada Bung Tomo untuk berbicara melalui corong radio. Dengan menggunakan bahasa Sunda, pemuda tersebut memberi semangat kepada kompatriotnya di Bandung dengan menyertakan istilah  “peuyeum bol”. Orang-orang yang bekerja di stasiun radio tersebut tentu saja tidak mengerti apa yang dikatakan si pemuda itu. (Enton Supriyatna Sind, dari buku Merah Putih di Gedung Denis)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: