Jumat, 22 Oktober 2021

Di Mana Pertama Kali Nabi Salat Jumat?

Masjid Jumat. Foto: Wikipedia

SAAT berkeliling Madinah, jemaah umrah atau haji, akan diberi tahu pembimbing atau pemandu tentang Masjid Jumat. Namun rombongan jarang yang singgah di lokasi itu. Kebanyakan lebih memilih singgah di Masjid Quba lalu melaksanakan salat sunat dua rakaat di masjid tersebut. Padahal Masjid Jumat adalah tonggak penting dalam sejarah Islam. Di situlah pertama kali Nabi Muhammad salat Jumat.

Perintah salat Jumat sendiri turun di Mekah, bersamaan dengan perintah salat lima waktu. Namun karena Rasulullah masih berada di Mekah dan kondisi belum memungkinkan, kewajiban salat yang mensyaratkan diikuti jemaaah dalam jumlah banyak, itu ditunda.  Salat Jumat pertama kali dilakukan, ketika Nabi hijrah ke Madinah.

Menurut berbagai referensi, pada Senin, 12 Rabiul Awal 1 Hijriyah atau 23 September 622 M, Nabi Muhammad dan Abu Bakar as-Shiddiq sampai  Desa Quba yang  tidak jauh dari Madinah. Beliau berhenti di rumah Kaltsum ibn al-Hidam, seorang dari Bandi Amru bin Aif ibn Malil ibn Al-Aus. Warga desa itu menyambut kedatangan Rasulullah dengan suka cita. Rasulullah beristirahat di tempat itu.

Satu atau dua hari kemudian, Ali bin Abi Thalib tiba dari Makkah dan tinggal di rumah yang sama dengan Rasulullah. Rombongan dari Mekah itu berada di Quba selama empat hari yaitu sejak Senin hingga Kamis. Nabi dan para sahabat kemudian membangun masjid. Itulah masjid pertama dalam sejarah Islam. Nabi sendiri yang meletakkan batu pertamanya. Masjid itu kemudian diberi nama Masjid Quba.

Baitul Maqdis

Menurut Dr. Muhammad Ilyah Abdul Ghani dalam bukunya Sejarah Madinah Munawwarah, ketika meneruskan perjalanan menuju Madinah tiba waktu zuhur pada hari Jumat di perkampungan Bani Salim. Lokasinya sekitar 1 km sebelah utara Masjid Quba. Bani Salim berasal dari suku Khazraj di samping Wadi (lembah) Ramuna atau 2,5 km dari Masjid Nabawi.

Nabi dan para sahabat kemudian salat Jumat di lembah itu, dengan menghadap ke Baitul Maqdis (AlAqsa di Palestina). Dr. Nizar Abadzhah dalam buku Ketika Nabi di Kota, menuliskan isi khutbah Jumat pertama kali yang disampaikan Nabi.  Agar di dengar segenap kaum muslim, Nabi meminta seseorang yang tubuhnya paling tinggi dan bersuara lantang berdiri dan mengulangi apa yang dikatakan Nabi.

Untuk mengenang pelaksanaan salat Jumat pertama kali  itu, maka didirikanlah sebuah masjid di lokasi tersebut. Masjid itu diberi nama Masjid Jumat. Menurut HM Iwan Gayo dalam Buku Pintar Haji dan Umrah, Masjid Jumat ketika itu berukuran 7 X 5,5 meter persegi.

Perluasan dan renovasinya, termasuk instalasi AC, dilakukan Raja Fahd pada tahun 1412 H (1992 M) dengan menelan biaya SAR 15 juta. Masjid berdaya tampung 650 jemaah itu memiliki kubah berdiameter 12 meter dan menara setinggi 25 meter. (Enton Supriyatna Sind)***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: