Minggu, 16 Mei 2021

Gamelan Sari Oneng, Milik Sukabumi Dititipkan di Sumedang

Gamelan Sari Oneng. Foto: ESS

SALAH satu ikon Museum Prabu Geusan Ulun (MPGU) adalah Gamelan Sari Oneng Parakansalak. Menurut penuturan pihak museum dan cerita yang selama ini beredar, gamelan tersebut pernah melanglang buana ke beberapa negara Barat. Juga pernah menjadi alat musik yang menduduki posisi istimewa di tengah masyarakat, khususnya di Sukabumi.

Kekaguman terhadap gamalen itu diungkapkan pula CEO The Lodge Group,  Heni Smith. “Kami tertarik dengan koleksi museum ini dan ingin mengelolanya secara lebih profesional,” katanya usai penandatanganan kerja sama antara perusahaan tersebut dan Yayasan Nazhir  Wakaf Pangeran Sumedang dalam pengelolaan MPGU, di Bale Agung Srimanganti, beberapa waktu lalu.

Namun meski alat musik tradisional itu sudah sekian lama berada di MPGU, ternyata bukanlah milik Kabupaten Sumedang . “Gamelan itu milik Kabupaten Sukabumi. Data sejarahnya lengkap,” kata  Irman Sufi Firmansyah, Ketua Yayasan Dapuran Kipahare dan Kepala Riset dan Kesejarahan Soekabumi Heritages, kepada apakabar.news, Sabtu (28/11/2020).

Menurut Irman, selama ini banyak pihak yang salah kaprah tentang asal-usul gamelan yang menjadi kebanggaan warga Sukabumi itu. Misalnya, pada 2019 ada pergelaran di Aula Simfonia Jakarta bertajuk “Impressions Universelles”. Acara diadakan sebagai rekonstruksi mengenang selebrasi 130 tahun peresmian menara Eiffe di Paris, Prancis tahun 1889.

Kegiatan tersebut mendapatkan komplain dari para seniman dan sejarawan Sukabumi. Bukan tidak setuju pada acaranya. Melaikan ada kejanggalan pada spanduknya yang menyebutkan, Gamelan Sari Oneng Parakansalak Sumedang. “Ini penyesatan sejarah. Apakah benar Gamelan Sari Oneng Parakansalak berasal dari Sumedang?” tanyanya.

Berdasarkan riset kesejarahan dan literatur-literatur yang ada, kata Irman, terbukti Gamelan Sari Oneng Parakansalak itu dipesan  Adriaan Walrafen Holle tahun 1854, seorang administratur perkebunan teh di Parakansalak Sukabumi.  Memang logamnya dibuat dan dipesan dari Sumedang, sedangkan rancak (tempat dudukan gamelan, red) dibuat dan dipesan dari Thailand.

Untuk menghibur

Awalnya Holle membeli dan membuat seperangkat gamelan untuk menghibur para pekerja perkebunan. Dia sendiri sangat lihai memainkan salah satu alat musik tersebut yakni rebab. Kelompok Sari Oneng rutin berlatih sambil melepas penat selepas bekerja di perkebunan. Pada masa itu, perkebunan adalah tempat terpencil. Sedangkan lokasi awal perkebunan di Parakansalak dan Sinagar.

Pada masa itu sempat ada kampanye  “Visit Parakansalak and Sinagar”,tur wisata ke dua daerah tersebut yang sudah dikenal para pelancong Eropa.  Wisatawan  disuguhi sajian tur perkebunan dengan berkuda, dan hiburan pentas gamelan Sari Oneng dan wayang golek. Berbagai kegiatan di kalangan elit pun menjadikan pergelaran gamelan tersebut sebagai menu wajib.

Dituturkan Irmam, saat peresmian jalur kereta api Bogor-Sukabumi pada Maret 1882, Sari Oneng Parakansalak menyambut para tamu undangan, tuan tanah, dan pejabat yang pertama kali menaiki KA. Kemudian pada 1883, Gustaf CFW Mundt  -pengganti Holle- membawa rombongan gamelan itu ke acara pameran di Amsterdam, Belanda.

Panitia pameran meminta gamelan distel agar dapat memainkan lagu-lagu langgam diatonik  tujuh nada.  Kembali ke Hindia Belanda, gamelan diatonik ini memainkan lagu kebangsaan Belanda Het Wilhelmus, saat menjamu Gubernur Jendral Cornelis Pjnaker Hordijk yang datang ke Sukabumi pada Agustus 1889.

Melawat ke Paris

Setelah tampil di Belanda, selanjutnya Sari Oneng mengikuti pameran di Paris Prancis selama enam bulan pada 1889 berkaitan peresmian Menara Eiffel. Pameran internasional lain juga sempat diikuti yaitu The World’s Columbia Exposition International di Chicago, Amerika Serikat pada 1893.

“Pemimpin rombongan ini adalah seorang pekerja perkebunan sekaligus pemain rebab bernama Suminta Mein. Anak perempuan Suminta yakni Iyi Endah, adalah istri dari Boreel yang menjabat administratur di Parakansalak. Penampilan mereka sempat direkam.  Itu menjadi rekaman gamelan tertua di dunia,” tutur Irman.

Setelah jalan-jalan di luar negeri, Sari Oneng kembali ke Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Gamelan Sari Oneng tetap digunakan dalam berbagai acara kalangan elit. Ketika Jepang masuk ke Indonesia pada 1942, gamelan tersebut disembunyikan Bupati Sukabumi Soeria Danoeningrat. Karena khawatir pihak Jepang melebur logamnya untuk peralatan perang.

Karena jasa baiknya, Administratur Parakansalak, MOA Huguenin menghadiahkan Gamelan Sari Oneng kepada Soeria Danoeningrat  (saat itu sudah mantan bupati) pada 1957. Setelah Soeria wafat pada 1975, keturunannya menitipkan Sari Oneng ke MPGU.

Plakat kepemilikan Gamelan Sari Oneng Parakansalak kepada ahli waris R.A.A Soeria Danoeningrat masih tertera dalam keterangan di MPGU. Tertera pula, gamelan tersebut dititipkan kepada MPGU  Kabupaten Sumedang untuk dirawat. (Enton Supriyatna Sind)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: