Sabtu, 15 Mei 2021

Menanam Pohon, Perbuatan Mulia

Menanam pohon sejak dini. Foto: ESS

SETIAP tanggal 28 November, diperingati sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia. Penetapannya dilakukan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 24  Tahun 2008. Tujuannya supaya  pemerintah dan masyarakat peduli bahwa menanam pohon itu penting bagi kelangsungan hidup. Apalagi waktu itu keadaan krisis lingkungan semakin parah.

Jika dirangkum, masalah makronya adalah perubahan iklim global, degradasi dan deforestasi hutan dan lahan, serta kerusakan lingkungan lain. Akibat dari keadaan itu, Indonesia semakin mengalami krisis sumber daya alam. Pertanian juga semakin minim produktivitas dan tragisnya lingkungan hidup semakin rusak.

Pohon adalah sumber kehidupan. Makhluk hidup butuh air, karena itu butuh pohon. Kita butuh hidup tanpa bencana banjir atau angin kencang, kita butuh pohon. Bahkan kita butuh karbon bertahan di bumi juga harus banyak pohon. Lebih penting lagi, semua makhluk hidup membutuhkan oksigen, dan pohon adalah kata kunci untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Berdasarkan data, kandungan oksigen dalam udara yang kita hisap sehari-hari rata-rata hanya 23%. Sisanya merupakan gas-gas lain yang sebenarnya tidak dibutuhkan tubuh. Kandungan gas O2 tersebut akan menebal di daerah tempat pepohonan tumbuh,  karena pohon menghasilkan oksigen dalam proses metabolismenya.

Sebuah pohon dewasa menghisap karbondioksida sebanyak kira-kira 24 kilogram setiap tahun. Sebagai pengganti, pohon ini mengeluarkan oksigen cukup untuk dihisap 2 orang dewasa selama setahun penuh. Dalam setahun sebuah pohon kira-kira menghasilkan oksigen sekitar 130 kilogram. Semakin banyak pohon di suatu daerah akan membuat kadar oksigen di area tersebut meningkat.

Sebab itulah, menanam pohon jauh lebih penting ketimbang sekadar peringatan seremonial Hari Menanam Pohon. Apalagi kalau tujuannya sekadar menyerap anggaran di akhir tahun. Kebiasaan kita adalah beraktivitas alkadarnya, cukup seremoni dan berswafoto. Usai kegiatan, tidak tahu lagi bagaimana nasib pohon bersangkutan.

Tindakan mulia

Mari menanam pohon dan lanjutkan merawat sekaligus menggandakan. Itulah cara berpikir yang paling tepat. Menanam pohon bukan pekerjaan petani. Menanam pohon adalah tugas manusia. Karena pada intinya, yang membedakan manusia dengan hewan adalah menanam.

Kita tidak bisa berharap pohon menyebar karena proses kerja evolusi alam: kerja angin menerbangkan benih, kerja  burung menjatuhkan biji atau kerja alamiah spesies menyebarkan biji dari proses pembuangan tinja. Itu sungguh terlalu lama. Sementara manusia paling cepat dan paling banyak mengonsumsi makanan, pakaian dan rumah dengan menebang kayu.

Menanam adalah tindakan mulia. Tetapi sekadar menanam tanpa berpikir, jelas tidak akan menjawab masalah, apalagi jika bertanam pohon hanya pada hari peringatan dengan sekadar hura-hura. Kita butuh keseriusan mengatasi persoalan hidup. Bumi telah rusak. Ekosistem banyak yang mandeg sementara kita membutuhkan ruang kehidupan yang sehat.

Tanami bumi dengan pohon karena sudah banyak yang sakit. Pohon yang beranekaragam karena keanekaragaman hayati itu, selaras dengan kebutuhan asasi manusia yang senantiasa akan sehat kehidupannya kalau bisa berpikir dan menjalankan kebhinekaan.

Setiap hari kita butuh makan dari tanaman. Rumah yang kita tempati banyak membutuhkan pohon. Dan udara yang kita hirup untuk kelangsungan hidup sangat ditentukan oleh pohon. Jika tak bisa menanam pohon setiap hari, berjalinlah dengan para penanam pohon.

Lahan kritis

Lingkungan hidup kita banyak mengalami kerusakan. Ada yang rusak karena pembangunan tanpa kendali negara. Ada pula kerusakan lingkungan akibat rendahnya moral kemanusiaan. Kita lihat juga kegiatan ekonomi pertanian yang merusak lingkungan. Dari semangat menjawab problem inilah mestinya kita menjadikan peringatan sebagai pemicu, bukan sebagai target kegiatan itu sendiri.

Hingga akhir tahun 2018 lalu, di Jawa Barat terdapat sedikitnya 47.000 ha lahan kritis, yang tersebar di 10 kota dan kabupaten. Berbicara lahan kritis, berarti bicara tentang kerusakan lingkungan. Bicara tentang lahan yang tidak lagi berfungsi seperti yang diamanatkan alam. Kawasan Bandung utara adalah salah satu contohnya.

Tidak mungkin persoalan lingkungan dihadapi sendirian atau oleh sekelompok orang. Perbaikan lingkungan membutuhkan kebersamaan, kesabaran dan waktu yang panjang. Kita bisa memulainya dari lingkungan paling dekat: rumah sendiri. Menanam dan terus menanam tanpa henti, karena pepohonan juga memberikan kebaikannya kepada kita tanpa henti. (Enton Supriyatna  Sind)***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: