Sabtu, 15 Mei 2021

Lobster,  Dulu untuk Kaum Sulit Kini Makanan Elit

Makanan olahan lobster. Foto: pergikuliner.com

”LOBSTER mutiara, berat kira-kira 1,2 kilogram sampai dengan 1,4 kilogram, harga per kilogramnya saat ini minimal Rp 5 juta. Bibitnya diambil dari laut. Diekspor ke Vietnam per ekor cuma Rp 139.000. Bener kita harus ekspor bibitnya? Apa tidak lebih baik menunggu besar dan dijual dengan harga lebih dari 30 kalinya?”

Itulah cuitan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Susi Pudjiastuti di akun Twitter-nya  pada 14 Desember 2019. Perempuan ini menolak keras rencana  Edhy Prabowo, yang menggantikan posisinya, untuk membuka kembali keran ekspor benih lobster. Ekspor satwa laut inilah yang menurut KPK, berkaitan dengan penangkapan Edhy Prabowo, Rabu (25/11/2020) dini hari di Bandara Soekarno-Hatta.

Pada beberapa kesempatan, Susi Pudjiastuti mengungkapkan, ekspor lobster akan lebih bernilai tinggi jika dijual saat dewasa. Sedangkan ekspor bayi lobster (benur) secara besar-besaran mengancam kelestarian plasma nutfah. ”Lobster bernilai ekonomi tinggi, tidak boleh punah hanya karena keserakahan kita untuk menuai bibitnya, dengan harga yang seperseratusnya pun tidak. Negara maju lain penghasil lobster melarang penjualan bibit lobster,” ujarnya.

Susi menjelaskan mengapa dirinya mengeluarkan kebijakan melarang perdagangan benur. Soalnya, hingga kini, lobster belum bisa dibibitkan secara artificial breeding (pembiakan buatan). Semua hasil pemijahan alam. Jadi kalau tidak jaga induk dan juga usia remajanya, cepat atau lambat akan punah.

Seharusnya, plasma nutfah dilindungi negara. Pengambilan plasma nutfah biasanya hanya untuk tujuan penelitian. Bila negara memutuskan untuk melakukan komersialisasi dengan tujuan budi daya pembesaran, pengawasan dan perhitungannya harus benarbenar ketat.

Makanan rendahan

Lobster kini menjadi salah satu menu yang dianggap cukup mewah dan mahal  dan disajikan di restoran-restoran. Melihat fisiknya di atas meja makan dengan olahan sedemkian rupa, sangat menggiurkan untuk cepat disantap. Akan tetapi, mungkin jarang yang tahu bahwa makanan ini pada mulanya adalah menu kalangan ekonomi sulit, kaum papa.

Pada abad 17 dan 18, seperti diungkapkan Knowledge Nuts, di Amerika Serikat lobster sangat mudah didapatkan.  Hanya cukup memancing satu jam, seseorang akan mendapat satu ember penuh lobster. Namun ternyata warga setempat saat itu sering mengalami keracunan usa menyantap lobster. Sebab itulah ada anggapan lobster bukan makanan yeng bernilai.

Selain itu, lobster jug digunakan sebagai pakan ternak dan hewan peliharaan. Masyarakat Indian memanfaatkannya untuk pupuk dan umpan untuk memancing ikan. Makanan ini juga diberikan kepada kalangan budak dan narapidana. Saat itu belum dikenal cara memasak yang membuat lobster menjadi gurih.

Perubahan terjadi pada awal 1800-an. Orang-orang  mulai menemukan cara memasak yang tepat. Namun orang masih belum berani berterus-terang, masih menyembunyikan bentuk aslinya. Menu yang dihidangkan merupakan hasil olahan. Setelah banyak apreasiasi atas kelezatannya, barulah lobster terang-terangan  ditunjukkan.

Sekitar tahun 1920-an usai Peranh Dunia I, lobster mulai dianggap sebagai hidangan kelas atas. Namun nilai lobster sempat turun lagi pada masa depresi besar 1950-an, menjadi makanan untuk masyarakat umum. Kesulitan ekonomi membuat banyak orang mencari bahan makanan gratis. Namun setelah masa itu, posisi lobster sebagai makanan bergengsi kembali lagi. Terus naik derajatnya hingga hari ini.

Pada sebuah acara televisi, pesohor Deddy Corbuzier pernah mememperlihatkan lobster impor beratnya sekitar 2,7 kilogram. “Ini harganya, kalau di restoran, Rp 2,7 juta,” ungkap sambil mengangkat kotak berisi lobster raksasa. Setelah lobster itu dimasak seorang koki profesional, Deddy pun menikmatinya dengan lahap.  (Enton Suptiyatna Sind)***

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: