Minggu, 25 Juli 2021

Jabar akan Bangun 13 Kota Baru Futuristik

 

BANDUNG.- West Java Investment Summit (WJIS) yang berlangsung Senin (16/11/2020), menawarkan sejumlah proyek infrastruktur di Jawa Barat.  Khususnya di kawasan Segitiga Rebana yang meliputi Subang, Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan dan Sumedang. Nilainya mencapai puluhan triliun rupiah. Jabar juga akan membangun sebanyak 13 kota baru yang futuristik.

Hal itu dikemukakan Gubernur Jabar Ridwan Kamil pada kegiatan WJIS 2020 yang tahun ini digelar di tengah pandemi Covid-19, sehingga berlangsung secara hybrid dan virtual. Sebagian peserta hadir secara terbatas di Hotel Savoy Homann Bandung. Ridwan Kamil hadir langsung, sementara Kepala BKPM Bahlil Lahadia dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjoyo memberikan sambutan secara virtual.

Setidaknya ada tujuh sektor yang ditawarkan,  meliputi  food security, healthcare services, manufacturing, higtech industry, digital innovation, green bisnis dan regional tourism. Terdapat 13 kota baru futuristik  yang bakal dibangun di Jabar. Misalnya Subang Smartpolitan, Grand Rebana City, Patimban Marine City dan lainnya. Jika semua terlaksana, optimistis pertumbuhan Jabar akan berjalan lebih cepat dan mampu menarik 5 juta tenaga kerja baru.

“Tetapi saya berpesan, siapa pun yang invest ke Jabar wajib bekerja sama dengan pengusaha lokal, pekerja lokal dan bank lokal. Saya tidak mau kalau Segitiga Rebana berkembang , warga setempat hanya menjadi penonton. Sehingga saya meminta kepala daerah untuk mempersiapkan SDM yang dibutuhkan seperti mendirikan SMK Maritim atau SMK Penerbangan dan lainnya,” tutur gubernur.

Sangat menarik

Ridwan Kamil menyebutkan sejumlah alasan mengapa Jabar menjadi wilayah yang sangat menarik untuk berinvestasi, terutama untuk kawasan Rebana. Antara lain bakal tersedianya infrastruktur yang mendukung kemudahan transportasi dan logistik.

“Pelabuhan Patimban di Subang segera dioperasikan. Tahun depan tol Cisumdawu juga siap digunakan. Bahkan KA Cepat Jakarta-Bandung juga terus dikebut pembangunannya,” tegas gubernur.

Alasan lainnya, adalah ketersediaan tenaga kerja yang terampil dan memiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Kondisi ini menjadikan Jabar menjadi daerah paling kompetitif untuk berinvestasi. Hal itu terlihat dari sekitar 60 persen industri di Indonesia ada di Jabar.

“Memang masih ada kekurangan namun kami terus melakukan perbaikan dengan dukungan dewan, perbankan, pengusaha dan masyarakat. Kuncinya adalah saling kerjasama,” tegasnya.

Selalu tertinggi

Semerntara itu Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengapresiasi Pemprov Jabar yang sangat mendukung kemudahan berinvestasi. Hal itu terbukti dari nilai investasi di Jabar yang selalu menjadi yang tertinggi secara nasional dalam tiga tahun terakhir.

“Kebijakan Pemprov Jabar sudah pro-investasi. Dari Januari-September investasi di Jabar sekitar Rp86,3 triliun. Selama tiga tahun terakhir selalu menjadi daerah tujuan investor PMA dan PMDN. Ini menunjukan kebijakan daerah dan pelayanan perizinan memberikan kepuasan investor,” ujarnya.

Sekalipun UMK atau UMR di wilayah Jabar termasuk tertinggi, namun investor masih tetap mau masuk karena banyak nilai positif di Jabar. Selain kemudahan perizinan, juga karena tenaga kerja dianggap lebih produktif dibandingkan daerah lain.

Secara nasional, realisasi investasi di Indonesia hingga September mencapai Rp611,6 triliun, dari total target Rp817, 2 triliun. Menurutnya target investasi itu sudah direvisi sejak pandemi, dari sebelumnya sebesar Rp886 triliun. (Sup)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: