Jumat, 22 Oktober 2021

Abad 17, Banten Kirim Dubes ke Inggris

Kyai Ngabehi Naya Wipraja dan Kyai Ngabehi Jaya Sedana

SEKELOMPOK pelajar tertegun di depan sebuah lukisan besar di Museum Banten Lama. Usai membaca keterangan singkat yang terpasang tepat di bawahnya, mata mereka kembali memelototi gambar dua tokoh dalam satu bingkai tersebut, seperti ingin lebih yakin lagi. “Wah ini semacam duta besar. Sayang enggak ada tulisan lengkapnya ya,” ujar seorang pelajar kepada teannya.

Keduanya adalah bagian rombongan pelajar dari Jakarta, yang sengaja datang dengan dua bus untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Banten. Kompleks Banten Lama di Desa Banten, Kec. Kasemen, sekitar 10 km ke arah utara dari pusat kota Serang, merupakan salah satu tempat favorit untuk wisata ziarah dan sejarah bagi para pelancong.

Selain menyimpan berbagai benda peninggalan masa lalu, di museum itu memang terdapat lukisan dua tokoh Kerajaan Banten pada masa Sultan Haji (1672-1687). Yakni Ki Ngabei Nayawipraja dan Ki Ngabei Jayasedana. Dua orang inilah yang dikirim Sultan Haji untuk bertemu Raja Charles II di London, Inggris pada tahun 1681.

Catatan tertulis mengenai perjalanan kedua dubes tersebut, memang tidak bisa ditemukan di museum itu atau pada buku-buku sejarah popular. Andai saja seorang ahli purbakala, Ny. S. Soeleiman, yang bekerja sebagai atase kebudayaan di KBRI London, tidak menyalin tulisan Ny. Fruin Mees pada tahun 1953, maka informasi tentang hubungan diplomatik duakerajaan tersebut tidak akan segera diketahui.

Sultan Haji Abunhasri Abdul Kahhar naik tahta memimpin Kerajaan Banten pada tahun 1672. Keberangkatan Nayawipraja dan Jayasedana, bukanlah untuk jalan-jalan biasa. Terdapat alasan politik-ekonomi yang mendasarinya. Saat itu persaingan pengaruh antara Inggris dan Belanda di Nusantara begitu kuat.

Perdagangan internasional

Banten sebagai sebuah kerajaan besar, sejak lama menjadi tempat persinggahan berbagai bangsa. Kerajaan ini memiliki bandar besar, yang menjadi tempat transaksi dagang bertaraf internasional. Inggris dan Belanda bersaing ketat untuk menancapkan pengaruhnya di Banten.

Orang-orang Inggris mendekati kalangan istana. Mereka meyakinkan Sultan Haji untuk bekerja sama dengan Kerajaan Inggris sebagai cara jitu menyingkirkan Belanda. Maka diutuslah dua dubes ke Inggris, dengan menumpang kapal layar “London” dengan nakoda John Danielson. Mereka berangkat bersama rombongan pada 10 November 1681 dan tiba di Sungai Thames tanggal 29 April 1682, atau mengarungi lautan selama 5,5 bulan.

Keduanya membawa oleh-oleh untuk Raja Charles II berupa lada, kayu bahar, jahe, cengkeh, cendera mata berlian, burung merak emas dan batu permata. Raja Charles II menerima kedua dubes dalam sebuah acara kehormatan pada 14 Mei 1682. Raja kemudian menganugerahkan gelar bangsawan sir kepada keduanya. Nayawipraja bergelar Sir Abdul, sedangkan Jayasedana mendapat gelar Sir Achmet.

Setelah berada di London selama 3,5 bulan, rombongan dari Banten berpamitan kepada Raja Charles II pada 5 Juli 1682. Mereka pulang dengan kapal “Kemphoon” pada 23 Agustus 1682 dan tiba di Banten tanggal 20 Januari 1683.

Berabad-bad kemudian, pada 11 Desember 2003 kantor berita Reuters, Inggris melaporkan tentang penemuan koin-koin misterius asal Banten di pinggiran Sungai Thames, London. Ratusan koin itu  ditemukan tertanam dalam lumpur. Disebutkan, koin-koin yang berasal dari abad ke-17 itu punya lubang segi enam di tengahnya. Ada tulisan dalam bahasa Arab Melayu berbunyi “Pangeran Ratou ing Bantam” (Lord King at Bantam). Yang dimaksud Bantam, tidak lain adalah Banten. (Enton Supriyatna Sind)**

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: