Minggu, 16 Mei 2021

Penghina Nabi: Dari Abdullah bin Sa’ad hingga Charlie Hebdo

Seorang pendemo anti-Salman Rushdie di Pakistan beberapa waktu lalu.

PERINGATAN Maulid Nabi Muhammad tahun ini, berada dalam suasana bergulirnya kasus kartun Nabi Muhammad di Perancis. Alih-alih meredam gejolak, Presiden Prancis Emmanuel Macron malah membela penerbitan kartun sosok yang amat dimuliakan kaum Muslimin itu. Terlebih lagi, secara provokatif ada pemampangan kartun itu di geadung-gedung pemerintahan selama beberapa jam.

Memang sudah menjadi kesepakatan sebagian besar kaum Muslimim, fisik Rasulullah SAW terlarang untuk ditampilkan. Karena itu, kemarahan mudah tersulut jika fisik Nabi tidak hanya dimunculkan, namun juga dibuat dalam bentuk kartun dengan maksud untuk menghinakan. Itulah yang terjadi di sejumlah negara Barat.

Sebenarnya, penghinaan kepada Nabi memiliki riwayat yang panjang. Sudah terjadi sejak beliau masih hidup. Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh adalah nama yang termasuk dalam sepuluh orang yang harus dieksekusi. Maka ketika terjadi peristiwa penaklukan kota Mekah pada tahun 8 Hijriyah,  dia menjadi salah satu buron yang paling dicari pasukan Islam.

Pasalnya, lelaki yang pernah bertugas menuliskan wahyu itu telah berlaku culas, tidak jujur dalam menuliskan firman-firman Tuhan. Nabi segera mengetahui kelakuannya. Kemudian Abdullah melarikan diri dari Madinah ke Mekah dan kembali kepada agama lamanya.

Lalu dia bercerita kepada orang-orang Mekah, tentang apa yang sudah diperbuatnya. Tidak henti-hentinya dia mengolok-olok Nabi, merendahkan martabatnya. Di hadapan orang-orang, dia  menyebut Nabi sebagai orang bodoh dan tidak tahu apa yang dikatakannya.

Aksi Ibnu Abi Sarh yang keterlaluan itu, membuat namanya masuk dalam daftar hitam. Ketika yang lain berhasil diciduk pada saat penaklukan Mekah, Ibnu Abi Sarh minta perlindungan kepada Utsman bin Affan, yang merupakan saudara sesusuannya. Bahkan kemudian dia sempat  diangkat jadi gubernur di Mesir.

Ayat-ayat Setan

Untuk menuliskan penghinaan setelah Nabi wafat, tentu membutuhkan tempat yang cukup untuk membahasnya secara rinci. Tetapi paling tidak kita bisa menyebutnya beberapa contoh. Dante Alighieri (1265-1321) lewat sajak-sajaknya dalam Divine Comedy, menggambarkan tubuh Nabi terpotong dua dan perutnya digantung. Bersama Ali bin Abi Thalib, Nabi dilukiskan berada di neraka tingkat enam.

Pada 1988 Salman Rushdie menulis novel  The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Novel ini disebut menghina Nabi dan Islam melalui tokoh-tokoh di dalamnya. Novelis India itu kabur dan bersembunyi di Inggris, setelah pemimpin spiritual Iran Ayatullah Khomeini mengeluarkan fatwa hukuman mati untuknya di tahun 1989.

Surat kabar terbesar di Denmark, Jyllands-Posten, membuat geger. Pada edisi 30 September 2005, koran itu memuat dua belas kartun Nabi Muhammad. Gambar-gambar bernada satire itu diprotes umat Islam. Namun koran itu bergeming. Setelah penerbitan kartun yang asli, sebuah video menunjukkan anggota sayap muda Partai Rakyat Denmark yang berkontes menggambar Nabi Muhammad.

Kemudian sejumlah koran di Barat ramai-ramai memuatnya seperti Magazinet (Norwegia),  Die Welt  (Jerman),  France Soir (Perancis) dan banyak surat kabar lain di Eropa. Di Indonesia, tercatat ada dua media massa menerbitkan kartun-kartun tersebut, yaitu Tabloid Gloria dan Tabloid PETA. Pemimpin redaksi Gloria  meminta maaf dan menarik penerbitannya. Sementara  pemimpin umum dan pemred PETA dijadikan tersangka.

Film anti-Islam

Pada 2012 di AS muncul film anti-Islam dan merendahkan Nabi yang berjudul Innocence of Muslims. Film ini diproduseri seorang keturunan Yahudi bernama Nakoula Basseley Nakoula. Aksi protes merebak di berbagai belahan dunia. Aksi yang tergolong keras berlangsung di kawasan Timur Tengah dan korban jiwa berjatuhan.

Kehebohan juga terjadi setelah Charlie Hebdo, surat kabar Perancis, memuat karikatur Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan pada 2015. Kaum Muslimin kembali protes. Bahkan aksi kekerasan terjadi. Sekelompok orang menembak mati 12 pegawai koran itu.

Partai anti-imigran di Belanda, Partai Kebebasan, pada 2018 menggagas lomba menggambar karikatur Nabi Muhammad. Partai tersebut adalah partai pimpinan Geert Wilders yang dikenal tak hanya anti-imigran tetapi juga anti-Islam.

Pada September 2020 Charlie Hebdo memuat ulang karikatur yang pernah membuat heboh di tahun 2015. Inilah pangkal dari keributan hari ini. Bahkan telah menimbulkan kagaduhan di antara sejumlah pemimpin negara.

Pada zaman teknologi yang semakin canggih sekarang ini, agaknya praktik penghinaan kepada Nabi sudah sulit dihitung lagi. Di media sosial tindakan seperti itu kerap muncul. Sejumlah orang Indonesia juga melakukannya dan sebagian sudah diadili.

Namun dalam  suasana seperti itu, kaum Muslimin tetap berkeyakinan penghinaan yang terus-menerus dilancarkan terhadap Nabi, tidak akan mengurangi sedikit pun nilai kemuliaannya. Para pelakunyalah yang akan memanen kenistaannya sendiri. Selamat memperingati Maulid Nabi Muahammad SAW. (Enton Supriyatna Sind)***

1 Comment

  • ofatsum

    Sebuah tulisan yang menarik. Seorang ulama dan Da’i yang dikenal dengan nama Habib Ali Jefri (Al-Jufri) menggunakan sudut pandang yang berbeda ketika menyaksikan org2 Barat membuat kartun Nabi. Menurut beliau, itu terjadi karena pemeluk Islam gagal memperkenalkan Nabi-nya kepada masyarakat. Mereka kenal nama Muhammad melalui gambaran palsu, sehingga kesan salah yang muncul. Karena beliau yakin, kalau mereka kenal sedikit saja kebenaran tentang Rasulullah mereka akan jatuh cinta kepadanya. Wallaahi alam

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: