Jumat, 22 Oktober 2021

Normalitas Baru Membutuhkan Moralitas Baru

Ketua Majelis Hikmah KITA , Taufik Rahzen, menyampaikan wacana budaya pada Munas KITA, di Bandung, Rabu (28/10/2020). Foto: Dokumen Panitia.

BANDUNG.- Kerapatan Indonesia Tanah Air (KITA) menggelar musyawarah nasional di Hotel Preanger Bandung, pada Rabu (28/10/2020). Di depan peserta munas yang datang dari seluruh Indonesia,  Ketua Majelis Hikmah KITA, Taufik Rahzen, menyampaikan wacana budaya bertema “Menenun Keselarasan Besar: KITA, Cita, Cipta”.

Menurut Taufik Rahzen, saat ini bangsa Indonesia sedang menenun kembali kesadarannya.  Kain sosial yang digunakan selama ini, kian lusuh dan tersobek. Kain budaya yang dirajut turun temurun dari generasi ke generasi, kini terbilas oleh wabah, tercemar oleh kecemasan dan kehilangan asa. Putus asa. Kita membutuhkan pakaian yang baru.

“Kita hadir ditempat ini, sesungguhnya sedang menenun kembali kesadaran baru, dengan corak dan pola yang belum ada bentuknya. Pola yang disusun bersama, mencari corak sambil bekerja, menjahit sambil memakainya. Normalitas baru membutuhkan moralitas baru. Sebagaimana kewajaran baru memerlukan tata-ajar dan ajaran baru,” katanya.

Sebagai gerakan yang lahir karena jiwa zamannya, ujarnya, KITA tercebur untuk mengambil prakarsa dalam apa yang disebut sebagai  Nawakarsa. Ada sembilan karsa yang dipaparkan Taufik Rahzen. Antara lain, karsa untuk  membangun kembali dunia.

Pandemi dunia membangkitkan kembali ingatan pada pidato Soekarno di PBB 1960, tentang penyusunan kembali tatanan dunia yang lebih inklusif dan berdaya cipta. Pancasila dilihat sebagai jalan tengah bagi tatapan bersama.

Karsa wirajiwa

Pada karsa ekonomi kehidupan dan jaminan kebutuhan dasar, Taufik menyebutnya sebagai ekonomi yang berpusat pada manusia yang menjaga kehidupan segala makhluk. Mempertimbangkan hak generasi yang akan datang, dan hak bumi untuk melakukan regenerasi. Mendorong tersusunnya jaminan kebutuhan dasar.

Taufik juga mengungkapkan karsa wirajiwa. Dijelaskannya, para wirajiwa adalah mereka yang menenun keselarasan besar, yang menjaga kesejajaran antara yang lahir dan yang batin , antara tubuh dan roh; antara individu dan masyarakat; antara masa lampau dan masa depan. Mereka yang selalu menciptakan masyarakat terbayang , untuk menjaga kehidupan melewati bencana dan tantangan.

Sementara itu Ketua KITA, KH Maman Imanulhaq, mengatakan pada munas ini para peserta akan membahas visi Indonesia KITA, refleksi satu tahun Jokowi-Amin, serta mendengar laporan dari 45 Dewan Perwakilan KITA. Laporan akan disampaikan  perwakilan dari Medan, Banten, Cirebon, Jogjakarta, Pontianak, Papua, Bandung, Kupang dan Jakarta,

Menurut panitia, peserta munas juga akan diajak berjalan kaki dari Hotel Grand Preanger Jln. Asia Afrika menuju Gedung Majestik di Jln. Braga dalam kegiatan bertema “Historical Walk at Asia Afrika”.  “Munas ini digelar sekaligus memperingati Hari Sumpah Pemuda dan 100 tahun Gedung Majestik,” kata Ketua Panita Munas KITA, Hanief Muhammad. (Sup)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: