Kamis, 25 Februari 2021

Keris Majapahit Dicuci di Jatitujuh

Pencucian keris di Padepokan Nur Sedjati, Desa Sumber Kulon, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, Selasa (27/10/2020). Foto: Ira Iskati

DENGAN hati-hati keris itu dimasukkan ke dalam air kembang warna-warni pada tempayan yang terbuat dari tanah. Kemudian digosok pelan dengan menggunakan telapak tangan. Setelah dianggap bersih, karatnya menghilang, lalu dilap dan disimpan di tempat yang sudah disediakan. Dijejerkan dengan yang lainnya.

Terdapat ribuan benda pusaka yang dicuci di Padepokan Nur Sedjati (PNS), Desa Sumber Kulon, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka pada Selasa (27/10/2020). Benda-benda milik Yayasan Al-Alawiyah tersebut, bentuk, ukuran dan usianya beragam.

Para pengurus dan anggota yayasan dengan telaten memandikannya dengan menggunakan sejumlah tempayan. Tidak hanya keris, tapi juga ada kujang, tombak,pedang dan batu akik. Memang hari ini adalah hari yang istimewa bagi benda-benda tersebut juga bagi masyarakat setempat. Warga bersuka cita, berkumpul di padepokan sambil menikmati sajian makanan.

“Selain dicuci, semua benda koleksi yayasan ini kita pamerkan. Acara ini secara rutin digelar setiap tahun di bulan Mulud sekaligus memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW,” ujar Ketua Yayasan al-Alawiyah Yayasan Padepon Nur Sedjati, Buyut Enda.

Hingga saat ini, kata Buyut Enda, ada 1.270.001 buah benda pusaka  berbagai  jenis. Sebagian benda-benda tersebut disimpan di rumah anggota yayasan,  karena di padepokan tidak bisa menampung seluruhnya.

Di antara sekian banyak  koleksi yayasan, ada  keris  paling tua usianya yang bernama Tilam Upih. Katanya, keris dari masa Kerajaan Majapahit tersebut berusia ratusan tahun dan diperoleh dari Cilacap pada tahun 2013.

Dari berbagai daerah

Menurut Buyut Enda, benda-benda itu memang harus dicuci agar tetap bisa bertahan, bersih dan terawat. Selain dipelihara dengan cara yang lain. “ Maklum benda-benda tersebut kebanyakan terbuat dari besi, sehingga mudah berkarat jika tidak terus dibersihkan. Sedangkan pencucian di bulan Mulud hanya mengambil momentum saja,” tuturnya.

Diakuinya, pencucian benda yang berasal dari berbagai tempat di Indonesia itu, seringkali dikaitan dengan hal-hal mistis. Padahal memberishkannya adalah bagian dari merawat supaya awt. Sedangkan untuk menghilangkan karat, biasanya  menggunakan air jeruk.

Tentang tumpeng yang disediakan dalam acara tersebut, merupakan simbol. “Tumpeng itu simbol bahwa mlaku kudu lempeng, berjalan harus lurus. Sedangkan banyak orang yang berkumpul pada acara ini, itulah bentuk gotong royong. Ada kebersamaan,” kata Ki Bagus Nana Waskana, pegiat di Yayasan Al Alawiyah. (Ira Iskati)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: