Sabtu, 27 Februari 2021

Skandal Sabidin di Banten

 

Kota Banten (Wikipedia)

 

PADA paruh kedua abad XIX, sebelum meletusnya pemberontakan petani Banten 1888 yang fenomenal itu, terjadi skandal memalukan. Seorang lelaki bernama Sabidin telah menipu rakyat Banten, yang tengah merindukan hadirnya kembali tokoh sentral trah kesultanan. Penjajah telah menghancurkan Kesultanan Banten dan banyak tokohnya yang dibuang antara lain ke Surabaya.

Dia mendapatkan kehormatan luar biasa di mana-mana. Bahkan di kalangan tokoh-tokoh penting dan kerabat kesultanan. Saking hormat dan percayanya, sampai-sampai banyak warga yang meminum air bekas cucian kaki Sabidin.  Tujuannya untuk mendapatkan berkah. Sabidin pun dengan mudah mengawini perempuan-perempuan anak orang terpandang.

Siapakah Sabidin? Mengutip koran Java Bode 18 Agustus 1888, sejarawan Sartono Kartodirdjo, menyebut Sabidin lahir di Yogyakarta kemudian hidup di Surabaya. Bekerja di bengkel angkatan laut, tukang gambar, dan juru mudi. Lalu berkenalan dengan pelukis terkenal Raden Saleh (1811-1880). Dalam status sebagai pelayan Raden Saleh, Sabidin ikut berangkat ke Paris.

Ketika kembali di Batavia, dia berhenti dari pekerjaannya sebagai pramugara kapal laut dan pergi ke Karangantu lalu ke Kasemen, Serang. Di sana dia bertemu dengan pensiunan patih Lebak, Jayakusuma. Pria tua itu yakin Sabidin adalah Pangeran Timur, putra Sultan Safiudin yang dibung Belanda ke Surabaya. Keyakinan itu didukung tokoh lainnya, Mohamad Arsyad.

Dengan identitas baru itu, cerita pun dimulai. Dia diperkenalkan kepada Ratu Siti Aminah (mertua Jayakusuma) dan Bupati Serang. Sabidin yang gagah, sopan dan fasih membaca Quran, menambah keyakinan mereka bahwa ia benar-benar seorang pangeran.

Agar lebih meyakinkan lagi, Sabidin diminta pergi ke Cirebon untuk mendapatkan surat-surat otentik tentang identitasnya. Di Cirebon dia dihormati sebagai keramat dan diberi gelar Haji Maulana. Sebuah gelar yang jarang diberikan, dan khusus untuk yang berdarah pangeran. Setelah kembali di Serang dia kawin dengan Sapirah, anak Jayakusuma. Tak lama berselang, kawin lagi dengan Siti Zainah, anak Haji Tubagus Mikhlar, seorang sentana.

Dia pun kerap melakukan perjalanan ke berbagai tempat. Seperti ke Lebak, Pandeglang, Cianjur dan Bandung. Kehadirannya selalu dielu-elukan sebagai pewaris kesultanan dan dipuji sebagai orang suci. Tiap Jumat warga ngantre untuk mendapatkan air bekas cucian kaki Sabidin di Masjid Agung Banten Lama. Seiring dengan itu tersiar kabar, Sang Pangeran Timur akan berupaya memulihkan hak-hak kesultanan.

Residen curiga

Residen Banten, AJ Spaan, curiga dan khawatir. Orang-orang Eropa waspada. Jika benar desas-desus itu, maka akan terjadi gejolak yang membahayakan. Penduduk yang selama ini menderita antara lain akibat beban pajak akan bangkit melawan. Mungkin rakyat Banten tinggal menunggu komando saja.

Menyadari situasi yang berbahaya jika dibiarkan, aparat keamanan pun bertindak. Sabidin ditangkap dan dikonfrontasikan dengan kerabat Sultan Banten yang sebenarnya di Surabaya. Terungkaplah skandal penipuan Sabidin. Dia diadili dan dijatuhi hukuman kerja paksa selama empat tahun.

“Peristiwa Sabidin merupakan gejala yang mencerminkan masyarakat Banten dalam peralihan. Selain artinya sebagai gerakan untuk memulihkan kedudukan sultan, menunjukkan pula golongan-golongan yang berdasarkan garis keturunan dan terdiri dari anggota keluarga besar memainkan peranan penting dalam percaturan politik Banten,” tutur Sartono (“Pemberontakan Petani Banten 1888” halaman 123).

Kalimat terakhir Sartono di atas, ternyata tidak hanya berlaku saat menyoroti situasi Banten di masa peralihan. Melainkan juga pada saat Banten berada di era reformasi dan menjadi provinsi tersendiri. Ya Banten hari ini. (Enton Supriyatna Sind)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: