Sabtu, 15 Mei 2021

BNPB: Waspadai Bencana di Jabar

Banjir bandang di Kampung Cibuntu, Desa Pasawahan, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, September lalu. (Foto: BPBD Sukabumi).

BANDUNG.- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta 15 pemerintah provinsi di Indonesia mewaspadai cuaca ekstrem selama sepekan mendatang. Fenomena La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40% di atas normal. Salah satu dampaknya, peningkatan curah hujan yang berujung pada bencana hidrometeorologi

“Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bahaya hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor dan angin kencang,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati dalam keterangan tertulisnya, Selasa (20/10/2020).

BMKG (BMKG) mencatat sejumlah provinsi dengan status waspada bencana, yaitu  Aceh, Jambi, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua Barat dan Papua.

Pada Oktober-November, tercatat terjadi peningkatan curah hujan bulanan akibat La Nina dapat terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia, kecuali Sumatera. Dalam bulan Oktober, beberapa zona musim di wilayah Indonesia diperkirakan akan memasuki musim hujan. Terjadi peningkatan curah hujan seiring dengan awal musim hujan disertai peningkatan akumulasi curah hujan akibat La Nina.

“Dengan demikian, pemerintah daerah maupun masyarakat perlu memperbaharui informasi cuaca.  Untuk lebih lengkapnya, informasi tersebut dapat diakses melalui tautan https://signature.bmkg.go.id,” tuturnya.

Saat saat ini beberapa wilayah Indonesia memasuki musim hujan, antara lain pesisir timur Aceh, sebagian Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Pulau Bangka, Lampung, Banten, dan sebagian Jawa Barat. Juga terjadi pada sebagian Jawa tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan,  Kalimantan Timur, dan sebagian Kalimantan Utara. Kemudian sebagian kecil Jawa Timur, Sulawesi, Maluku Utara dan Nusa Tenggara Barat.

Supermarket bencana

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, sepanjang Januari hingga Agustus 2020 telah terjadi 1.039 bencana alam di provinsi ini. Kejadian itu berdampak terhadap 768.319 warga Jabar.

“Sebagian besar bencana alam pada periode tersebut berupa bencana hidrologi, termasuk banjir dan tanah longsor. Dalam kurun waktu itu tercatat ada 521 kejadian tanah longsor,” ujar Kepala BPBD Jawa Barat, Dani Ramdan, belum lama ini.

Sementara itu Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo, dalam beberapa kesempatan menyebut wilayah Jawa Barat ibarat supermarket bencana. Karena segala macam bencana alam pernah terjadi di wilayah tersebut. Bahkan, Jawa Barat menjadi daerah dengan potensi bencana alam di tanah air yang cukup tinggi. Dari mulai bencana banjir, puting beliung, tanah longsor, letusan gunung berapi, hingga tsunami bisa terjadi di provinsi dengan jumlah penduduk terpadat di Indonesia itu. (Pri)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: