Sabtu, 15 Mei 2021

Habis Makan, Jangan Lupa Tanam

foto: LIPI

BANDUNG.- Indonesia masih punya peluang besar untuk menjadi kuat dalam hal pangan. Sayangnya pendidikan kita tidak banyak yang mengarah pada pembentukan karakter manusia ke arah tradisi menanam. Bahkan fakultas pertanian pun yang mestinya diarahkan untuk membentuk gerakan tanam, hanya mampu memproduksi pegawai.

“Pertanian kita masih jauh terpisah dari sains sehingga banyak petani yang terbelakang. Sementara di lain pihak banyak ilmu pengetahuan baru yang modern sekaligus ramah lingkungan,” kata Ketua Yayasan Odesa Indonesia, Faiz Manshur, dalam siaran persnya, Kamis (15/10/2020), menyambut Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober.

Menurutnya, Hari Pangan Sedunia 2020 bersama dengan pandemi Covid-19 penting ditafsirkan untuk sebuah cara hidup baru, bahwa kita harus selalu ingat setelah makan harus menanam. Setiap mengonsumsi makanan, semestinya ingat pada aktivitas untuk membudidayakan tanaman tersebut.

“Yayasan Odesa Indonesia mengajak semua warga, terutama warga kota agar punya kepedulian terhadap tanaman dan menjalin solidaritas dengan petani. Sebab kebersamaan itulah yang akan mempercepat proses. Banyak orang berpendidikan perlu turun ke desa, bekerjasama dengan para petani yang merupakan aktor penting dalam urusan pangan,” tuturnya.

Aktivitas tani pekarangan, misalnya, digerakkan Yayasan Odesa Indonesia untuk menjawab problem kemiskinan buruh tani. Dengan pemanfatan halaman, banyak petani yang mendapatkan berkah dari hasil panennya, minimal mendapatkan sumber gizi tanpa belanja, bahkan bisa menjadi model ekonomi baru.

Rekayasa dan kreativitas

Menurut Faiz Manshir, planet bumi yang diisi manusia ini tidak secara otomatis menyediakan berbagai kebutuhan yang cukup untuk para penghuhinya. Untuk kecukupan pangan dan terjaganya ekologi, manusia memerlukan rekayasa atau kreativitas agar bisa survive dalam hidupnya.

Manusia menempati subjek utama dalam keberlangsungan hidup antar-manusia, juga dengan makhluk lain, sehingga penting dalam mengambil tugas menjaga keberlangsungan bumi. Dalam kaitan itu, katanya, urusan menanam adalah cikal bakal lahirnya kualitas hidup bermasyarakat.

Hari Pangan Sedunia 16 Oktober 2020 Organisati Pangan Dunia FAO ( Food and Agriculture Organization) mengangkat tema “Tanam, Pelihara, Lestarikan Bersama”. Dengan kata lain, kita harus terus menanam untuk menghasilkan gizi sekaligus melestarikan ekologi. Langkah seperti itu harus dilakukan bersama-sama.

Slogan ini cukup baik untuk mengingatkan warga masyarakat dunia, terutama pemerintah agar memperhatikan gerakan tanam. Tanaman yang terbaik untuk pangan sangat bergantung pada tiga pilar, yakni keanekaragaman hayati, kecakapan orang memilih sumber bergizi dan mengelolanya, dan kemampuan komunitas mengurus hasil panen untuk kecukupan warga komunitas atau daerah.

Memanam adalah kerja kebudayaan karena setelah era masyarakat nomad, manusia memasuki tradisi komune dengan agrikultur-nya. Dari model hidup yang menetap itulah kreativitas berkembang. “Ketika urusan pangan semakin kokoh, manusia akan lebih mudah mengembangkan urusan lain seperti pembangunan infrastruktur, kegiatan pendidikan, seni, dan lain sebagainya, termasuk bersolidaritas membangun empati,” ujar Faiz. (Pri)***

 

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: