Minggu, 25 Juli 2021

Pertanian Religius untuk Kemandirian Pangan

Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir (tengah) dan Eep S. Maqdir (kanan) pada webinar Sunda Mandiri Pangan, di Gedung Negara Sumedang, Kamis (15/10/2020).

SUMEDANG.- Ada beberapa solusi supaya bangsa Indonesia, khususnya warga Jawa Barat,  mandiri dalam hal pangan. Salah satu di antaranya, harus kembali kepada pertanian religius warisan nenek moyang. Misalnya saja, pembuatan pupuk organik dari tumbuhan.  Dalam kaitan itu, pemerintah harus berperan dalam membangun sistem pertanian yang baik.

“Menjaga ketahanan atau kedaulatan pangan sangat penting bagi kemajuan bangsa dan kesejahteraan masyarakat,” kata  Ketua Yayasan Swadaya Petani Indonesia,  Eep S. Maqdir   pada acara sawala maya pra-Kongres Sunda bertema “Sunda Mandiri Pangan” di Gedung Negara Pemkab Sumedang, Kamis (15/10/2020). Selain Eep, berbicara pula antara lain Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir.

Ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan menjadi keniscayaan dalam menciptakan kemajuan bangsa serta kesejahteraan rakyat. Guna menciptakan kemandirian pangan yang bersumber dari hasil produksi pertanian, sudah diajarkan oleh nenek moyang hingga membudaya di masyarakat, termasuk di lingkungan masyarakat Sunda.

Dikatakan Eep, ada empat pilar untuk menciptakan kemandirian pangan, yaitu budidaya, tata niaga dan tata kelola, pembiayaan, serta penerapan teknologi informasi.  Saat ini banyak petani yang ketinggalan pengetahuan dan  teknologi pertanian. Supaya petani sejahtera, harga jual hasil pertanian tidak ditentukan harga pasar, tapi berdasarkan harga produksi.

“Harus ada sistem supaya petani bisa menjual dengan harga yang bagus. Petani juga harus mendapatkan bantuan pembiayaan, seperti asuransi pertanian. Itu seperti diterapkan di Jepang.  Petani juga harus mampu mengecek data pertanian. Jangan sampai latah menanam, yang saat panen ternyata harga jatuh,” ujar Eep.

Ada empat cara supaya petani bisa  hidup kaya raya. Pertama, peningkatan produktivitas dengan teknologi pertanian yang  ramah lingkungan; kedua,  peningkatan nilai tambah dan diversifikasi produk; ketiga,   memiliki branding produk lokal supaya bisa tembus dan laku  di  super market; dann keempat, memanfaatkan teknologi informasi untuk meningkatkan penjualan dan pemasaran produk pertanian.

Menurut Eep, peluang Indonesia untuk menciptakan kemandirian pangan, sangat besar dan terbuka lebar. Hal itu didukung,   Indonesia sebagai bangsa agraris dengan tanah yang subur.  Berbagai produk pertaniannya banyak diburu oleh bangsa lain, bahkan  menjadi sumber perdagangan dunia. “Banyak bangsa lain yang belajar pertanian kepada Indonesia,” katanya.

Akan tetapi, untuk menciptakan ketahanan pangan di era sekarang ini, harus menghadapi  beberapa tantangan. Antara lain hampir semua produk pangan di Indonesia  impor. Misalnya kentang, singkong, kedelai, beras hasil impor kini hampir menguasai Indonesia.

Terkadang kebijakan impor merugikan petani. Saat panen raya, pemerintah malah impor sehingga harga produksi pertanian jatuh. “Garam saja, harus diimpor dari Singapura yang notabene negara kecil. Padahal, garis pantai kita yang begitu panjang.  Ini fakta yang menyakitkan,” ujar Eep.

Surplus padi

Sementara itu, Bupati Sumedang  Dony Ahmad Munir menuturkan, kondisi pangan di Kab. Sumedang  surplus, khususnya padi dan palawija. Bahkan berbagai komoditas pertanian terus dijual ke Jakarta dan wilayah Jabar lainnya. ”Sudah menjadi kewajiban kami mempertahankan kondisi surplus pangan ini,  terutama menjaga lahan produktif,” tuturnya.

Hanya saja, menurut Dony, ada tiga tantangan besar dalam menciptakan  masyarakat Sunda yang mandiri dalam pangan pada kondisi saat ini. Ketiga tantangan itu, yakni pandemic disrupstion, digital disruption dan millennial disruption .

Pada era 4.0, masyarakat Sunda harus memahami literasi digital. Disyukuri, Sumedang punya  smart farming ubi cilembu di Desa Cilembu, Kec. Pamulihan. Ubi yang hanya ada di  daerah Cilembu ini sudah punya hak paten. “Ini bagian dari digital disruption dan kolaborasi dengan pentahelix,” kata Dony.

Sedangkan millenial disruption, perlu dibangun karakter budaya Sunda bagi generasi Y dan Z, sehingga dapat merubah tatanan kehidupan dunia, terutama kehidupan dunia baru  megatrend 2045. Selain itu, perlu kemajuan teknologi informasi di bidang pertanian dan pengolahan pangan.

“Teknologi informasi ini, kami manfaatkan untuk menjadikan Sunda mandiri dalam pangan.  Kearifan budaya lokal ini menjadi daya ungkit.  Hal itu, perlu dukungan kolaborasi akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah dan media. Komponen petahelix ini  harus bersama-sama membangun  Sunda mandiri pangan,” kata Bupati Dony. (Pri)***

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: