Minggu, 16 Mei 2021

Kalung Fatimah, Kalung yang Membebaskan

almadinainstitute.org

SUATU ketika Nabi sedang di masjid bersama para sahabat. Datanglah seorang musafir. “Ya Rasulullah, saya lapar sekali, berilah saya makanan. Saya tak punya uang untuk pulang. Tolong saya”.

“Aku sedang tak punya apa-apa untuk diberikan kepadamu,” jawab Nabi. “Pergilah ke tempat orang yang dicintai Allah dan Rasulnya. Itulah putriku, Fatimah”.

Di rumah FatimahAzzahra pun tak ada uang dan makanan. Hanya ada kalung hadiah pernikahannya dengan Ali. Fatimah menyerahkannya, “Jual kalung ini. Semoga bisa memenuhi kebutuhanmu”.

Musafir itu lalu kembali ke masjid dan menunjukkan kalung itu. Rasul sangat terharu atas kedermawanan putrinya. Sahabat Ammar bin Yasir berminat membelinya. “Berapa hendak kau jual kalung itu?” tanya Ammar.

“Aku membutuhkan roti dan daging, baju dan uang 10 dinar untuk bekal pulang”. Ammar membelinya seharga 20 dinar emas, ditambah baju, serta seekor unta.

Kemudian dia berkata kepada budaknya, Asham. “Temui Nabi dan katakan aku menghadiahkan kalung ini dan juga engkau kepadanya. Kamu menjadi budak Rasulullah.”

Nabi tersenyum menerima pesan tersebut dan melakukan hal yang sama. Fatimah amat bahagia menerima hadiah kalung dari ayahanya, meskipun itu kalung darinya yang diberikan kepada musafir. Dia juga mendapat hadiah seorang budak.

Fatimah pun membebaskan Asham dan menjadikannya manusia merdeka. “Aku kagum dan takjub akan berkah kalung itu. Sebab telah mengenyangkan orang lapar, menutup tubuh telanjang, memenuhi hajat seorang fakir, dan akhirnya membebaskan seorang budak,” kata Asham. (Enton Supriyatna Sind)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: