Sabtu, 24 Juli 2021

Pemprov Jabar Ajukan 500 Ribu Warga untuk Divaksin

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Foto: Twitter @ridwankamil.

BANDUNG.- Dengan tibanya 1,2 juta dosis vaksin Sinovac buatan China, Pemeritah Provinsi Jawa Barat mengajukan 500 ribu warganya untuk mendapatkan vaksin impor tahap pertama. Jumlah tersebut terdiri dari 350.000 tenaga medis dan 150.000 TNI/Polri.

Hal itu dikatakan Gubernur Ridwan Kamil dalam jumpa pers di Makodam Siliwangi, Senin (7/12/2020). “Kita prioritaskan sebanyak 350.000 untuk tenaga kesehatan dan 150.000 untuk TNI/Polri, yang bertugas langsung dalam mengatasi pandemi di garis depanu,”ujar pria yang akrab disapa Emil tersebut.

Sejauh ini, kata Emil, belum ada arahan dari pemerintah pusat terkait  kuota vaksin untuk Jabar. “Kita belum tahu. tapi urutan kita kalau pakai saf, maka saf pertama tenaga kesehatan, saf kedua TNI/Polri, saf ketiga mereka di zona merah. Tentang zona merah, mayoritas mengumpulnya di Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Depok, Kota/Kabupaten Bekasi, kemudian Kota Bandung,” katanya.

Pemprov Jabar juga sudah menyiapkan 15 gedung untuk menangani kasus Covid-19 di Jabar. Sarana tersebut disediakan lantaran jumlah okupansi rumah sakit di Jabar mencapai 75 persen. Gedung yang dipersiapkan ini terdiri dari asrama, hotel hingga gedung lainnya.

“Ada asrama-asrama yang akan dikelola sebagai ruang isolasi oleh dokter dan tenaga kesehatan. Kemudian ada 4 hotel yang disiapkan. Jadi total menjadi 15 gedung yang akan kita siapkan mengantisipasi libur panjang dan pilkada. Tapi tidak kita harapkan terjadinya peningkatan,” tuturnya.

Dengan hadirnya vaksin, kata Emil, narasinya untuk harapan. Hubungan hadirnya vaksin dengan pemulihan ekonomi menunjukkan relasi keterkendalian dan pemulihan membaik.

Siap penyuntikan

Sementara itu Ketua Harian Satgas Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat Setiawan Wangsaatmaja mengatakan, pihaknya siap melaksanakan penyuntikan vaksin Sinovac yang kini sudah ada di PT Biofarma, Kota Bandung.

“Prioritas yang akan mendapatkan vaksin tentu mereka yang ada di zona merah. Kemudian ada kriteria lagi, sehingga ditemukan yang paling visible berapa,” kata Setiawan pada wartawan di Hotel Pullman, Kota Bandung, Senin (7/12/2020).

Diakui Setiawan, terkait kesiapan pihaknya sudah melakukan simulasi-simulasi di puskesmas, di dua kota dan satu kabupaten. Dari simulasi itu juga kemudian diketahui, jika pemberian vaksin secara massal di puskesmas, ternyata ruangnya tidak mendukung.

“Menurut hasil simulasi, setiap orang yang yang divaksin memerlukan waktu sekitar 30 menit. Sesuai arahan gubernur, pemberian vaksin itu dilaksanakan di ruangan besar seperti  di gelanggang olahraga dan gedung besar lainnya,” katanya.  (Sup)***

 

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: