Sabtu, 15 Mei 2021

Salman Rushdie dan Holocaust

Salman Rushdie

KEBEBASAN berekspresi seolah menjadi sebuah wilayah sakral yang siapapun tidak boleh mengganggunya. Karena sangat erat kaitannya dengan hak asasi manusia (HAM) paling mendasar. Dalil itu yang hari ini diamalkan dengan taat oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Kesucian Tuhan, agama dan para nabi tidak lebih penting dan patut dihormati ketimbang hak untuk berekspresi. Bahkan  pemerintahan bisa disebut demokratis dan modern, jika tidak mengurusi hak berekspresi warganya. Sebaliknya pemerintahan yang mencoba mengatur persoalan tersebut, dianggap sebagai diktator dan pelanggar HAM.

Dengan cara berpikir seperti itulah, maka kita menyaksikan aksi-aksi penghinaan kepada  agama Islam terus berlangsung berlangsung di beberapa negara Barat. Tapi “kesucian” hak berekspresi tanpa batas itu, seringkali terkoreksi dengan perilaku para pemujanya sendiri. Banyak hal terjadi dan memunculkan ironi-ironi.

Ksatria culas

Kita masih ingat  nama Salman Rushdie penulis novel The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan), yang menyinggung umat Islam karena dinilai menistakan Allah SWT dan Rasulullah SAW. Bertahun lalu, Salman gusar kepada penerbit yang akan meluncurkan buku On Her Majesty’s Service karangan Ron Evans. Ron adalah bekas  pengawal Salman selama hidup di Inggris, setelah pemimpin spiritual Iran, Imam Khomeini, mengeluarkan fatwa mati untuknya pada 1989.

Salman berang karena dalam buku tersebut dia dilukiskan sebagai orang yang “rendah, tidak menyenangkan, dan arogan”. Pengacara Salman,  Mark Stephens sudah menyurati penerbit John Blake Publishing Ltd. Dia meminta penerbit menarik buku yang belum diterbitkan tersebut, serta menyingkirkan dusta dan pernyataan lain yang berhubungan dengan kehidupan pribadi Salman. Jika tidak, Salman mengancam lewat jalur hukum.

Bagi kita ini sungguh menggelikan. Secara tidak langsung dia telah membuka sisi culas seorang Salman Rushdie, yang dinobatkan banyak orang sebagai pengarang dunia yang berkelas. Para pendekar sastra, atas nama “kebebasan berekspresi”, membelanya habis-habisan ketika dia dihujat kaum Muslimin. Bahkan Ratu Elizabeth II menganugerahkan gelar “kastria” kepadanya.

Sangat ironis memang. Di satu sisi kita mendapati seorang Salman yang sangat mengagungkan kebebasan berekspresi. Tapi di sisi lain, kita mengetahui Salman marah karena merasa direndahkan bekas pengawalnya.

Bayangkan, untuk hal serupa itu saja seorang Salman Rushdie bisa berang. Lalu bagaimana dengan kaum Muslimin yang tersinggung berat atas novelnya? Jika Salman konsisten, semestinya dia bersikap santai. Anggap saja Ron Evans tengah menikmati kebebasan berekspresi dengan menulis buku mengenai dirinya.

Sebenarnya dia sedang mengatakan kepada dunia, bahwa kebebasan berekspresi bukanlah segalanya. Bahkan dia  tidak sanggup menahan beban dari kredonya sendiri. Ada batas-batas yang harus dihormati seseorang agar orang lain tidak merasa dinistakan. Hingga kini belum terdengar komentar para pendukung Salman. Tapi sepatutnya dia dikecam, karena telah mengkhianati kebebasan berekspresi.

Holocoust

Apapun boleh diragukan kebenarannya, bahkan Tuhan, agama dan para nabi. Tapi jangan pernah meragukan soal holocaust (konon genosisa terhadap 5 juta Yahudi di Eropa). Jika Anda meragukan kebenaran peristiwa tersebut apalagi menyatakannya secara terbuka kepada publik, Anda digolongkan sebagai anti-semit dan melakukan kejahatan kepada kemanusiaan.

Itulah hukum tidak tertulis yang sudah disepakati mayoritas warga dunia belahan Barat. Dalam kasus holocaust, doktrin kebebasan berekspresi tidak berlaku lagi. Doktrin suci kebebasan berekspresi dilipat rapi, jika sudah menyangkut hal yang satu ini. Seperti dibayang-bayangi dosa besar jika mencoba membahasnya secara kritis.

Ahmadinejad –saat menjadi Presiden Iran- disamakan dengan Hitler ketika mengatakan holocaust sebagai mitos dan mengada-ada. Orang-orang Barat segera melupakan prinsip kebebasan berekspresi dan HAM, ketika holocaust diragukan. Norman G. Finkelstein menulis dengan sangat bagus dalam bukunya The Holocaust Industry, tentang kemunafikan Barat dan betapa isu holocaust menjadi sebuah industri untuk mengeruk keuntungan materi.

Norman memaparkan begitu banyak ilmuwan atau tokoh publik yang dihukum hanya karena tidak mengimani holocaust seperti dimaui Yahudi. Misalnya saja Manfred Rouder dihukum 10 bulan penjara. Seorang ahli gas bernama Fred Louchter dipecat dari pekerjaannya. Fredrick Toben, warga Australia asal Jerman, diharamkan kembali negeri asalnya.

Sedangkan Bruno Gelinsh, anggota Uni Eropa, masuk bui karena menyarankan agar para ahli sejarah dibebaskan berpendapat tentang ruang- ruang gas rezim Nazi. Rinva Dalster bunuh diri karena tekanan kaum Yahudi, akibat pernyataannya yang menyangsikan holocaust. Hidup seorang ahli kimia asal Jerman, Germar Rodef, berakhir  gara-gara menulis buku Dissection Holocaust” . Prof. Robber Fridson  diadili karena melakukan wawancara dengan stasiun TV Iran tentang  holocaust.

Demikian pula pers Barat yang mengaggungkan kebebesan berekspresi, bungkam seribu bahasa atas kejahatan yang dilakukan negaranya terhadap bangsa Irak. Jerry D. Gray dalam Dosa-dosa Media Amerika, menyebutkan media AS tidak bersikap kritis ketika terbukti kemudian tindakan menyerang Irak adalah kesalahan besar. Bahkan sejak awal sudah diketahui, aksi itu ilegal dan tidak bermoral. (Enton Supriyatna Sind)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: