Minggu, 25 Juli 2021

Serda Tasban: Senang Humor Penyuka Kelor

Serda Tasban Doloan. Foto: apakabar.news

KETIKA musim kemarau tahun 2019 lalu Yayasan Odesa Indonesia menggerakkan aksi tanam pohon di kawasan Cimenyan Kabupaten Bandung,  Serda Tasban Doloan (40) sering ikut serta.  Babinsa Cimenyan ini berbaur dengan para relawan dari Kota Bandung dan para petani setempat. Anggota TNI lainnya dari  Subsektor 17 Sektor 22 Citarum Harum pun ikut serta.

Tasban adalah sosok yang punya semangat kerja yang melampaui urusan kedinasan. Paling tidak, terlihat dari seringnya ikut kegiatan dadakan dalam urusan lingkungan, sekalipun sedang sibuk.  Bahkan urusan lain di luar jam kerja ia jalankan tanpa banyak keluh-kesah.

“Pak Tasban itu orangnya tanggunga jawab luar biasa dan komunikasinya dengan masyarakat sangat baik. Tidak sekadar menjalankan instruksi kerja kedinasan, tapi punya kepedulian serius urusan lingkungan hidup,” kata Ketua Yayasan Odesa Indonesia, Faiz Manshur kepada apakabar.news, Sabtu (31/10/2020).

Menurut Faiz, sosok Tasban yang berbadan kekar itu pernah membuat takut anak-anak  yang sedang belajar di rumahnya bersama relawan Odesa. Namun lama kelamaan anak-anak menjadi nyaman setelah tahu kepribadian Tasban. “Bahkan humornya melebihi pelawak,” kata Faiz tertawa.

Tasban Doloan bertugas di Kecamatan Cimenyan sejak 2016. Akan tetapi tidak otomatis membuatnya memahami persoalan di tengah masyarakat secara mendalam. Sebab tidak semua urusan kedinasan selalu berurusan dengan masyarakat lapisan bawah.

Paham persoalan

Setelah sering berhubungan langsung dengan warga bersama Odesa, Tasban semakin bisa memahami aneka ragam kultur masyarakat dengan rupa-rupa problemnya.  “Saya jadi kenal banyak petani dengan persoalan-persoalan hidupnya,” kata santri Alumni Madrasah Aliyah Luwuk itu.

Berkegiatan sosial dengan para petani membuat Tasban semakin tertarik urusan tanaman. Salah satunya yang memikatnya adalah pohon kelor. Sebelum bergiat urusan pertanian di Cimenyan, Tasban sudah mengenal  kelor. Karena di kampung halamannya, Bunggai Kepulauan, Provinsi Sulawei Tengah, orang-orang terbiasa mengonsumsi daun bernama Latin Moringa Oleifera itu.

“Jadi ingat masa lalu di kampung. Sekarang saya kembali makan kelor. Teman-teman tentara, termasuk komandan kami juga sudah banyak yang menanam kelor. Jadi saya dapat pengalaman baru berkegiatan bersama petani di Cimenyan,” ujarnya.

Tasban sampai sekarang terus bekerja untuk masyarakat. Ia bergerak bukan semata tugas negara, melainkan kesadaran membaktikan dirinya untuk masyarakat lapisan bawah. “Karena sudah tahu ada problem, rasanya tidak mungkin tidak terlibat. Setidaknya membantu komunikasi antarwarga. Jadi banyak teman dari wartawan maupun mahasiswa,” terangnya. (Abdul Hamid)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: