Selasa, 2 Maret 2021

Memburu Emas Batangan di Gunung Manglayang

 

Gunung Manglayang di pagi hari. Foto: apakabar.news

GUNUNG Manglayang  terletak di utara Kota Bandung. Sebagian gunung itu masuk wilayah Kabupaten Bandung, sebagian lagi Sumedang. Kalau hari cerah, anatomi gunung terlihat dengan jelas. Termasuk bagian-bagiannya yang sudah gundul dan disesaki bangunan. Keberadaan bangunan-bangunan itu  makin nyata jika malam tiba, lewat lampu-lampu yang bertebaran di ketinggian. Di kakinya terdapat sejumlah tempat wana wisata.

Bagi Mang Ado (50), warga Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, ternyata gunung berketinggian sekitar 1.818 mdpl itu, menyisakan cerita tersendiri dalam kehidupannya. Alkisah, pada 2003 lampau dia berkenalan dengan “orang pintar” bernama Ki Fulan (sebut saja begitu). Ki Fulan adalah seorang paranormal yang sering mengobati orang.

Dari pertemuan itulah, Mang Ado juga berkenalan dengan yang lainnya dan terbentuklah semacam komunitas yang memiliki kedekatan khusus dengan Ki Fulan. Pada suatu ketika, Ki Fulan mengaku mendapatkan wangsit tentang adanya harta karun berupas emas batangan dan uang dalam jumlah besar di puncak Gunung Manglayang.

“Katanya, emas batangan disimpan dalam dua peti besar, sementara uang disimpan dalam satu peti lainnya. Harta itu merupakan peninggalan orang Belanda. Lokasinya, berada di bawah batu besar. Untuk mengambilnya, tidak ada cara lain kecuali melakukan penggalian. Maka kami sepakat menggalinya,” tutur Mang Ado sambil mengisap rokok kreteknya.

Orang-orang yang selama ini mengagumi Ki Fulan, tentu saja makin takjub kepada paranormal itu. Setidaknya ada sekitar 20 orang yang menyatakan mendukung pencarian harta karun. Namun yang benar-benar terlibat langsung, hanya 15 orang. Mereka berasal dari berbagai kalangan.

Penggalian malam hari

Orang-orang itu sangat tertantang untuk membuktikannya. “Ya siapa sih yang tidak tergiur dengan omongan Ki Fulan. Dia bilang, harta itu tidak akan habis tujuh turunan. Bagi orang yang lagi butuh uang, apalagi dalam situasi ekonomi tak menentu, hal itu ibarat obat pusing,” tuturnya.

Disepakatilah, penggalian dilakukan malam hari, dimulai pada  awal Ramadan. Ketika orang lain menyesaki mesjid untuk salat tarawih, para pencari harta karun malah sibuk dengan perkakasnya menggali tanah di puncak Gunung Manglayang. Udara dingin, hujan turun, dan kegelapan hutan, tidak dihiraukan. Mereka fokus pada satu hal: harta karun!

Biasanya, rombongan berangkat naik motor menuju Kampung Pasirangin, Desa Cilengkrang, Kecamatan Cilenkrang,  Kabupaten Bandung.  Sampai di kampung tersebut sekitar pukul 15.00. Setelah menitipkan motor, lalu berjalan kaki menyusuri jalan setapak. Hutan, lembah dan bukit, dilalui dengan harapan menggebu. Tiga jam kemudian baru sampai di lokasi yang dituju. Penggalian dilakukan di tempat sesuai petunjuk Ki Fulan.

“Kami membawa perbekalan secukupknya untuk makan sahur di puncak gunung. Sedangkan penggalian dilakukan dengan diterangi dua buah lampu petromak. Kadang kami salat tarawih di tengah hutan itu. Menjelang subuh, kami turun. Sore hari berangkat lagi. Begitu seterusnya,” kata Mang Ado.

Suara berdentum

Setelah penggalian mencapai  kedalaman lebih dari 3 meter dengan luas sekitar 9 meter persegi, alat-alat gali berbenturan dengan permukaan batu yang cukup lebar. Jika dipukul-pukul, menimbulkan suara berdentum, seolah ada ruang kosong di dalamnya. Ki Fulan makin yakin, di bawah batu itu ada ruang tertentu yang menjadi tempat penyimpanan harta karun.

Para pencari harta karun itu kian  bersemangat, penggalian terus dilakukan untuk mencari tepi batu. Sebab sangat tidak mungkin untuk membelahnya. Sudah beberapa kali dicoba, tidak berhasil. Keras sekali.  Bulan Ramadan hampir usai, tapi belum ada tanda-tanda harta karun ditemukan. Ki Fulan memutuskan “Ekspedisi Manglayang” itu dilanjutkan setelah Lebaran.

Akan tetapi saat  penggalian dilakukan lagi setelah Lebaran, ternyata tidak ada perkembangan berarti. Penggalian menemui jalan buntu. Batu besar sangat sulit ditembus. Namun mereka tetap yakin, di bawah batu itulah harta karun tersimpan.

Akhirnya Ki Fulan memerintahkan penggalian dihentikan. Perintah itu turun, tentu saja berdasarkan wangsit yang diterimanya. Rombongan itu pulang dengan tangan hampa, meninggalkan alat-alat gali seperti cangkul, skop, garpu, dan linggis. Barang-barang itu sengaja ditinggalkan, karena yakin suatu saat akan kembali lagi.

“Memang sebagian teman saya amat yakin tentang harta itu. Bahkan mereka masih mengajak saya untuk naik lagi ke sana. Tapi saya malas. Saya malah  makin tidak yakin di situ ada hara karun,” kata Mang Ado. Lagipula, katanya, ternyata Ki Fulan banyak terlibat kasus hukum dan asusila. (Enton Supriyatna Sind)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: