Minggu, 25 Juli 2021

Santri Mukim dan Santri Kalong

 

Suasana di sebuah pesantren tradisional. Foto: nujateng.com

SETIAP tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri. Peringatan tertsebut merujuk pada Fatwa dan Resolusi Jihad KH Muhammad Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, ketika berupaya keras menghalau Belanda yang ingin  menjajah kembali Indonesia.  Tema Hari Santri tahun 2020 adalah “Santri Sehat Indonesia Kuat”.

Siapakah santri itu? Istilah santri sangat akrab di tengah masyarakat Indonesia. Istilah ini mengacu pada mereka yang belajar di pondok pesantren. Secara umum sosok populernya adalah, lelaki bersarung dengan baju kemeja atau baju muslim, mengenakan kopiah hitam. Ativitas belajarnya di sebuah pondok pesantren, yang sekaligus menjadi tempatnya hidup sehari-hari.

Zamakhsyari Dhofier dalam buku Tradisi Pesantren, menyebutkan, sebelum tahun 1960-an, pusat-pusat pendidikan pesantren di Indonesia lebih dikenal dengan nama pondok. Istilah pondok barangkali berasal dari pengertian asrama-asrama para santri atau tempat tinggal yang dibuat dari bambu, atau barangkali berasal dadei bahasa Arab, funduq, yang artinya hotel atau asrama.

Sedangkan istilah pesantren berasal dari kata santri, yang dengan awalan pe di depan dan akhiran an  berarti tempat tinggal santri. Mengutip pendapat Porfesor Johns, disebutkan bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji. Sedang C.C. Berg mengatakan, istilah itu mengacu pada istilah shastri yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau seorang ahli kitab suci agama Hindu.

Sementara kata shastri berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan. Banyak pula sarjana yang berpendapat, lembaga pesantren pada dasarnya lembaga pendidikan keagamaan bangsa Indonesia pada masa menganut agama Hindu-Budha yang bernama mandala, yang diislamkan para kyai.

Terlepas dari asal-usul kata itu berasal dari mana, yang jelas ciri-ciri umum keseluruhan pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang asli Indonesia, yang pada saat ini merupakan warisan kekayaan bangsa Indonesia yang terus berkembang. Bahkan pada saat memasuki millennium ketiga ini, menjadi salah satu penyangga yang sangat penting bagi kehidupa berbangsa dan bernegara.

Lima elemen

Berdasarkan data dari laman ditpdpontren.kemenag.go.id, saat ini jumlah pesantren Indonesia sebanyak 27.722 buah, dengan jumlah santri sebanyak 4.173.494 orang. Angka-angka tersebut merupakan jumlah total pesantren dari berbagai sistem pengajaran. Secara garis besar, sering disebut dua klasifikasi besar pesantren yakni tradisional (salafi) dan modern. Di Jawa Barat saja terdapat 8.343 pesantren dengan santri berjumlah 454.154 orang.

Menurut Zamakhsyari Dhofier, terdapat lima eleman dasar tradisi pesantren yakni pondok, masjid, santri, pengajaran kitab Islam klasik dan kyai. Sebuah pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan Islam tradisional di mana siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan seorang guru yang dikenal dengan sebutan kyai.

Sedangkann masjid merupakan elemen yang tidak dipisahkan dari pesantren dan dianggap sebagai tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri, terutama dalam praktik salat lima waktu, khutbah dan salat Jumat dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik. Pada masa lalu, pengajaran kibat Islam klasik, terutama karangan-karangan ulama yang menganut faham Syafi’i, merupakan materi pengajaran formal yang diberikan di lingkungan pesantren.

Menurut tradisi pesantren, santri terdiri daru dua jenis yaitu santri mukim dan santri kalong. Santri mukim, adalah murid-murid yang menetap di pondok pesantren. Sedangkan santri kalong, adalah mereka yang tidak menetap dalam pesantren. Untuk mengikuti pelajaran di pesantren, mereka bolak-balik dari rumahnya sendiri.

Kyai merupakan elemen paling esensial dari sebuah pesantren. Seringkali dialah pendiri dan pengasuh pesantrennya. Maju mundurnya sebuah pesantren bergantung kepada kemampuan pribadi kyainya. Di Jawa Barat, ahli pengetahuan Islam seperti itu, sering dipanggil juga dengan sebutan ajengan.

K.H. Abdurrahman Wahid –Gus Dur- dalam pengantar yang ditulisnya untuk buku Kitab Kuning karya Martin van Bruinessen mengatakan, salah satu pesantren tertua di Indonesia berada di Gunungkarang, Pandeglang, Banten. Pesantren tersebut didirikan Ki Ageng Karan pada abad 17 Masehi. Selamat Hari Santri. (Enton Supriyatna Sind)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: