Minggu, 7 Maret 2021

Aktivisme K-Poppers Melawan Omnibuslaw

Oleh Bonni Irawan

Mengamati pertarungan pro kontra omnibuslaw di dunia maya memang penuh kejutan. Adalah Ismail Fahmi (@ismailfahmi), founder Drone Emprit yang pertama kali memunculkan fenomena para fans artis Korea (K-Pop) yang berada di balik aktivisme melawan omnibuslaw.

Ribuan akun fans Korea Wave (Hallyu) membantu mengangkat tagar-tagar anti omnibus seperti: #Gagalkanomibuslaw #Jegalsampaigagal #Mositidakpercaya #DPRRIKhianatirakyat #tolakruuciptakerja #mahasiswabergerak dan lain-lain.

Akun Nilasari (@Nilasar30823482) misalnya menyebutkan: Bapak dipilih rakyat untuk melindungi rakyat bukan menindas rakyat 🙂 Innalilahiwainahirojiun telah berpulang kerahmatullah hati Nurani DPR RI semoga dibuka kan kembali :)

Dengan menggunakan mesin artificial intelligence, apakabar.news mencoba memantau wordcloud sekitar #mahasiswabergerak, dengan lokasi Bandung, pada 6-7 Oktober, kata terbanyak yang muncul adalah: “mahasiswa bandung”, “sebagian diem”, “soalnya intel”, “lawan rezim oligarki” dan lain-lain.

Akun Sean @joloaddict mengatakn bahwa mahasiswa Bandung sekarang sebagian diam karena intel sudah menyamar jadi sopir grab, dan mahasiswa. Cuitan @joloaddcit direply lebih dari 5.800 (lima ribu delapan ratus) akun, diretweet lebih dari 24.800 (dua puluh empat ribu delapan ratus) kali, serta mendapat like lebih dari 86.200 (delapan puluh enam ribu dua ratus)!

Sungguh ini sebuah engagement yang luar biasa!

Akun Sean @joloaddict dibuat pada Desember 2019. Dia adalah seorang K-Poper dengn 2.365 follower.

Apakah @joloaddict benar-benar seorang K-Popper atau cuma akun buzzer yang membonceng aktivisme K-Poppers yang lagi naik daun?

Kalau dilihat dari 15.200 lebih (15,2K), terlihat bahwa dia memang K-Popper sejati. Cuitan-cuitannya memang sekitar K-Pop. Sean @Joloaddict paling banyak memposting soal K-pop.

Aktivisme K-Pop di media sosial, dalam melawan omnibuslaw memang sesuatu yang mengejutkan. Sebelumnya memang mereka berkomentar dalam isu-isu penting. Sebelumnya mereka juga aktif dalam demo RUU KHUP/Refromasi dikorupsi. Namun aktivisme di isu ini tidak sebesar yang sekarang.

Saking fenomenalnya sekarang, maka banyak pembonceng (buzzer) yang memanfaatkan trend ini. Mereka menggunakan avatar-avatar K-Pop. Tapi kata Ismail Fahmi, mudah sekali untuk membedakan K-Popper betulan dengan buzzer. Cek umur akunnya, umumnya baru dibuat. “Kemudian cek percakapan sebelumnya dan lihat engagement-nya. Kalau tiba-tiba dia bicara Omnibuslaw, maka dia adalah buzzer,” kata Ismail.

Aktivisme K-popper mengejutkan dunia, ketika fans pop korea itu menge-prank Presiden Amerika Donald Trump yang kembali mencalonkan diri untuk menjadi presiden periode berikutnya. Saat itu, ribuan pengguna Tik Tok menyatakan akan hadir pada kampanye Trump di Tulsa, Oklahoma. Trump sesumbar bahwa kampanyenya itu akan dihadiri puluhan ribu orang dan jutaan orang di internet.

Para K-popper penggemar Boyband BTS Korea pun meminta agar pengguna Tiktok hadir di kampanye itu. Untuk diketahui, BTS adalah boyband Korea yang punya kepedulian kepada isu-isu ketidakadilan. Akun mereka diikuti 21 juta follower.

Pada Hari “H”-nya, ternyata yang hadir Cuma 6.200 orang dari kapasitas sekitar 20.000. Tentu saja Trump berang dan merasa dipermalukan. Para K-popper itu sedang marah karena peristiwa pembunuhan pria kulit hitam, George Floyd oleh polisi kulit putih yang menginjak lehernya sampai tewas. Maka para Ke-Popers pun marah dan ikut melambungkan tagar #BlackLivesMatter. Tentu saja, mereka pun marah kepada Trump yang dianggap rasis dan tidak serius menangani kasus ini.

Sekarang para K-Poppers di Indonesia juga ikut menaikkan tagar #mahasiswabergerak. Maka tagar itu pun menjadi trending dunia, dan menarik para perhatian K-Popper di seluruh dunia.

Berapa jumlah fans “Gelombang Korea” (Hallyu) ini?

Januari 2019, Korean Foundation menyebut sekitar 89-90 juta seluruh dunia. Sekarang tentu jumlahnya lebih dari itu. Maka bisa jadi impresi #Mahasiswabergerak dan tagar-tagar anti omnibuslaw mendunia mencapai jumlah itu.

K-Popper menjadi kelompok politik atau aktivisme politik adalah suatu hal yang baru. Mereka yang semula adalah anak-anak manis pemborong tiket pertunjukan, kini menjadi kelompok penekan yang tidak bisa dianggap enteng.

Apa alasannya?

Mereka kerap dituding anasionalis hanya karena menggemari Hallyu. Tampaknya sekarang mereka ingin menunjukkan bahwa menjadi K-Popper bukan berarti tak cinta bangsa.

Sila baca pernyataan akun Diva Renda Amada di bawah ini:

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: