Sabtu, 24 Juli 2021

Minimnya Petani Muda di Negeri Agraris

Petani menggarap lahan di Merakdampit, Cimenyan, Kab. Bandung. Foto: ESS

BELUM lama ini Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengutip hasil survei pertanian antar-sensus  2018 yang dilakukan Badan Pusat Statistik. Disebutkan, jumlah petani di Jabar mencapai 3.250.825 orang. Dari jumlah tersebut, petani yang berusia 25-44 tahun hanya 945.574 orang atau 29 persen.

Angka itu menggambarkan kegiatan pertanian belum menarik perhatian kaum muda. Karena itu Pemprov Jabar berencana membuat program 1.000 petani milenial, untuk menumbuhkan minat bertani di kalangan anak muda. Pemprov akan meminjamkan lahan-lahan menganggur di seluruh Jabar, untuk dikelola kaum milenial yang sudah diseleksi.

Mereka harus menguasai teknologi dan ilmu pertaniannya. Dengan cara itu, mereka yang lulus dari universitas tidak usah berpikir untuk berangkat Bandung atau Jakarta, sebab di desa bisa hidup sejahtera. Dewasa ini ada ratusan hektar lahan di Jabar telah disiapkan untuk petani millenial.

Sebelum Emil –sapaan akrab Ridwan Kami- mengungkapkan itu, sebenarnya di beberapa daerah sudah ada semacam gerakan kaum muda dalam bidang pertanian. Meskipun masih bersifat sporadis. Misalnya di Desa/Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, pada Juni lalu sejumlah petani muda memanen perdana  bawang daun yang ditanamnya. Mereka adalah  lulusan SMP, SMA, SMK dan SD, yang berkiprah sejak akhir 2019.

Mereka bukanlah satu-satunya kelompok muda yang memilih aktivitas dunia pertanian. Di berbagai tempat di Jawa Barat terdapat kaum muda serupa itu, seperti halnya di Bandung, Indramayu, Cianjur, dan Karawang. Meskipun golongan usia tersebut tidak signifikan dengan jumlah petani secara keseluruhan, namun tetap menjadi angin segar dan diharapkan akan terus berkembang.

Menurut data BPS tahun 2019, terdapat 3.250.825 keluarga di Jawa Barat yang bermata pencaharian pada usaha pertanian (bertani, berternak dan berkebun) untuk menopang hidupnya. Dari jumlah tersebut, sebagian besar bertani komoditas padi yakni 2.249.012 keluarga. Kemudian peternak 1.435.367 keluarga dan sisanya beraktivitas di sektor pertanian atau peternakan lainnya.

Pada skala nasional, saat ini tercatat ada 35,7 juta orang (28,79% penduduk) bekerja di sektor pertanian yang rata-rata  masuk usia tua. Sedangkan kelompok usia muda (19-39 tahun) yang terjkun di dunia pertanian hanya 10%.

Pergeseran komposisi

Kehadiran para petani muda di Cigalontang dan sejumkah tempat lainnya itu menjadi sesuatu yang penting, di tengah isu semakin berkurangnya para petani di kelompok usia tersebut dan kian menuanya mayoritas petani. Memang fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di kalangan petani di negara-negara lain. Namun terdapat kasus dan perlakuan yang berbeda.

Jika kita melihat data Sensus Pertanian tahun 1993–2003 akan tampak pergeseran komposisi pekerja di sektor pertanian berdasarkan usia. Data itu mengungkapkan semakin berkurangnya tenaga kerja muda di sektor pertanian. Dari data Sensus Pertanian 2003–2013 juga kesimpulannya sama, tenaga kerja pertanian didominasi usia tua lebih dari 40 tahun. Jumlah petani muda terus  merosot cukup tajam dibandung sepuluh tahun sebelumnya.

Sangat logis, usia petani amat berhubungan dengan produktivitas. Semakin tua akan kian mengurangi produktivitas, dan itu berarti berpengaruh pada hasil pekerjaannya. Keadaan yang tidak baik di bidang pertanian telah mengakibatkan penurunan drastis kontribusi sektor pertanian terhadap PDB, dari 22,09% menjadi 13% pada 30 tahun terakhir (1990-2018).

Kondisi tersebut diperburuk dengan teknologi pertanian yang tidak mendukung. Sekian lama, mayoritas lahan pertanian kita  diolah dengan peralatan seadanya. Dengan perkakas yang mungkin lahir dari peradaban Pajajaran atau Majapahit. Jika hasilnya tidak maksimal, ya wayahna bae.

Idealnya, dunia pertanian diisi tenaga-tenaga yang masih kuat dan  gesit. Didukung peralatan canggih yang bisa memaksimalkan produksi dan menghemat waktu. Masih sangat sedikit petani kita yang bersentuhan dengan peralatan yang bisa mempermudah pekerjaannya.  Bantuan dari pemerintah pun hanya datang secara sporadis. Bahkan banyak bantuan peralatan yang sebetulnya tidak tepat atau tidak dubutuhkan petani.

Tidak khawatir

Walaupun Indonesia negara agraris, ada kesan bahwa pembuat kebijakan tidak  begitu khawatir terhadap semakin berkurangnya orang muda di dunia pertanian. Tampaknya tidak begitu risau jika regenerasi para petani tidak berjalan dengan baik. Padahal produk pertanian  yang sering dibicarakan itu, pertama-tama bertumpu pada ketersediaan sumber daya manusia yang memadai. Dalamm kaitan ini, hampir tidak ada langkah terobosan yang berarti.

Dengan kondisi lingkungan petani yang sulit berkembang, menjadi salah satu faktor yang membuat kaum muda tidak tertarik. Bekerja keras dengan tubuh kotor berkeringat, sementara hasilnya tidak seberapa. Mereka lebih memilih mengikuti arus urbanisasi, meskipun pekerjaan di kota belum tentu juga menjanjikan. Atau memilih menjadi penganggur dengan hand phone selalu di tangan.

Hal lain yang menjadi persoalan klise adalah kebanyakan petani di kampung-kampung itu berstatus sebagai penggarap. Pada mulanya mereka memang memiliki lahan. Karena didesak kebutuhan, lahan dijual dan  mereka berubah status jadi penggarap. Mereka bertahan bukan karena pekerjaannya menguntungkan, tapi karena tidak ada pilihan.

Sudah saatnya pemerintah memperhatikan pembangunan dunia pertanian dengan serius. Misalnya melalui pendidikan, dengan membangun sekolah khusus pertanian di sentra-sentra pertanian. Disertai pendekatan praktis dengan lingkungan pertanian mereka. Diharapkan akan tumbuh petani muda dengan ilmu yang sesuai zamannya, punya kebanggaan, dan bekerja dengan sungguh-sungguh. (Enton Supriyatna Sind)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: