Selasa, 2 Maret 2021

Benarkah Naturalisasi Efektif untuk Prestasi?

Cristian Gonzales, pesepak bola asal Uruguay yang menjadi WNI. Foto: rctiplus

SERINGKALI muncul pertanyaan, apakah benar program naturalisasi atau pewarganegaraan dalam olahraga efektif dan efisien untuk mendongrak prestasi? Pemain sepak bola Prancis Lilian Thuram pernah mengatakan kepada BBC kunci sukses timnya mengalahkan Brasil dalam final Piala Dunia 1998 adalah karena keragaman yang dimiliki mereka.

Dia menilai tidak mungkin 11 pemain Brasil bisa mengalahkan timnya yang berasal dari berbagai bangsa, Afrika, Pasifik, Eropa Timur, dan Arab. Artinya, berbagai bangsa dengan berbagai keunggulan dalam gen, seperti postur, kelincahan, power dan lain sebagainya.

Seperti kita tahu, ras Asia unggul dalam teknik dan kecepatan, ras Eropa unggul dalam postur tubuh yang besar tinggi, sementara ras Afrika lebih kepada ketahanan tubuh dan kekuatan. Sedangkan ras Amerika khususnya Amerika Latin, secara umum memiliki kekuatan dalam hal teknik. Jika semua ras disatukan, tentu ada banyak keunggulan yang dimiliki seperti halnya tim Prancis tersebut.

Di Asia, naturalisasi mungkin sudah ribuan kali dilakukan. Negara-negara besar raksasa olahraga seperti Jepang, China, Korea, dan Qatar pun tidak luput dari program ini. Bahkan Bahrain menjadi negara yang paling aktif melakukan naturalisasi khususnya di cabang atletik.

Memanfaatkan kemiskinan di Kenya,  Bahrain sebagai negara kaya menggelontorkan banyak beasiswa pendidikan dan jaminan kesejahteraan bila ada atlet kenya mau dinaturalisasi. Langkah mereka terbukti sukses. Di Olimpiade 2016, Bahrain akhirnya menelurkan medali emas pertamanya di multievent terbesar di dunia tersebut, lewat pelari naturalisasinya Ruth Jeber di nomor 3.000 meter halang rintang putri.

Asia Tenggara pun tidak luput. Singapura misalnya. Salah satu negara terkaya di ASEAN ini bahkan memiliki program Foreign Sports Talent Scheme (FST), yakni mencari atlet asing yang mau dinaturalisasi dengan catatan harus berprestasi.

Cabang sepakbola yang paling sering melakukan naturalisasi. Sebut saja Agu Casmir dan Itimi Dickson (Nigeria), Daniel Bennett (Inggris) yang bermain di AFF 2004 atau Precious Emuejeraye dan Fachrudin Mustafic asal Serbia, yang memperkuat negeri Singa tersebut di AFF 2007. Hasilnya, mereka empat kali juara AFF.

Tidak semua

Mungkin hal seperti itu yang ingin dicapai Indonesia saat melakukan naturalisasi. Tapi sayangnya, tidak semua naturalisasi bisa berhasil. Cabang sepak bola sudah pernah membuktikannya. Dari kurun waktu 2010 hingga saat ini, ada banyak nama pemain yang sudah masuk program naturalisasi untuk timnas sepakbola.

Mereka antara lain Cristian Gonzales, Greg Nwokolo, Tonnie Cussel, Beto Goncalves, Ilija Spasojevic, Raphael Maitimo, Stefano Lilipaly, Ezra Walian, Kim Jeffry Kurniawan, Diego Michiels, Victor Igbonefo, Sergio van Dijk, Johny van Beukering, dan Ruben Wuarbanaran.

Ada yang ingin dinaturalisasi karena sudah kadung cinta kepada Indonesia dan sudah lama berkarir di sepak bola nasional. Namun ada pula yang berminat dinaturalisasi karena kesempatan untuk main di timnas. Nyatanya tidak semua nama-nama tersebut sukses di timnas. Ada yang sukses seperti Cristian Gonzales tetapi ada juga yang gagal total seperti Tonnie Cussel.

Secara prestasi pun, naturalisasi tidak terlalu mengdokrak prestasi. Di sepak bola level Piala AFF saja, prestasi tertinggi yang bisa dicapai Indonesia dengan bantuan naturalisasi hanya runner-up. Hingga kadang banyak yang berpikir, naturalisasi yang dilakukan hanya untuk mengakali regulasi Liga saja.

Meski banyak contoh gagal di sepak bola, tapi nyatanya proyek naturalisasi di cabor lain cukup berguna. Keputusan pegulat Rumania, Nastrusnicu Roxana Andrea yang berkeinginan menjadi WNI karena ingin mendampingi suaminya pegulat asal Indonesia, ternyata berdampak positif bagi cabor ini.

Selain mendorong prestasi gulat di Kalimantan Selatan, dia juga menjadi pendulang medali untuk Indonesia di level internasional, seperti di Kejuaraan Gulat Asia Tenggara 2018. Dia sempat masuk proyeksi Asian Games 2018 lalu, tapi kemudian gagal tampil karena mengandung.

Apa yang dialami cabor gulat, juga terjadi di basket. Naturalisasi yang dilakukan basket membuahkan hasil manis, terutama di SEA Games 2015 lalu. Anthony Wayne Cates yang keturunan Amerika dan Samuel Kim Razon keturunan Korea Selatan, menjadi pahlawan untuk Timnas SEA Games 2015 yang sukses membawa pulang medali perak.

Adalah gap kualitas pebasket Indonesia dengan negara pesaing Filipina, yang menjadi dasar dilakukan naturalisasi tersebut di 2014. Filipina pun ketika itu menggunakan pemain naturalisasi yang sudah pernah berlaga di tim NBA, Blatche dan Marcus Douthit.

Peningkatan prestasi

Peningkatan prestasi tersebut yang kembali diincar Indonesia saat menjadi tuan rumah FIBA Asia 2021 dan FIBA World Cup 2023. Bukan hanya ingin sukses sebagai tuan rumah, tapi secara prestasi basket dinilai sudah saatnya naik level, minimal Asia.

Tiga nama calon untuk masuk program naturalisasi yaitu Brandon Van Dorn Jawato (USA), 27 tahun; Lester Prosper (Inggris), 31 tahun; dan Kimberly Pierre Louis (Kanada), 26 tahun. Mereka diproyeksikan untuk FIBA Asia dan kejuaraan dunia. Usulannya sudah diajukan ke dewan.

Mereka sudah mendapatkan rekomendasi secara hukum di Komisi III yang membawahi lingkup tugas di bidang hukum, hak asasi manusia, dan keamanan. Tapi, proses masih harus berjalan di level Komisi X yang membawahi bidang olahraga.

Setelah mendapatkan rekomendasi, hasil dari raker tersebut dibawa ke Sidang Paripurna DPR. Kemudian, pimpinan DPR RI akan  mengirimkan surat kepada Presiden Republik Indonesia agar terbit Keppres dan dilanjutkan dengan sumpah/janji sebagai WNI di Kanwil Kemkumham yang ditunjuk.

“Permohonan ini terkait dengan upaya PB Perbasi untuk finis di peringkat 10 besar saat Indonesia menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia FIBA 2023. Untuk bisa lolos ke kejuaraan dunia, terlebih dahulu Indonesia harus menembus posisi 8 besar di FIBA Asia tahun depan. Jadi sebagai tuan rumah, tidak otomatis menjadi peserta Piala Dunia. Itu persyaratan dari FIBA. Semoga mereka bisa memberikan yang terbaik,” tukas Ketua PP Perbasi Danny Kosasih.

Saat ini, pemerintah tidak membuat mudah proses naturalisasi.  Pemerintah ingin lebih selektif lagi, mengingat pengalaman sebelumnya,  banyak yang diloloskan tapi manfaat dan dampak pada perkembangan cabor tidak signifikan.

Di masa menunggu ini, Menpora Zainudin Amali meminta agar cabor memonitor perkembangan para atlet yang sudah disetujui proses kewarganegaraannya. Apakah memang memiliki dampak pada Timnas atau tidak. Jangan sampai seperti membeli kucing dalam karung.

Ada pula tanggapan, atlet yang mau dinaturalisasi adalah mereka yang tidak dipakai negaranya atau memiliki jam terbang lebih sedikit. Mereka adalah  atlet kelas menengah ke bawah yang kemudian bila pindah  kewarganegaraan, levelnya menjadi atlet kelas A. Karena itu wajar saja jika selektif.

Apalagi atlet bisa dikatakan sebagai representatif dan kebanggaan sebuah negara. Terutama bagi dia yang bisa sukses meraih juara di tingkat dunia. Karena hanya presiden dan atletlah yang bisa menaikkan bendera negara asalnya, dan menyanyikan lagu kebangsaannya di negara orang lain pada podium penghormatan tertinggi.

Etis atau tidaknya melakukan naturalisasi masih menjadi perdebatan. Buat yang menolak, mereka menganggap naturalisasi akan meruntuhkan nasionalime. Kurang elok, karena hanya peduli pada prestasi secara instan tanpa mau melakukan pembinaan jangka panjang. Tapi di sisi lainnya, banyak pendukung naturalisasi yang setuju bila program ini salah satu cara untuk melakukan transfer ilmu/pengetahuan bagi  pemain lokal. Jadi, apakah bener naturalisasi itu efektif?. (Tamara)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: