Selasa, 2 Maret 2021

Tarekat dan Pemberontakan Rakyat

 

Ilustrasi

JIKA Anda pernah menonton film “Lion of The Desert”, yang dibintangi aktror Anthony Quinn, akan terpesona dengan perjuangan gigih tokoh sentral Sidi Omar. Orangtua bersurban itu, Sang Singa Padang Pasir, memimpin rakyat Libya menentang kolonial Italia. Hingga Sidi Omar yang sudah renta itu harus menebus seluruh perjuangannya di tiang gantungan.

Namun mungkin sedikit yang mengetahui, Sidi Omar adalah seorang pengamal tarekat Sanusiah. Tarekat ini dinisbahkan kepada Sidi Muhammad bin Ali as-Sanusi. Perkembangannya pesat terutama di Libya dan Libanon. Tarekat Sanusiah merupakan salah satu dari 44 aliran tarekat yang mashur di dunia.

Di Afrika pada abad ke-19 memang muncul gerakan kaum sufi yang cukup beragam melawan kolonialisme. Selain di Libya, perlawanan kaum tarekat terjadi di Aljazair, Sudan, Somalia dan Maroko. Kemudian di Asia Tengah perlawanan tarekat muncul di Tiongkok, Turkistan, Afghanistan dan India.

Ajid Tohir dalam buku “Gerakan Politik Kaum Tarekat” menyebutkan, hampir bisa dikatakan  bahwa imperialisme Eropa pada abad ke-19 selalu berhadapan dengan lembaga-lembaga Islam yang satu ini. Kenyatan historis seperti ini, membuktikan bahwa kehidupan dunia sufi tidak selalu bergumul dengan kepasifan, kejumudan dan asketisme.

Pada rentang abad yang sama, hal serupa juga terjadi di Nusantara. Kelompok sufi tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah telah menggerakkan rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Tarekat telah menjadi wadah organisasi, ideologi perjuagan, serta menampilkan pemimpin-pemimpin kharismatik yang membela rakyat.

Penasihat Kehormatan untuk Urusan Bumi Putera, KF Holle pada tanggal 5 September 1886 mengirimkan laporan rahasia kepada Gubernur Jenderal di Batavia. Peneliti asal Belanda, Marti van Bruinessen mengungkapkan laporan Holle itu melalui bukunya “Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia”.

Secara gamblang Holle menuturkan tentang kebangkitan tarekat Naqsyabandiyah yang membahayakan. Dia menghitung, tarekat tersebut sudah ada di Priangan sejak tiga puluh tahun silam. Saat ia menulis laporan, perkembangan pesat Naqsyabandiyah terjadi di Cianjur. Seluruh bangsawan dilaporkan telah bergabung  ke dalam organisasi tarekat.

Kepala Penghulu Cianjur saat itu pengamal tarekat Naqsyabandiyah. Beberapa saudaranya adalah guru tarekat. Holle mengusulkan agar sang penghulu dipecat. Begitu juga terhadap rekan sejawatnya di Sukabumi. Sedangkan Bupati Cianjur harus ditegur, karena berada di bawah pengaruh tarekat tersebut.

Petani Banten

Peristiwa pemberontakan para petani di wilayah Anyer Banten pada Juli 1888 yang fenomenal itu, menunjukkan efektifnya organisasi tarekat mengelola gerakan pemberontakan. Sejarawan Kartono Kartodirjo mengurai ihwal peran pimpinan tarekat pada gerakan itu dalam bukunya “Pemberontakan Petani Banten 1888”.

Tokoh yang berpengaruh dari tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah tersebut adalah Syekh Abdul Karim, orang Banten yang bermukim di Mekah sejak 1876. Khalifah utamanya di Banten adalah Kiai Asnawi dari Caringin. Khalifah lainnya, Haji Marzuki, yang diutus dari Mekah ke Banten, dikabarkan lebih radikal dan sangat anti-Belanda. Pemberontakan itu telah mengguncang pemerintahan kolonial, dan memaksa mereka membuat kebijakan-kebijakan baru.

Di tempat lan juga terjadi gerakan sejenis. Pemberontakan kaum tarekat di Kediri juga meletus pada 1888. Sedang pada 1903 pemberontakan di Sidoarjo Jawa Timur yang dipimpin Kiai Kasan Mukmin. Kasan merupakan khalifah dari Kiai Kasan Tapsir dari Krapyak Lor dekat Yogyakarta, yang tiada lain guru tarekat Naqsyabandiyah. Kiai inilah yang mendorong Kasan Mukmin memberontak. (Enton Supriyatna Sind)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: