Senin, 15 Juli 2024

Tag: Kolonial Bel;anda

Sayyid Muhammad bin Holla
Kabar Khas

Sayyid Muhammad bin Holla

Nama Karel Frederik Holle (1829-1896) begitu akrab bagi siapa saja yang punya minat pada bidang perkebunan teh, sastra Sunda, pendidikan, filologi atau sejarah di Jawa Barat.  Lelaki kelahiran  Amsterdam, Belanda ini memang memiliki perhatian pada banyak bidang. Dibandingkan orang-orang Belanda pada umumnya saat itu, Holle dikenal sangat dekat dengan orang-orang pribumi. Dia berbaur dengan masyarakat di Garut dan terbiasa menggunakan pakaian seperti mereka. Bahkan pernah suatu ketika, rekannya kaget ketika bertemu Holle di perkebunan dengan berpakaian layaknya penduduk setempat. Sesuatu yang tidak biasa bagi orang-orang Eropa yang disebut-sebut berperadaban lebih maju. “Akan tetapi kita juga harus merlihat, Holle beradaptasi begitu rupa karena punya tujuan tertentu. Dia sedan...
Seabad Perlawanan Rakyat Cimareme (Bagian 2)
Kabar Khas

Seabad Perlawanan Rakyat Cimareme (Bagian 2)

HAJI Hasan Arif merasakan benar apa yang menjadi beban masyarakat Cimareme dan sekitarnya akibat aturan jual padi. Kebanyakan warga tidak mungkin mampu memenuhi aturan itu. Meskipun ekonomi keluarga Hasan Airif terbilang stabil, namun banyak jiwa juga yang harus ditanggungnya. Dengan penghasilan 250 pikul (154 kuintal) setiap kali panen, maka Hasan Arif wajib menjual padinya kepada pemerintah sebanyak 40 pikul atau setara 24 kuintal. Dia keberatan dengan ketentuan itu. Alasannya, hasil sawah sebanyak itu digunakan untuk hidup keluarga besarnya yang berjumlah 84 orang.  Dengan demikian, setiap jiwa menerima jatah 183, 3 kilogram tiap panen atau 366,6 kilogram per tahun. Selain itu, banyak pula warga yang menggantungkan hidupnya pada hasil sawah Hasan Arif yakni para penggarap. Belum...
Seabad Perlawanan Rakyat Cimareme (Bagian 1)
Kabar Khas

Seabad Perlawanan Rakyat Cimareme (Bagian 1)

PULUHAN orang bersenjata bedil mengepung sebuah rumah di samping masjid.  Moncong senapan diarahkan ke bangunan yang pintu dan jendelanya tertutup rapat itu.  “Haji Hasan, ayo keluar!” teriak seseorang. Tidak ada jawaban. Hanya lantunan orang-orang berzikir yang terdengar jelas. Perintah itu ditriakan lagi, dan zikir makin keras. Dengan pandangan cemas warga menunggu apa yang akan terjadi pada beberapa detik berikutnya. Lalu suara rentetan tembakan memecah suasana tegang di Kampung Cimareme, Garut itu.  Pelor menembus dinding kayu dan bilik bambu. Suara zikir dari dalam rumah berhenti seketika. Keadaan benar-benar mencekam. Sejumlah Marsose  mendobrak pintu. Disambut tangis dan jeritan penghuni rumah. Delapan orang terkapar, yang salah satunya adalah Haji Hasan Arif Tubagus Alpan...