Sabtu, 24 Juli 2021

Hanjeli, Air Mata Ayub untuk Turunkan Kolesterol

craftlog.com

Hanjeli. Foto: odesa,id

SEBAGIAN dari kita yang bermasa kecil di kampung, pernah mengalami main “bebedilan” berpeluru biji hanjeli (jali jali). Senapan mainannya terbuat dari bambu atau kayu. Terdapat penjepit yang diikat karet untuk menaruh peluru hanjeli. Lalu ditarik karet ke bagian depan senapan. Pegas karet itulah yang melesatkan biji hanjeli ketika tuas penjepitnya ditekan. Kalau kena bagian tubuh dalam jarak tembak ideal, duh lumayan rasanya.

Tumbuhan liar ini punya nama khas di setiap daerah. Disebut kali watu atau jangle di Jawa, Jelim atau anajali bareh di Sumatera, jelei atau luwong di Kalimantan, klumba di Papua, dan lele atau irule di Sulawesi. Jali jali mengandung asam amino, alkaloid, vitamin, protein, kalsium, zat besi, magnesium, klorida, dan glukosa.

Hanjeli bisa dikonsumsi  antara lain dalam bentuk bubur, minuman dan puding. Untuk membuat bubur hanjeli tidak susah. Hanjeli yang sudah digiling, direndam sehari semalam supaya tidak keras dan cepat matang. Lalu direbus, selayaknya membuat bubur beras. Beberapa saat kemudian masukkan daun pandan sebagai pewangi. Taburkan sedikit garam untuk penyedap rasa. Masukkan gula merah. Aduklah rebusan hanjeli beberapa kali. Setelah lembek dan matang, siap dihidangkan.

Hasil masakan hanjeli teksturnya kenyal. Mengenyangkan sehingga sangat menolong kita yang sering susah mengerem nafsu makan. Banyak literatur yang menyeburkan, hanjeli memiliki tinggi protein dan memiliki sifat pengobatan.

Disarikan dari Health Line, terbitan Selasa, 12 Mei 2019, hanjeli cocok untuk diet. Makan jali jali dapat membuat kita merasa kenyang karena kandungan seratnya yang tinggi. Sangat cocok untuk yang sedang melakukan diet. Juga menurunkan kolesterol, menurunkan risiko penyakit jantung,  menurunkan tekanan darah, menghindarkan diabetes, menghindarkan kanker kasus besar, dan menghindarkam batu empedu.

Kelebihan hanjeli

Kebutuhan sumber pangan selain beras terus meningkat. Terutama bagi mereka alergi terhadap celiac sehingga membutuhkan makanan gluten free. Penelitian Grubben GF.J.H dan Partohardjono (1996) misalnya, menyebutkan beberapa kelebihan hanjeli dalam hitungan 100 gram.  Pertama, protein hanjeli paling tinggi, 14,1. Sedangkan sorgum hanya 11,4 dan beras hanya 8,8. Bagi masyarakat Indonesia protein menjadi bagian penting usaha untuk memperbaiki gizi masyarakat.

Tak hanya itu, banyak juga orang Indonesia yang kekurangan kalsium, sehingga hanjeli bisa menjadi makanan penting yang perlu dikonsumsi orang Indonesia. Kandungan kalsium hanjeli mencapai 54 mg, sedangkan sorgum hanya 25 mg, dan beras hanya 18 mg. Demikian juga pada vitamin B1, hanjeli mencapai 0,48 mg, sorgum hanya 0,37 mg dan beras hanya 0,39 mg.

Dengan banyaknya kandungan vitamin B1 juga berguna untuk  menjaga fungsi sistem saraf, otak, jantung sehingga bisa bekerja lebih baik. Dengan vitamin B1, orang juga mendapatkan manfaat agar daya tahan tubuh lebih kuat, memperbaiki kognisi pada penderita alzheimer, dan mengurangi resiko stres.

Korea Selatan sudah lama menjadikan teh dengan menyebutnya Yulmu Cha, yang artinya adalah teh air mata ayub (sebutan lain untuk hanjeli). Orang Cina lebih kreatif lagi mengembangkan sumber pangan ini dengan banyak hal. Ada minuman rebusan air mata ayub yang disebut Yi Ren Jiang. Rebusan jali-jali itu diaduk dalam air dan ditambah pemanis cairan.

Hanjeli  juga memperbaiki tanah. Tanah yang tadinya buruk itu kini gembur, bahkan bisa menjadi media tanam tanaman kecil lain. Yang menarik, pada setiap rumpun (terdiri 2-3 pohon hanjeli), penggemburan dan penghitaman tanah itu mencapai jarak antara 80 hingga 110 Cm.   (Sup)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: