Minggu, 7 Maret 2021

Sutardjo, Gubernur Jabar Korban Intrik

Foto: Istimewa

TIDAK lama setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, Mas Sutardjo Kartohadikusumo diangkat menjadi Gubernur Jawa Barat pada 19 Agustus 1945. Untuk sementara, karena tenaganya masih dibutuhkan pemerintah pusat, Sutardjo memimpin Jawa Barat dari Jakarta.

Pada masa pendudukan Jepang, lelaki kelahiran Blora Jawa Tengah tahun 1890 itu adalah seorang syuutyokan yakni kepala daerah setingkat provinsi. Selain memiliki latar belakang seorang pamong praja pada masa kolonial Belanda , Sutardjo juga pernah menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat). Saat menjadi anggota Volksraad, dia bersama sejumlah rekannya membuat usulan menggemparkan yang dikenal “Petisi Sutardjo” pada 15 Juli 1936.

Namun rupanya Sutardjo tidak bisa terus-menerus berdomisili di Jakarta. Residen Priangan Ardiwinangun mengirim laporan bahwa di Bandung tentara Sekutu setiap hari melancarkan gangguan.  Sang Residen mengaku berat untuk menanggulanginya, dan meminta agar kedudukan Gubernur Jabar secepatnya dipindahkan ke Bandung.

Meskipun pemerintahan di Jakarta masih memerlukan tenaganya. Akhirnya permohonan Residen Priangan diluluskan. Maka bersama keluarganya, dia pindah ke Bandung. Karena  rumah gubernuran masih dipakai, maka untuk sementara Sutardjo  tinggal di rumah depan kantor pensiun.  Sedangkan kantor gubernur di tempatkan di kantor tersebut.

Setelah berada di Bandung barulah dia mengetahui yang sebenarnya. “Bukan tentara Sekutu yang mengganggu rakyat kita, melainkan anak-anak kita pemuda dan pemudilah yang bergerilya saban malam menyerang patroli dan garnisun Sekutu, hal mana menyenangkan hati saya,” ujar Sutardjo dalam  biografi  “Soetardjo ‘Petisi Soetardjo’ dan Perjuangannya” karya Drs. Setiadi Kartohadikusumo.

Kelengkapan pemerintahan Provinsi Jabar pun disusun sesuai kebutuhan. Koordinasi dilakukan dengan berbagai elemen. Langkah cepat dalam kondisi darurat itu, menunjukkan berbagai kemajuan. Terlebih lagi setelah kantor gubernur pindah ke tempat yang sekarang di sebut sebagai Gedung Pakuan di Jln. Oto Iskandar di Nata No. 1 Bandung.

Sutardjo melukiskan, rumah gubernuran di samping kiri dijaga pemuda-pemuda bersenjata, satu peleton jumlahnya, di sebelah kanan oleh empat orang gadis cantik bersenjata brengun. Setiap malam halaman belakang rumah gubernuran mendapat serangan serdadu Belanda. Mereka melemparkan granat dari jauh, tapi tidak sampai mengenai rumah.

Banjir Cikapundung

Pertempuran masih terus terjadi antara pejuang dan pihak sekutu. Pihak musuh melakukan berbagai cara. Sutardjo mencatat, suatu malam sehabis hujan lebat, tentara Belanda melakukan sabotase sehingga aliran air Sungai Cikapundung yang melintasi pusat kota Bandung meluap dan terjadi banjir besar. Banyak rumah dan penghuninya hanyut.

Dalam buku “Bandung Awal Revolusi 1945-1946”, John R.W. Smail menyebut peristiwa tanggal 25 November 1945 itu menghancurkan paling tidak 500 rumah  dan memakan lebih dari 200 korban jiwa. Banyak laskar dan relawan yang tengah menolong korban banjir malah ditembaki tentara Belanda.

Para pejuang Bandung pernah meminta izin kepada Sutardjo untuk melakukan serangan umum. Namun dia berpadangan, saatnya belum tepat. Para pejuang daerah-daerah belum siap dan masih dilatih. Selain itu persenjataan juga masih minim. Masih diusahakan mendapatkan senjata dari tentara Jepang yang akana menyerahkan diri pada Sekutu.

Selama dua hari dua malam rapat di gubernuran membahas masalah itu. Sutardjo meyakinkan risiko yang akan ditanggung, jika serangan itu gagal karena ketidak siapan para pejuang. Namun nasihatnya tidak diindahkan. Mereka tetap pada rencananya. Serangan pun dilakukan dan akhirnya memang gagal.

Kemudian pihak Sekutu memintanya untuk mengumumkan, setiap warga negara Indonesia di kota Bandung yang berada di utara rel kereta api berpindah ke selatan rel kereta api. Sesuatu yang tidak mungkin dipatuhi rakyat. Pertempuran pun berlangsung setiap malam. Rumah dinas gubernur juga kerap menjadi sasaran.

Tugas berakhir

Sutardjo seringkali mengungsikan keluarganya ke Majalaya, di pesanggrahan milik  Wiranatakusumah. Sementara dia sendiri tetap berada di gubernuran. Secara rutin melakukan peninjauan ke kabupaten-kabupaten untuk menggiatkan latihan para pemuda, guna menghadapi pertempuran yang menentukan.

Karena serangan pihak musuh semakin gencar, akhirnya pihak keamanan meminta Sutardjo memindahkan keluarganya ke tempat lebih aman. Maka keluarga Sutardjo diungsikan ke Tasikmalaya. Perjalanan dikawal ketat dengan menggunakan kereta api. Bupati Tasikmalaya RTS Sunaria adalah kawan seperjuangannya. Sebulan sekali Sutardjo menengok keluarganya di Tasik.

Pada akhir 1945, Menteri Dalam Negeri Wiranatakusumah menemuinya. Dengan sangat hati-hati dia berbicara tentang kemungkinan Presiden Soekarno membawanya ikut serta ke Yogyakarta, membantu pemerintah pusat yang mengungsi ke kota itu. Itu berarti jabatannya sebagai Gubernur Jawa Barat akan berakhir.

Sebetulnya, bagi Sutardjo tidak jadi masalah. Namun dia mencium adanya intrik politik. Kisahnya bermula dari seseorang yang ditolongnya hingga menjadi residen yang diperbantukan kepada Gubernur Jabar. Dia sering bolak-balik Bandung-Jakarta dengan menggunakan uang kas gubernuran, hingga Sutardjo tidak bisa memenuhinya lagi. Orang itu tampak tidak senang.

Karena pekerjaan yang berat dan kecapaian, Sutardjo sering jatuh sakit. “Rupanya kondisi saya itu dilaporkan orang itu kepada pemerintah pusat di Jakarta,” ujar Sutardjo. Maka suatu hari, tanpa memberi kabar sebelumnya, Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin datang ke Bandung untuk melihat keadaan Sutardjo yang sedang beristirahat di rumah sakit.

Sesuai dugaannya, maka yang diangkat Bung Karno sebagai pengganti Sutardjo sebagai Gubernur Jabar adalah orang yang ditolongnya itu. “Saya sendiri sampa hari ini belum pernah menerima surat keputusan presiden, yang memuata pemberhentian saya dari jabatan Gubernur Jabar,” tulis Sutardjo, seraya menyebut titi mangsa Agustus 1969.

Akan halnya gubernur penggantinya, ternyata tidak lama kemudian ditangkap polisi, dengan tuduhan menggelapkan uang negara. Akan tetapi karena ditolong relasinya, dia dibebaskan dari tahanan. Sebagai hukuman dia diberhentikan dari jabatannya. Sutardjo sendiri wafat pada 20 Desember 1976 di9 Jakarta. (Enton Supriyatna Sind)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: