Jumat, 22 Oktober 2021

KITA Anugrahkan Kosala Jayakarta kepada Bang Yos

Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso (tengah). Foto: KITA

JAKARTA.- Kerapatan Indonesia Tanah Air (KITA), menggelar KITARUPA yaitu pameran seni rupa yang digagas oleh Majelis Hikmah KITA, Kamis (10/12/2020). Pada pameran bertempat di Gembrong Seni itu, diserahkan penghargaan Kosala Jayakarta kepada mantan Gubernur DKI Jakarta, Letjend (Purn) Sutiyoso yang akrab disapa Bang Yos.

Penghargaan itu merupakan penghormatan yang diberikan pada seseorang atau lembaga, karena keteguhan, kebijaksanaan dan pengaruh kekuasaan yang ditimbulkannya. “Kosala Jayakarta untuk pertama kalinya diberikan pada  Bang Yo yang mengantarkan kota ini melewati pergantian milenium,” ujar Ketua Majelis Hikmah KITA, Taufik Razen, di Jakarta.

Taufik mengatakan, satu dekade bersejarah yang dilewati bersama Bang Yos saat menjabat gubernur tahu 1997 hingga 2007, merupakan era transformasi besar dalam berbagai sendi kehidupan. Pada masa-masa itu, Jakarta memiliki beban berat akibat krisis politik yang diikuti transformasi sosial. Juga krisis ekonomi yang merobek ketahanan budaya, lalu mengguncang sendi sendi kerapatan Tanah Air.

Kekuasaan pusat yang jatuh bangun,  membuat ibukota terancam kosong kekuasaan. Namun lantaran kepemimpinan yang mumpuni justru masa itu dapat dilewati secara damai, manusiawi dan beradab. “Kita mungkin mengenal beliau sebagai gubernur yang memperkenalkan busway, pengerukan kanal, atau penghijauan dan penutupan Monas, atau melarang kita merokok di tempat umum,” katanya.

Apa yang sesungguhnya Bang Yos lakukan, ujar Taufik, adalah melakukan revolusi jiwa, untuk mengantarkan kita dari sebuah kampung metropolitan menjadi warga kota megapolitan. Sebuah lompatan peradaban, meniti masa depan. ”Atas Jasa itulah dengan kerendahan hati, KITA melalui Gelaran KITARUPA 2020 ini, menyerahkan Kosala Jayakarta,” pungkas Taufik.

Risalah kemanusiaan

Sementara itu, Ketua Badan Kebijakan KITA, KH Maman Imanulhaq dalam orasi kebudayaannya menjelaskan tentang risalah kemanusiaan KITA. Anggota DPR RI dari Fraksi PKB ini mengingatkan kembali soal rasa simpati dan empati yang mulai terkikis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi di masa krisis saat ini nilai simpati dan empati perlu ditingkatkan untuk membantu sesama.

Selain itu adalah rasa malu. Menurut Kang Maman, begitu biasa ia disapa, pada dasarnya rasa malu adalah sumber kebenaran dan keadilan. Rasa malu akan menuntun manusia untuk berjalan sesuai dengan kaidah dan norma-norma agama dan bernegara.

Kerendahan hati adalah poin penting lainnya. Menjalani masa krisis akibat pandemi, perlu kerelaan yang menjadi modal untuk menumbuhkan moral kesusilaan dan nilai-nilao keadaban. Jangan sampai hidup didasari rasa egois, memikirkan kepentingan pribadi dan kelompoknya saja.

“Manusia harus dididik untuk memiliki rasa bersalah. Siapa yang tidak memiliki rasa bersalah, berarti dia bermasalah. Jangan sampai ada orang yang merasa nyaman meski ia bersalah. Rasa bersalah ini yang kemudian menuntun manusia untuk tidak melakukan aktivitas yang melanggar norma-norma sosial dan hukum,” ujar pengasuh Ponpes Al-Mizan Majalengka ini. (Sup)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: