Sabtu, 15 Mei 2021

Dewi Sartika: Perempuan Sunda pun Ingin Maju (3-Habis)

Sakola Kautamaan Istri. Foto: id.pinterest.com

CEMOOHAN terhadap profesi guru perempuan tidak membuat Dewi Sartika goyah, apalagi mun­dur dari aktivitasnya. Semangatnya malah semakin menggebu-gebu untuk mewujudkan harapan-harapannya. ”Tatapi nu ngarang teu pisan galideur, unggut kalinduan, gedag kaanginan, sabab geus jamak baè anu hirup tèh, najan sakumaha hadè bageurna gè, sok aya baè nu dengki. Mungguh di bangsa urang nu matak dengki batur tèh aya tilu; banda, bagja, rupa.” (halaman 12).

Dia berpikir keras, bagaimana caranya agar para orangtua mau menyekolahkan anak-anak perempuannya. Bagaimana pula supaya anak-anak perempuan itu mau bersekolah hingga selesai. Materi pelajarannya juga menjadi bahan pemikiran Dewi agar membuahkan hasil yang sesuai dengan harapan. Selain itu, agar masyarakat makin percaya pentingnya pendidikan bagi kaum hawa.

Dia tidak sungkan untuk bertanya kepada berbagai kalangan. Bertukar pikiran dengan para sesepuh, orang-orang pintar, para seniman budayawan, bahkan kepada para bupati. Dia berterus terang, sebetulnya sungkan melakukan hal itu. Namun, mau tidak mau, Dewi harus menjawab pertanyaan: apa sesungguhnya yang dibutuhkan perempuan agar hidup mereka tidak sengsara?

Pada 1910 berdiri perkumpulan”Kautamaan Istri” atas inisiatif inspektur sekolah yang baru, yakni JCJ van Bemmel. Dewi Sartika terlibat aktif di dalamnya. Tujuannya untuk lebih memajukan pendidikan kaum perempuan. Perkumpulan ini ­mengelola sekolah bagi kaum perempuan. Untuk mendukung kegiatan tersebut, dilakukan pengumpulan dana. Ini merupakan salah satu jawaban atas usaha keras Dewi Sartika.

Masa perjuangan Dewi Sartika bersamaan pula dengan tumbuhnya kesadaran baru di tengah masyarakat Indonesia untuk mengubah nasib melalui gerakan terorganisasi. Pada tahun 1905, berdiri Sarikat Dagang Islam (SDI), pada 1908 lahir Budi Utomo, dan 1912 dideklarasikan Sarikat Islam (SI). Orang-orang pribumi bermunculan menjadi tokoh penting di kancah nasional.

Figur semacam Abdul Rivai, misalnya, menjadi salah satu referensi bagi dunia pergerakan. Pemuda asal Agam, Sumatra Barat (1871) tersebut merupakah orang Indonesia pertama yang lulus dari sekolah kedokteran di Belanda dan kemudian meraih gelar doktor (S3). Pada tahun 1910, Abdul Rivai bertugas sebagai dokter militer di Cimahi, lalu Cicadas, dan selanjutnya berpindah-pindah tempat pekerjaan.

Dia juga seorang jurnalis dan aktif di dunia politik. Istilah ”kaum muda” sering muncul dalam berbagai tulisannya dan menjadi tren di kalangan masyarakat. Istilah itu menunjukkan semangat untuk tampil sebagai pelopor bagi kemajuan bangsa. Abdul Rivai meninggal dunia di Bandung pada tahun 1937. Namanya diabadikan sebagai nama jalan di daerah Pasirkaliki, Kota Bandung.

Dewi memang melek informasi tentang dunia pergerakan dan tokoh-tokohnya. Dia menyerap betul semangat yang dikobarkan oleh tokoh semacam Abdul Rivai. Dia mengakui terus terang bahwa kaum muda membuatnya makin tegar. ”Sumawona barang geus rame basa ‘kaum muda’, beuki pangger hatè tèh.” (halaman 12).

Ada harapan

Lalu apa yang dimaksud dengan kaum muda dan apa keinginan mereka? Menurut Dewi Sartika, yang disebut kaum muda adalah bangsa pribumi, pria atau wanita, berasal dari suku mana pun, yang punya kemauan untuk memuliakan diri. Kemauan itu muncul karena mereka punya semangat dan ilmu pengetahuan.

Kaoem moeda djolna ti djelema pinter, njaèta hidji oerang Malajoe, ngaranna Abdoel Rivai; tina kapinteranana djeung temen wekelna sarta tjoetjoed kana ngoelik pangarti, ajeuna nepi ka bisa djadi Dokter Militair di Tjimahi, paloenggoehanana teu beda djeung dokter-dokter Eropa. Koe sabab èta noe ngarang harita beuki pangger njekel bebeneran sorang­an, sebelong-bèntor miloe ngeureujeuh dina djaman kemadjoean.” (halaman 17).

Dewi juga mengisahkan sosok terkenal dari Amerika yang bernama Thomas Alva Edison, sang penemu lampu pijar. Kegigihannya dalam mempelajari sesuatu bidang membuatnya berhasil dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Walaupun saat itu kondisi bangsa Indonesia bagai bumi dan langit jika diban­ding­kan dengan bangsa Amerika, bukan tanpa harapan.

Tapi teu mustahil, teu kapanggih ku urang, sugan ku anak incu. Sabab di jaman ayeuna ogè geus mimiti bangsa urang maju, kaserepan kapinteran bangsa èropa. Tapi rèrèana bangsa pameget, nyaèta putra-putra mènak atawa anu baleunghar, ari istri mah tacan pati rèa,” kata Dewi Sartika (halaman  23). Tampak sekali optimisme seorang perempuan dengan semangat baja.

Kisah tokoh-tokoh seperti itu menjadi  inspirasi bagi Dewi Sartika dan memompa semangat murid-muridnya. Dengan demikian, Dewi makin kuat berjalan dengan keyakin­an sendiri dan berusaha sebisa mungkin melangkahkan kaki pada zaman kemajuan. Se­men­tara, yang dipikirkan siang dan malam tiada lain tentang sekolah perempuan.

Untuk mengidentifikasi penyakit yang ada di tengah masyarakat, Dewi Sartika mengutip pendapat seorang dokter bernama Saleh. Menurut sang dokter, penyakit itu ada dua. Pertama, penyakit bawaan sejak seseorang lahir ke dunia. Penyakit seperti itu disebut penyakit turunan. Penyakit dimaksud adalah adat dan tabiat yang meng­ikuti orangtua mereka.

Kedua, penyakit dan adat kebiasaan yang datang belakangan, seperti halnya sakit kepala, sakit perut, sakit lambung, dan sebagainya.  Kedua macam penyakit tersebut bisa diobati dengan berbagai cara dan upaya. Seorang anak yang dijaga jeung ditarèkahan akan berbeda cara pandang dan wawasannya dibanding­kan dengan anak lain yang dibiarkan tumbuh begitu saja.

Demikian pula dengan anak-anak Sunda yang hidupnya terurus dan tumbuh de­ngan baik, akan mampu juga mengimbangi orang Eropa. Sebaliknya, jika tidak diurus sebagaimana mestinya tentu akan gampang diserang berbagai penyakit. Kepribadian dan wawasannya tidak akan berkembang dengan baik.

Tampak pemikiran-pemikir­an Dewi Sartika begitu maju melampaui zamannya dan masih tetap aktual. Ketika sekolah yang dikembangkannya terus tumbuh dan lulusannya tersebar di berbagai tempat, Dewi Sartika sekeluarga harus meninggalkan Bandung terkait dengan peristiwa Bandung Lautan Api tahun 1946.

Keluarga tersebut meng­ungsi ke beberapa tempat dan akhirnya tiba di Cineam, Kabupaten Tasikmalaya. Dewi meninggal dunia pada tanggal 11 September 1947. Pada 1951, jasadnya dipindahkan ke Bandung. Atas peranannya dalam pendidikan kaum perempuan, pemerintah mengangkatnya sebagai pahlawan nasional pada tahun 1966. (Enton Supriyatna Sind/”PR”)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: