Minggu, 16 Mei 2021

Kenali Pertanda Alam, Waspadai Kondisi Alam

ilustrasi

BEBERAPA petambak di pantai selatan Jawa Barat, berkisah tentang sejumlah pertanda sebelum bencana tsunami datang pada tahun 2006. Kata mereka, di sejumlah kampung anjing-anjing menggonggong selama tiga malam berturut-turut, dengan lengkingan yang membuat bulu kuduk berdiri. Sementara burung-burung terbang gelisah meninggalkan kerimbunan pohon di sepanjang pantai.

Para pemilik tambak ikan dan udang heran, sehari sebelum tsunami menerjang, satwa-satwa berhamburan keluar dari lubang-lubang sekitar tambak mereka. Seperti halnya tikus, kecoa, kepiting, dan sejenisnya. Kegelisahan juga melanda satwa-satwa yang ada di Cagar Alam Pananjung Pangandaran. Tapi pesan-pesan itu gagal ditangkap.

Orang-orang baru menyadari adanya pemberitahuan yang dikirim alam itu setelah musibah terjadi. Padahal pertanda tersebut memiliki inti pesan yang seragam: segera selamatkan diri, karena bencana sebentar lagi datang! Tapi semuanya sudah kasip, penyesalan selalu datang kemudian.

Lemahnya sinyal dalam menangkap pertanda,  diperparah dengan perilaku tidak bersahabat pada lingkungan. Sebagai contoh, pada tahun 1980-an, alam Pantai Kalapagenep, Kec. Cikalong, Kab. Tasikmalaya kaya dengan pepohonan seperti kopo, waru, ketapang, dan pandan. Berjejer rapat seperti benteng alam yang melindungi warga dari terjangan gelombang.

Tetapi setelah muncul aktivitas penyadapan gula kelapa, semuanya berubah. Mereka membutuhkan kayu bakar. Ketika persediaan habis, warga menebangi pohon di pinggir pantai hingga habis. Maka jadilah pantai sebagai daerah terbuka. Ketika tsunami datang, tidak ada pemecah yang memperlemah laju gelombang. Berbeda kondisinya dengan permukiman yang pantainya terlindungi pepohonan.

“Alam  mempunyai karakteristik yang khas   dan berbeda pada setiap waktu tertentu. Mempunyai tanda‐tanda khusus  dan jika  satu sama lain dihubungkan, bisa  disimpulan untuk kewaspadaan  dini yang sangat bermanfaat,” ujar  Anggota Tim Ahli PPK DAS Citarum, Supardiyono Sobirin, Minggu (15/11/2020).

Pakar dari Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), rajin menyebarkan informasi praktis berkaitan dengan lingkungan melalui media sosial. Termasuk informasi tentang kearifan lokal yang dihimpunnya dari berbagai sumber. Dia menulis tentang  membaca fenomena alam untuk kewaspadaan dini di musim hujan.

Sejumlah pertanda

Nenek moyan zaman dulu  mampu membaca tanda‐tanda  alam. Hal itu berguna untuk kewaspadaan dalam   kegiatan sehari‐hari dan kemungkinan adanya ancaman mara bahaya  terutama pada musim hujan. Jika angin berhembus  dingin lembab di daerah  pinggir sungai, dan air sungai  kelihatan keruh pertanda hujan sudah turun di hulu sungai.

Hewan juga memberi pertanda pada manusia. Misalnya jika anjing menggali tanah atau menyembunyikan tulangnya, pertanda cuaca akan buruk. Sementara itu kalau anjing‐anjing menyalak dan panik tidak seperti biasanya,  pertanda akan terjadi  bahaya. Kemungkinan  akan ada gempa bumi. Hewan lain yang memberi pertanda adalah ayam.

Ayam   yang berteduh  pada   saat hujan, ungkap Supardiyono Sobirin, pertanda hujan akan berlangsung lama. Jika hewan ini mencakar‐cakar tanah  berarti hujan akan datang.  Ayam tetap mencari makan meski saat hujan, pertanda hujan akan berlangsung sebentar saja.

Bebek  dan angsa nampak tidak tenang dan selalu  menggigit bulunya, pertanda akan datang cuaca buruk. Sedangkan burung‐burung terbang tak beraturan  pertanda akan terjadi  bencana alam. Misalnya kebakaran       hutan,  gempa bumi atau gunung meletus. Sebaliknya, burung‐burung berkicau bersahutan pagi,  pertanda         cuaca akan cerah.

Kondisi cuaca yang baik, juga bisa dilihat dengan pertanda yang ditunjukkan asap. Apabila  naik dengan tegak lurus dan tinggi sekali maka cuaca pada hari itu akan tetap baik. Namun jika  asap  rendah mendatar dengan tanah, pertanda cuaca akan buruk.

Kambing dan lalat

Menurut Supardiyono, kalau bau kambing  tercium dari jarak yang lebih  jauh, pertanda akan turun hujan. Sedangkan akan berdiam dalam air  pada cuaca buruk, dan berdiam di tepi kolam  pada   cuaca   baik.

Kelelawar terbang mulai awal senja  pertanda cuaca akan  baik pada malam itu. Apabila mereka berdiam di dalam goa pertanda cuaca akan   buruk. Cuaca buruk juga akan terbaca sebelumnya, dengan melihat kucing yang  duduk membelakangi  api sambil mengusap‐usap kepala    dengan kaki depannya.

Laba‐laba akan bersembunyi bila cuaca akan buruk, dan rajin  mengerjakan sarangnya apabila cuaca  baik. Sementara jika lalat hinggap diam di dinding   pertanda akan turun  hujan. Sedangkan pada cuaca  baik mereka akan berterbangan.

“Kalau nyamuk terbang mengganggu  atau menggigit kita pada pagi hari pertanda  akan turun hujan. Jika saat matahari terbenam  nyamuk berterbangan berduyun‐duyun pertanda cuaca akan baik,” demikian tulis Supardiyono Sobirin. (Enton Supriyatna Sind)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: